Semiotika Kapolri Tunjuk Kapolda Metro Jaya yang Baru

ilustrasi
Oleh : Andre Vincent Wenas
Kok perasaan jadi geli ya. Pak Kapolri bisa saja, kok menunjuk Kapolda Metro Jaya yang baru adalah polisi yang dulu menangani kasus chat mesum.
Apa gak ada yang lainnya Pak? …ah sudahlah. Gak apa-apa juga sih, lagi pula khan ini mungkin hanya kebetulan toh. Pak Irjen Pol Fadil Imran memang punya reputasi yang mumpuni dan pantas untuk posisinya yang baru itu.
Cuma saja dari otak-atik-otak soal semiotika, ilmu tentang simbol, atawa tanda-tanda kok rada gimana gitu.
Menyusul dilabraknya protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah oleh sekelompok orang yang sama sekali tidak peduli dan juga sama sekali tidak bertanggungjawab di wilayah hukum Polda Metro Jaya dan Polda Jawa Barat, maka kedua Kapolda itu pun dicopot.
Ya dicopot lantaran katanya tidak mampu menjalankan perintah atasan untuk tegas dalam menegakkan protokol kesehatan di masa pandemi ini di dalam wilayah hukumnya masing-masing.
Kita tentu mengapresiasi kebijakan Kapolri, agar ini juga menjadi signal penting bahwa nadi otoritas negara masih berdenyut. Tanda-tanda masih ada kehidupan, sehingga masih ada harapan. Alhamdulilah wa syukurilah.
Kebijakan Kapolri ini pun jadi signal kuat pula bagi para Kapolda, dan semua jajaran penegak Kamtibmas di seluruh Indonesia. Tak boleh ciut nyalinya menghadapi preman-preman (berjubah) yang semena-mena menabrak aturan dan telah menghina institusi pemerintahan yang sah.
Apalagi kemarin Panglima TNI pun sudah angkat bicara dengan sangat lantang, bahwa siapa saja yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa akan berhadapan dengan TNI.
Rakyat tidak boleh dibiarkan hidup dalam suasana resah lantaran teror psikis dari sekelompok bajingan yang melakukan agitasi dan provokasi dengan angkuh dan sok jagoan. Negara tidak boleh kalah dari premanisme.
Masyarakat akal sehat akan senantiasa mendukung pemerintahan yang sah, termasuk segala instrumennya yang berfungsi untuk menjaga keamanan dan ketertiban umum.
Kalau pun ada instrumen yang mengalami disfungsi, maka kritik dan saran bisa dilakukan di ruang publik dalam suatu wacana yang mencerahkan dan mencerdaskan bangsa. Bukan dengan cara-cara brutal yang sangat tidak beradab.
Kembali ke soal semiotika Kapolri dalam menunjuk kapolda Metro yang baru.
Bahwa petugas polisi ini yang dulu menangani kasus chat mesum tentu mengundang banyak tafsir. Dan penafsiran itu tentu sah-sah saja, bebas kok.
Apakah ini semacam signal bahwa banyak kasus hukum yang dulu tertunda sekarang akan dituntaskan? Menimbang calon tersangkanya sudah pulang ke kandang (kambing?).
Yah itu khan cuma penafsiran bebas dari fenomena penunjukkan Pak Irjen (Pol) Fadil Imran, gegara beliau lah yang dulu intens menangani kasus chat mesum.
Atau ini mungkin juga semacam signal halus yang dikirim Pak Kapolri ke arah calon tersangka itu agar mingkem dan segera jaga sikap. Walahuallam.
Dari kejauhan terdengar refrain lagu Mus Mujiono dan Utha Likumahuwa,
“Inikah tanda-tandanya, bunga asmara ingin bersemi sekali lagi, inikah tanda-tandanya, bunga asmara ingin bersemi di dalam hati sekali lagiiiiii….”
Yah begitulah bincang santai kita soal tanda atau simbol, tapi itu belum realitasnya, baru signal. Kita tunggu saja kiprah Pak Irjen Fadil Imran nanti.
Selamat bertugas Pak Kapolda. Terima kasih Pak Kapolri.
16/11/2020
Sumber : Status Facebook *Andre Vincent Wenas*, Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB).
Wednesday, November 18, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: