Seni Menyampaikan Pikiran

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat Lc MA

Kadang saya terpaksa harus jujur bahwa masih banyak teman-teman sesama muslim yang belum terbiasa berdiskusi secara sehat.

Seringkali dalam menyampaikan gagasan, terbawa emosi, serta obsesi yang sangat lekat. Sehingga penilaian menjadi subjektif.

Pengaruh like and dislike yang sejak awal sudah terbentuk duluan, seringkali jadi penghalang objektifitas dalam menilai.

Masih kita saksikan ketika diskusi, lontaran makian, cibiran bahkan hujatan, yang digelar secara terbuka, dengan menyebut nama lawan diskusi.

Kadang tanpa memahami konteksnya, langsung serang saja. Tidak lihat kanan kiri, tidak paham alur ceritanya.

Hanya berbekal sebuah status, langusng maki, hujat, habisi dan bunuh karakter.

Mungkin karena sejak awal sudah dipengaruhi ketidak-sukaan, akhirnya apapun kasusnya, pokoknya tolak duluan. Ujung-ujungnya diskusi ilmiyah berubah forum untuk menumpahkan kekesalan.

 

Lucunya, orang-orang tidak tahu duduk masalahnya pun merasa wajib ikut menumpahkan kekesalannya.

Padahal tidak punya pemikiran yang utuh dan orisinal. Hanya ikut-ikutan saja.

Boleh jadi karena tidak punya pemikiran itulah makanya kalau menyampaikan pemikiran jadi kurang halus. Kasar dan sradak-sruduk.

Sikap semacam ini sulit juga diredam. Kadang ada dua teman yang adu argumen dengan cara kurang sehat. Tiba-tiba saya yang tidak tahu urusan, ikut dimaki-maki habis.

Saya tanya, memangnya saya salah apa ke ente kok memaki saya sampai sakit perut begitu?

Rupanya lawan debatnya telah menggunakan statemen saya dalam rangka perang melawannya. Akibatnya saya kena getahnya.

Yang ribut siapa, yang dimaki-maki siapa. Lucu sekali.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Thursday, September 10, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: