Semua Akan Syiah Pada Waktunya

Oleh: Niken Satyawati
 

Dinamika politik Indonesia akhir-akhir ini ngeri-ngeri sedap, sejak sentimen agama dipakai sebagai alat untuk bertahan dan juga menyerang lawan politik. Agama diperkosa sedemikian rupa dan Tuhan dipaksa ikut mendukung calon dalam Pilkada. Ajaran agama ditafsirkan seenak udelnya sesuai kepentingan politik dan yang beda pemahaman dicap sebagai bukan golongan orang yang akan masuk surga. Agama menjadi senjata yang paling ampuh dan efektif untuk mendulang suara, karena orang ditakut-takuti kalau tak mencoblos Si Anu bakal masuk neraka. 

Kasus yang masih hangat adalah dicapnya Ridwan Kamil sebagai penganut syiah, hanya karena dia menerima Partai Nasdem sebagai pendukung. Buzzer-buzzer yang merupakan lawan politik Nasdem dengan kedok agama mencap Kang Emil dan istrinya sebagai syiah dalam sebuah komentar di media sosial.  Kang Emil yang kini masih menjabat Walikota Bandung, memang digadang-gadang maju sebagai calon gubernur Jawa Barat. Belakangan, Kang Emil membawa kasus ini ke meja hijau. Kang Emil memang gitu orangnya. Netizen itu menyinggung istrinya. Dan prinsip Emil adalah gk boleh ada orang yang mengusik keluarganya.

 

Mencap orang lain sebagai kafir, syiah, sesat, liberal, PKI sudah menjadi kebiasaan sejumlah orang yang sok paling religius dan paling benar dalam beragama. Di kalangan muslim tertentu, mendapat predikat syiah dan juga liberal memang momok, aib. Nggak peduli bahwa orang syiah pun berhaji, sama dengan orang yang non syiah, dan mereka adalah golongan  mayoritas di sejumlah negara. Orang non syiah menganggap syiah sesat, padahal orang syiah melihat orang non syiah yang justru sesat. Di negara yang mayoritas penganut non syiah, orang syiah tak beranoi bersuara. Namun kondisi sebaliknya terjadi di negara-negara yanga mayoritas penduduknya syiah.

Ya, orang di sini begitu ringan memberi stempel muslim lain sebagai syiah. Mereka merasa baik-baik saja dan sah-sah saja melakukannya, terutama di media sosial, karena di situ mereka tidak bisa melihat ekspresi orang yang sedang dicaci-maki dan dilabeli dengan sebutan-sebutan itu. Mencap orang dengan gelar-gelar tersebut akhirnya menjadi model dan menginspirasi orang lain untuk membunuh karakter mereka yang tak sepemahaman.

Bukan main-main, anak kemarin sore yang habis sunat atau baru kenal dengan ajaran berjilbab saja berani mencap ulama-ulama besar dengan gelar-gelar itu. Dan lucunya tak sedikit orang bodoh yang terpengaruh. Mereka tak peduli Kiai Said Aqil Siraj, KH Quraish Shihab, Buya Syafii Ma’arif itu puluhan tahun mendalami agama dan melakukan dakwah dengan cara mereka, dan syiar Islam di Indonesia ini tak bisa dilepaskan dari peran mereka. Mereka yang penuh kasih dalam menjalankan dakwah, bukan yang melempar batu dan membakar rumah orang yang tafsir ajaran agamanya berbeda.

Dalam suasana Pilkada, kebiasaan memberi stempel syiah-sesat-liberal-kafir-PKI ini dikolaborasikan dengan sentimen menyangkut etnis tertentu menjadi model yang efektif dan murah meriah untuk memepengaruhi orang-orang uneducated agar memilih atau tak memilih paslon tertentu. Ketakutan ketika semua kalkulasi menandakan bakal sulit untuk memenangkan paslon dalam Pilkada, jalan terakhir adalah menggunakan sentimen agama. Dan setelah sukses membuat karut marut Pilkada DKI dengan isu agama, di Jabar rupanya model ini dilakukan sedini mungkin. Dan akhirnya, siapapun bila menjadi lawan politik golongan tukang stempel ini, tinggal menunggu saja, maka lambat atau cepat kalau non muslim akan diberi cap kafir dan tak boleh dipilih karena Al Maidah 51. Dan kalau muslim, akan mendapat cap syiah juga pada waktunya nanti.

(Sumber: Facebook Niken Satyawati) 

Friday, March 24, 2017 - 09:00
Kategori Rubrik: