Semanggi 2

Oleh: Tomi Lebang
 

Ini gelagar jembatan layang Semanggi 2 di Jalan Jenderal Sudirman yang terlihat di kiri atas foto. Saya mengambilnya di siang hari tadi saat merayap di bawahnya. Jika tak ada aral melintang, persimpangan Sudirman-Gatot Subroto yang padat dan selalu macet ini, akan dilengkapi jalur baru di luarnya.
Tahu kan jembatan Semanggi? Itu jembatan berbentuk daun semanggi yang dibangun Soekarno tahun 1961 dan lama menjadi salah satu ikon kota Jakarta. Tapi zaman bergerak, sekitar Semanggi kian ramai kantor-kantor baru, gedung-gedung jangkung di SCBD, markas Polda Metro Jaya yang makin sesak, lalu gedung Veteran yang di masa gubernur lama tetiba dibungkus dengan mal besar. Semenjak itu, kawasan Semanggi adalah salah satu simpul macet ibukota.
Demi mengurai macet di sekitar daun beton itulah dibangun kuping baru di luarnya, posisinya melayang di atasnya. Karena itu pula ia disebut Jembatan Semanggi 2.
Tapi bukan itu yang hendak saya ceritakan. Ini tentang duit-duit besar penambahan lantai bangunan bertingkat yang dikenal sebagai koefisien lantai bangunan (KLB).
Jembatan Semanggi 2 senilai Rp345 Milyar dibangun dengan duit dari luar anggaran belanja DKI alias non-APBD. Ceritanya, Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengabulkan permintaan pemilik Wisma Sudirman yakni P.T. Mitra Panca Persada yang hendak menambah bangunan dari 17 menjadi 26 lantai. Perusahaan ini diizinkan dengan membayar sekitar Rp 570 Milyar ke DKI. Sebagian untuk membangun jembatan Semanggi 2, sisanya untuk infrastruktur di tempat lain seperti menara-menara rumah susun.
Tapi jangan silau, duit ratusan milyar itu tak mampir di rekening gubernur atau bendahara pemerintah daerah. Kata Kepala Dinas Bina Marga DKI, Yusmada Faizal, April 2016 lalu, DKI hanya menerima barang jadi. “Uang dari pengembang (PT Mitra Panca Persada) langsung diserahkan ke Wika selaku kontraktor," katanya.
Begitulah. Pekerjaan konstruksi digarap Wijaya Karya, perusahaan milik negara. Jika kelak jembatan ini jadi, bersilangan dengan jalur kereta bawah tanah nun puluhan meter di bawahnya, ibukota kita akan terlihat makin mentereng.
Oh ya, tentang uang dari penambahan koefisien lantai bangunan (KLB) itu, saya baru mengenalnya belakangan setelah diungkap sendiri oleh Gubernur Basuki. Dulu-dulu juga ada, tapi publik tak pernah tahu jumlahnya, tak juga paham ke mana menguapnya.
Yang jelas jumlahnya besar. Triliunan rupiah.
Selamat siang ...
 
(Sumber: Status Facebook Tomi Lebang)
Friday, December 30, 2016 - 17:30
Kategori Rubrik: