Semangat tapi Kurang Pengetahuan, Jadinya Akrab dengan Hoax

Oleh: Henri Subiakto

 
Tahun lalu ada dua dokter yg bilang ke saya, mereka khawatir dg maraknya berita hoax tentang bahaya vaksin dan imunisasi. Dua dokter itu was was kalau ada sebagian masyarakat yg percaya hoax tersebut, keadaan Indonesia akan gawat.

Hoax tadi mengatakan vaksin DPT itu buatan Israel, Haram, karena berasal dari organ babi, dan bahaya

bagi generasi mendatang karena akan menurunkan kecerdasan. Sebab itu mereka menyerukan perlunya gerakan menolak imunisasi. Tentu saja hoax ini dibantah oleh Kementerian Kesehatan, tapi bantahan itu diabaikan oleh para penggemar hoax. Malah di beberapa daerah ibu ibu benar2 tdk mau anaknya diimunisasi.

 

 
Padahal sebagaimana pernah dikatakan dua dokter cantik berjilbab itu, jika hoax dan anjurannya ini sampai ada yg ngikuti, maka penyakit menular yg sudah hampir hilang bisa tumbuh lagi di masyarakat. Anak yg tdk diimunisasi akan rentan terkena penyakit menular seperti Difteri, Polio, Cacar, Campak dan Tetanus. Kalau ada yg kena, maka akan bisa menulari saudaranya, temannya, tetangganya dan lingkungannya.

Tapi karena sebagian orang sudah terlanjur pikirannya dipenuhi dengan prasangka negatif, dihinggapi suudzon pada yg tdk jelas, termasuk suudzon pada negara, ditambah semangat fanatisme yg tinggi tanpa dibekali pengetahuan yg cukup, maka beberapa ibu justru jadi aktivis penyebar hoax, anti vaksin dan imunisasi.

Lalu apa yg terjadi sekarang? Wabah penyakit, khususnya difteri benar benar merebak di berbagai daerah. Banyak korban meninggal dan pemerintah harus kembali melakukan imunisasi ulang merata agar penyakit difteri tidak terus menjalar.

Lalu kemana sekarang orang orang yg beberapa waktu lalu begitu semangat menyebarkan hoax tentang bahaya imunisasi? Seperti foto di bawah ini. Mau kah mereka ikut bertanggung jawab dengan dampak perbuatannya? 

Oleh karena itu, janganlah kita ikut ikut menyebarkan sesuatu yg kita sendiri tidak tahu, apalagi dampak penyebaran hoaxnya itu sangat merugikan orang lain, membahayakan masyarakat dan negara sendiri. Bagaimana menurut Anda?

 
 (Sumber: Facebook)
Thursday, January 4, 2018 - 20:00
Kategori Rubrik: