Semoga Kita Tak Jadi pengungsi

Oleh: Niken Satyawati

 

Salah satu kenyataan yang saya temui di balik keindahan Kota Paris adalah kehadiran para pengungsi. Mereka ada di sudut-sudut stasiun kereta api, di depan toko-toko dan juga tempat-tempat wisata.

Hari sudah malam ketika saya tiba di stasiun E-Toillette de Granelle. Hanya 50 meter dari stasiun itu menuju hotel tempat saya menginap. Langsung pilu menemukan pria tua berwajah Arab mengais sampah. Dia menenteng kasur lipat yang basah terkena hujan.

 

 

Di sepanjang jalan dari hotel menuju Menara Eiffel juga saya dapati para pengungsi itu. Ada yang mengemis. Ada yang hanya tidur diam di bawah pohon-pohon besar, di pojokan bangunan besar atau di emperan toko. Ada yang mendirikan tenda kecil juga.

Airmata saya keluar ketika melihat seorang ibu bawa 3 anak masih kecil-kecil . Mereka tidur bersandar pada bangunan, berbagi selimut yang besar. Padahal suhu saat itu kalau malam berkisar antara -1° hingga 7°. Dan kalau siang hari dan ada matahari bisa sampai 11•. Gak terbayang betapa dinginnya. Usia anak-anak itu mungkin masih setara TK dan SD. Apakah si kecil mampu bertahan di tengah cuaca seperti itu?

Warga setempat mengatakan, para pengungsi itu datang dari negara-negara konflik. Mereka ingin lari dari perang. Tapi kenyataan hidup di pengungsian tak seindah bayangan saat melarikan diri dari negaranya.

Saya ingat tiga anak-anak yang saya tinggalkan di rumah. Mereka tidur nyaman dengan selimut yang tebal. Paginya mereka bisa bangun dan pergi ke sekolah untuk belajar mengejar cita-cita. Negara aman dan tenteram tak ada bom atau serangan udara yang mengagetkan dan merusak semua mimpi dan harapan.

Sekarang kita menyaksikan ada orang-orang di sekitar Anda dan saya, mereka mencoba menyulut konflik. Mereka berharap rusuh terjadi di negerinya sendiri. Mengobarkan permusuhan dengan sesama saudara sebangsa bahkan menantang aparat yang hanya menjalankan tugas mengamankan. Tak sadar ada kekuatan besar yang menjadikan mereka boneka. Semoga bangsa ini selamat. Semoga hidup kita tak berakhir di pengungsian.

 

(Sumber: Facebook Niken Satyawati)

Monday, January 14, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: