Seni Presiden Jokowi dalam Berkuasa

ilustrasi

Oleh : Idam Kolik

Kendati Edwin Mc Staton sering menghina Abraham Lincoln dengan sebutan "si kera bertangan panjang atau si jerapah jelek", tetapi Abraham Lincoln tidak pernah sakit hati dengan musuh politiknya itu dan justru mengangkat Stanton menjadi Menteri Pertahanan saat Lincoln berkuasa di Amerika (1809-1865), saat Amerika dilanda Perang Saudara.

Begitu juga Pak Dhe. Walau pengikut Prabowo sering menghinanya "China, Kristen, PKI, plonga plongo, banci dsb", Pak Dhe tidak sakit hati, dan justru mengangkat Prabowo sebagai pembantunya, Menteri Pertahanan, saat beliau terpilih kembali menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Ya politik bukanlah soal hitam-putih, benar-salah, Islami-kafir sebagaimana orang-orang naif melihat, tetapi adalah seni berkuasa, the art of power.

Ibarat petinju, Jokowi bukanlah seperti Mike Tyson yang buas, tetapi lebih menyerupai Muhammad Ali yang lihai. Beliau tahu kapan harus memukul, kapan harus merangkul. Yang penting tahu-tahu musuh sudah terkapar KO atau TKO.

Doa kami, semoga di akhir karier beliau, Pak Dhe tetap sehat-sehat saja, tidak menderita parkinson seperti Muhammad Ali dan bisa ikut menyaksikan Indonesia jaya...

Kata pepatah, "Tidak ada pemenang yang tidak penuh sayatan luka." 

Ndoro Beinow "DEKATLAH PADA KAWAN DAN LEBIH DEKATLAH PADA LAWAN"

Patriot sejati tak peduli dengan caci-maki, karena semua untuk negeri.

Orang bijak apabila melihat kesalahan orang, akan mencari sisi kebenarannya, namun orang picik dan pecundang jika melihat kebenaran akan mencari sisi kesalahannya.

Kesalahan atau kekhilafan seseorang pasti mempunyai sisi kebenaran dan kebaikan.

Tidak ada manusia yang absolute steril dari kesalahan.

Sumber : Status Facebook Idam Kolik

Sunday, October 25, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: