Sengketa Pemilu Koq Menang

ilustrasi

Oleh : Efron Bayern

Prof. Edward Omar Sharif Hiariej alias Prof. Eddy mengatakan “Seorang gurubesar (hukum) yang pertama harus dikuasainya bukan bidang ilmunya, tetapi yang pertama-tama adalah asas dan teori, karena dengan asas dan teori itu ia bisa menjawab semua persoalan (hukum).”

Rupanya anggota tim kuasa hukum 02 Dr. Denny Indrayana berangkat dari asas dan teori yang salah dalam mengajukan PHPU di MK tempo hari secara kasat mata. Sila lihat gambar yang saya lampirkan di bawah. Judul buku itu “Strategi Memenangkan Sengketa Pemilu di Mahkamah Konstitusi”. Di sini Denny tidak mampu membedakan satu kata yang mendapat imbuhan me-kan dan me-i. Denny berangkat dari pijakan asas dan teori yang salah. Tak pelak lagi Hukum Murphy memalu kepala Denny. Kliennya (atau prinsipalnya) kalah di MK.

Baca lagi: “Strategi Memenangkan Sengketa Pemilu di Mahkamah Konstitusi”. Siapa yang menang? Makna me-kan dalam “memenangkan” adalah “membuat jadi”. Secara logika berbahasa yang menang dalam kalimat itu adalah “Sengketa Pemilu”, bukan “Denny” atau “Kliennya”. Kalimat yang benar: ““Strategi Memenangi Sengketa Pemilu di Mahkamah Konstitusi”. Makna imbuhan “me-i” dalam “memenangi” adalah mendapat (ke)menang(an).

Secara lebih tegas dan jelas saya berikan dua contoh penggunaan “memenangkan” dan “memenangi”:

1. Jokowi memenangi Pipres. Mayoritas rakyat Indonesia memenangkan Jokowi.
2. FC Bayern memenangi pertandingan. Gol tunggal Thomas Müller memenangkan FC Bayern.

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Monday, July 1, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: