Semendesak Apa Menonton Ceramah Agama?

ilustrasi
Oleh : Supriyanto Martosuwito
 
Pada hari hari yang masih mencemaskan ini, apa urgensinya - semendesak apa, sih - menonton acara ceramah agama dengan mempertaruhkan nyawa? Berkumpul di lapangan terbuka - atau aula tertutup dan berdesakan di tengah massa, untuk menciptakan kluster baru penyebaran coronavirus covid-19?
Pemerintah sudah menghabiskan triliunan rupiah untuk pembagian sembako, biaya sosialisasi, mengalihkan anggaran pembangunan, dan 105 dokter sudah meninggal, ekonomi ambruk - sejumlah kepala daerah dan pejabat - yang selama ini kesehatannya, gizinya dan vitaminnya terjamin - pun dinyatakan positif - bertumbangan.
Tapi semua itu masih belum cukup meyakinkan mereka yang dengan sengaja mempertaruhkan nyawa menghadapi musuh yang tak tampak itu. Tak tampak tapi ganas.
Padahal kita bisa menonton kajian agama sambil rebahan - nyaris tanpa resiko di rumah. Dari level serius, bermuatan ilmu - hingga petunjuk agama yang dikemas dengan hiburan ringan ala infotainment.
Aplikasi Youtube, selain menyediakan film "Tilik" - acara wayangan, lagu 1970an, Indonesia Idols aneka tutorial dan hiburan segar - juga menyajikan pilihan kajian agama dari penceramah populer dimana kita bisa menontonnya dan menyimaknya sembari ngopi dan tiduran. Modal hape dan kuota.
Saya masih bisa menonton (lagi) gaya agitasi Kyai Zaenudin MZ yang sudah almarhum, atau Uje yang "good looking" atau wajah wajah jenggotan kumuh pembahas balon hijau. Hingga ustadz Taufik Dasaad dengan aksen Bugisnya yang kental. Atau Gus Baha yang ceramah dalam bahasa Jawa sambil "nggreneng", bergumam. Atau Mamah Dedeh yang kocak dan galak.
Anekdot seputar funny tecnology, nampaknya, masih berlaku : smart phone - stupid people.
"We live in the era smart phones and stupid people! " begitu olok olok para cendekia. Teleponnya sudah pintar, yang punya masih blo'on. Bahkan dungu.
POKOK soalnya ada di panitia dan penyelenggara acara dan juga sosok penceramahnya.
Massa awam di lapangan itu hanya korban yang dikerahkan, diundang dan dihadirkan.
Penyelenggara dan penceramah agama adalah orang orang yang mestinya cukup berotak dan tahu betapa bahayanya berkumpul di lapangan. Karena melanggar protokol covid-19.
Tapi mereka mengabaikannya dan menyengajakan diri, menghadapi maut. Malah menantang.
Ada bangunan pikiran di sebagian kalangan saat ini bahwa semakin melawan anjuran aparat pemerintah semakin gagah. Melawan pemerintah itu keren!
Penceramah yang diundang adalah pemilik gelar S-2 lulusan luar negeri. Memang sedang laris. Tapi dia sudah jadi "orang panggung". Selalu rindu mike, rindu mimbar, rindu sambutan massa yang mengelu-elukannya. Seperti biasanya.
Kalau dia sungguh sungguh beragama dan menghayati ajaran agamanya serta mempraktikannya dalam kehidupan nyata, dia akan menolak undangan itu. Jika enggan membantu program dan pemerintah setidaknya tidak menjerumuskan umat pengikutnya menanggung resiko sebaran virus.
Tapi nampaknya dia cuma tukang obat yang melihat potensi kerumunan di pasar. Layaknya artis panggung yang ngarep "job" juga. Agama hanya komoditi baginya.
Mereka semua nampaknya sulit dicegah dan dilarang. Mereka layaknya orang orang puber - kaum ABG sedang gairah - bahkan mabuk saat ini. Ada yang mabuk bikin acara, mabuk tampil di mimbar, mabuk berkumpul dan mabuk mendengarkan orang pidato. Dan juga siap mabuk dan melawan siapa saja yang melarang mereka saat ini.
Kita semua tahu jika kita mencegah mereka. Rangkaian tuduhan sangar dijadikan serangan balik kepada kita : "Anti Dakwah!" - "Anti Islam" - "Neo PKI" - "Dasar Komunis"!
Tapi setidaknya kita jadi tahu sekarang. Bahwa ceramah agama bukan saja membuat massa jadi galak . Tapi juga jadi dungu.
 
Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito
Monday, September 21, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: