Seni Sebagai Bagian Keindahan Kota

ilustrasi

Oleh : Ditya Danes

Seni itu tidak bisa dinilai atau tidak ternilai, ya saya setuju. Makanya saya tidak heran ketika ada Pangeran Bader dari Arab Saudi yang membeli lukisan Yesus (Salvator Mundi) seharga 6 Trilyun. Pembelian ini diketahui sebagai pembelian lukisan Yesus termahal. Saya yang Kristen, seandainya saya trilyuner, tidak akan membeli itu lukisan, karena menurut saya, lukisan itu biasa saja tidak ada seninya sama sekali. Ada yang protes pembelian lukisan super mahal tersebut? tidak ada. Serah lah wong duit duit dia sendiri. Paling sobat misqueen hanya bisa bilang wwwooowwww...eman eman ya uang segitu cuma beli lukisan. itu aquuuuu 

Lukisan Pollock, yang kelihatannya hanya seperti itu adalah lukisan yang terjual paling mahal dalam sejarah dan ada yang beli. Salahkah menjual dan membeli karya seni mahal? tidak ada.

Saya lebih memilih membayar mahal tiket untuk menonton sendratari Ramayana di Candi Prambanan daripada menonton konser Westlife. Kenapa? Ya karena saya suka tarian tradisional, mahal tapi serah sih wong duit saya pribadi.

Akan tetapi, soal selera seleraan sebuah seni atau apalah ini, menjadi masalah jika selera tersebut dibiayai oleh uang negara yang juga uang rakyat, tentunya harus ada batasan yang akuntable. Makanya di pemerintahan, sebuah proyek ada yang namanya lelang. Salah satu tujuannya supaya biayanya efektif, efisien dan transparan. Setinggi apapun selera seorang pejabat negara, jika sudah dibiayai oleh uang negara maka tetap harus bisa dipertanggung jawabkan. Karena itu, menjadi seorang pejabat negara harus pintar memadukan hal hal yang menjadi kebutuhan rakyat sambil menjaga akuntabilitas, kepatutan dan kepatuhan keuangan.

Jangankan di pemerintahan, di suatu perusahaan swastapun soal selera seleraan ini juga gak bisa loos putul terserah saya. Tetap yang namanya manajemen di suatu organisasi dasarnya adalah pertanggungajawaban yang akuntable, bukan selera saya atau selera dia. Tapi yang jelas, Indomie tetap selera kita...

Sumber : Status Facebook Ditya Danes

Friday, July 19, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: