Semua Karena Ahok

Oleh: Zulkarnain Fahmi
 

Saya meyakini betul, setiap kejadian yang terjadi adalah atas kuasa qodrat irodzat Tuhan. Tak ada yang serba kebetulan di dunia ini. Semua persoalan yang didatangkan Tuhan itu, tujuannya agar kita bisa memahami yang tersurat maupun yang tersirat, baik secara syariat maupun hakikat. Tinggal sejauh mana kita melihat dan menangkapnya. Sesuai batas pemahaman dan keyakinan masing-masing. Semua jadi bagian ayatul alam. 
Tak terkecuali peristiwa politik yang saat ini sedang menghangat. Dalam sejarah, pilkada DKI kali inilah yang paling heboh dan menggemparkan. Di provinsi lain sudah adem ayem, di Jakarta buntutnya masih kemana-mana. Dari mulai proses penjaringan, pendaftaran, kampanye, pencoblosan, penghitungan suara, hingga penetapan pemenang. Oh, luar biasa melelahkannya.

 

 

Semua itu tak lepas dari satu nama; AHOK. Ya, karena Ahok lah dua tahun belakangan ini, hampir semua media massa baik televisi, cetak, online, radio, dan medsos begitu gegap gempita mewartakan peristiwa demi peristiwa yang ditimbulkan. 
 Di kantor, beranda rumah, kampus, sekolah, warung makan, taman, tempat arisan, pangkalan ojek, angkot, tempat nongkrong, cafe, pos ronda, hingga masjid, orang membicarakan Ahok. Ada yang mengidolakan, ada yang menentang habis-habisan. Ada yang sepakat, ada yang melaknat. 
Kendati yang memilih hanya warga Jakarta, namun gaung dan ributnya sampai ke pelosok negeri. Semua seolah ikut merasakan, baik yang suka maupun tidak. 
Ahok lah yang dituding sebagai ujung pangkal kegaduhan itu. Pria bernama Basuki Tjahaja Purnama itu pun jadi buah bibir se antero Indonesia, bahkan di beberapa negara.

Karena Ahok lah, surah Al Maidah ayat 51 ramai dibincangkan. 
Karena Ahok lah, muncul gerakan shalat subuh berjamaah. 
Karena Ahok lah, demo di Jakarta sampai berjilid-jilid dengan nomor cantik.
 Karena Ahok lah, kata kafir dan munafik bertebaran saban hari. 
Karena Ahok lah, ramai perdebatan tafsir awliyya. 
Karena Ahok lah, fatwa MUI jadi kontroversi. 
Karena Ahok lah, ahli bahasa sibuk menerjemahkan "Jangan mau dibohongi pakai". 
Karena Ahok lah, Buni Yani yang dulu dosen kini berjualan mug. 
Karena Ahok lah, tiba-tiba ada slogan Bela Islam dan Bela Ulama.
Karena Ahok lah, dulu benci FPI sekarang simpati setengah mati. 
Karena Ahok lah, Al Maidah jadi merek roti dan tamasya. 
Karena Ahok lah, sekelompok orang ditangkap disangka makar. 
Karena Ahok lah, Equil dianggap minuman keras. 
Karena Ahok lah, Sari Roti diboikot namun tetap laris di Indomaret dan Alfamart. 
Karena Ahok lah, Inul dibully tak saja oleh Bang Rhoma. 
Karena Ahok lah, ada sebutan bani taplak dan bani bumi datar. 
Karena Ahok lah, restoran waralaba internasional, Pizza Hut jadi Fitsa Hats.
 Karena Ahok lah, ada satire "Stres dia Kak Ema".
Karena Ahok lah, jenazah ditolak disholatkan di masjid. 
Karena Ahok lah, ada lebaran kuda. 
Karena Ahok lah, sang mantan kerap curhat. 
Karena Ahok lah, balai kota DKI banjir karangan bunga. 
 Karena dia Ahok, kini dia dipenjara.

Kalau niat dicatat, wah bisa panjang lagi sebab dan akibat yang pangkal ujungnya terkait dengan Ahok. 
Itulah ayat Tuhan. Semua sudah terjadi. Bisakah kita tahu inti dari hikmah yang tersirat? Pahamkah kita kenapa Tuhan membuat semua rangkaian kejadian tersebut? Bukankah agar kita bisa membedakan mana kulit mana jeroan. Mana syariat mana hakikat. Mana pengecut mana kesatria. Kita bisa belajar tentang makna keberanian, keteguhan, dan ketegaran. Kita bisa memilih, menyimpan dendam atau memaafkan, membenci atau mengasihi, mengutamakan ageman atau pembuat pakaian. 
Kita musti punya kesadaran untuk mawas diri. Mawas akan pikiran, laku, dan karakter diri. 
Lantas, sudah rampungkah semua hiruk pikuk itu? Belum. Masih akan banyak lagi peristiwa yang bakal memanaskan. Itulah proses demokrasi di negeri ini yang musti dilalui. 
Bangsa ini memang sedang ditempa untuk menjadi "tua" agar matang dan memasuki fase sepuh. 
Selamat berproses menjadi TUA.

Terima kasih Pak Ahok. Saya ada pesan buat Anda yang barangkali bisa sampai ke balik jeruji besi.

:: "Pelayan yang hebat itu ketika semua pelanggan hengkang, ia tetap berjiwa kesatria melayani dalam situasi apapun dan di manapun."

Salam

 

(Sumber: facebook Zulkarnain Fahmi)

Thursday, May 11, 2017 - 23:45
Kategori Rubrik: