Seni Medsos

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Seni Itu Netral, Tergantung Niat dan Persepsi)

"Saya sakit hati, Pak Jokowi. Bapak suatu saat akan seperti saya. Kembali ke masyarakat," ujar seorang Bapak bekas 'orang gede' dalam youtube.

Ini gara2 beliau merasa dituduh dalangi demo Penolakan UU Cipta Kerja. Pak Jokowi meski tahu dan dengar omongan itu, sama sekali ndak merespon. Gak ngurus karena ndak penting . . .

Punggawa partainya, AA, ndak terima, kirim 'cuitan'. Ngeyel sekaligus ngancam.

"Kalau sampai tidak ada klarifikasi dari pak Mahfud MD, pak Airlangga, pak Luhut, BIN, atas tuduhan bahwa pak SBY, AHY, dan Demokrat yang difitnah di belakang demo besar ini, maka tidak ada jaminan ketegangan politik mereda,"

Mahfud MD membalas cuitan dengan 'gaya'nya yang khas, Meduro-an. Thas-thês.

"Klarifikasi macam apa yang diminta Mas AA. Tak seorangpun diantara kami pernah bilang pak SBY atau AHY sebagai dalang atau biayai unras. Sebaiknya tolong diklarifikasi kapan kami bilang begitu. Kalau ada akan kami selesaikan. Itu kan hanya di medsos-medsos yang ndak jelas," cuit pak Mahfud . . .

Ya kan ? Cuma gara2 'medsos' . . .

Yang bikin grêgêtên, dari medsos pula, balas cuitan balasan si AA, yang pendek dan yang ndak 'sumbut' dengan 'ancamannya'.

"Terima kasih pak Prof Mahfud MD," tambah emoji telapak tangan ditangkupkan.

Netisen pun membalas, "Jawab dong, pak AA. Kalau cuma terimakasih saja, kasir Indomart juga bisa . . ."

Begitulah medsos. Arena orang omong apa saja. Sekenanya. Semaunya. Seingatnya. Meski seharus dan sebaiknya ndak boleh begitu. Apalagi jika dilakukan oleh tokoh masyarakat.

Sebaliknya tokoh masyarakat harus juga bijak merespon cerita2 yang seliweran di medsos.

Bagi saya cuitan atau komen di medsos adalah 'seni'. Art. Seni cara sampaikan pendapat atau ide. Bagus tidaknya tergantung dari 'isi' dari orang dan nilai yang disampaikan.

Dan 'seni' itu mesti 'netral'. Tergantung dari niat dan persepsi.

Sudah pada mahfum jika masyarakat, utama-nya di medsos, terpolarisasi. Terbagi jadi 2 kelompok ekstrim. Meski banyak juga yang ada di-tengah2. Netral.

Mereka menyebut kelompok sendiri dan yang ada di seberang, sebagai 'Cebong' dan 'Kampret'. Entah karena apa, 'Kampret' berubah atau diubah jadi 'Kadrun'. Katanya akronim dari Kadal Gurun.

Nah, terkait dengan pemakaian nama Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, jadi nama salah satu jalan di Abu Dhabi, muncul saling silang komen para Cebong dan Kampret.

Saya katakan seni medsos itu netral. 'Rasa' komen2 mereka, tergantung bagaimana cara men-sikapi-nya. Ini mungkin juga tergantung dari 'kubu' mana kita berasal.

Tergantung pula kedewasaan kita. Tergantung tingkat selera humor kita. Apakah kita juga termasuk yang mudah 'tersulut' atau tidak . . .

"Makanya jangan memusuhi Kadrun. Kan yang kasih nama termasuk Kadrun juga . . ." Komen para 'Kadrun' dengan enteng dan jenaka.

Cebong ndak mau kalah. Kalah ngeyel dan kalah lucu. Menjawab cepat. Sekenanya.

"Eh, jangan salah ya. Yang kami olok-olok itu Kadrun yang KW. Yang 'titit'nya kecil . . ."

Meski ndak begitu jelas maksudnya, tapi bisa saya rasa, dengan sedikit tanda tanya . . .

"Mosok sih . . . ?"

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Saturday, October 24, 2020 - 11:45
Kategori Rubrik: