Semangat Tanpa Ilmu adalah Bodoh Membodohkan

ilustrasi

Oleh : Nun Alqolam

Dalam dunia diskursus pemikiran, terbagi atas pemikiran subtansialis fungsionalis dan pemikiran formalis simbois. Pemikiran substansialis fungsionalis menitik beratkan pada hakikat sebuah maksud (al-maqsudul al'a'dhom), namun sebaliknya pemikiran formalis simbolis hanya mengacu pada apa yang diihat secara kasat mata, sehingga kelompok ini sering terkecoh dengan apa yang dilihat, karena yang terlihat itu tidak sepenuhnya menunjukkan hakikinya.

Jika seseorang berstatus tholabul ilmi, semakin tinggi ilmunya maka konstruksi pemikirannya akan bertransformasi dari formalis simbolis menuju substansialis fungsionais. Artinya kedalaman ilmu seseorang dapat diindikasikan dalam melihat sesuatu, apakah dia melihatnya secara harfiah, letterlijk, formal, simbol atau melihat dari mata hakiki, substansi dan hakikat.

Contoh mudah adalah poster meme di bawah ini. Orang yang ilmu agamanya masih dalam level "kulit", dipastikan akan menghujat gambar tersebut. Namun jika level pemikirannya sudah "isi" maka dia kan menalar baik dari nalar akal maupun nalar hati, sehingga melihatnya secara komprehensif serta bijaksana. Dengan demikian tidak mudah menghujat dan mengumpat.

Coba perhatikan statemen, "Islam itu agamanya Salah". Yang dimaksud "Salah" bukan antonim dari "Benar", tapi Salah di sini adalah nama orang, yaitu Mohamed Salah Ghaly. Dia adalah pemain sepak bola profesional Mesir yang bermain sebagai penyerang untuk klub Inggris Liverpool dan timnas Mesir. Dia (Mohamed Salah) beragama Islam yang lahir 15 Juni 1992.

Untuk itu jangan pernah berhenti belajar, karena samakin banyak dan ilmu yang kita peroleh akan menjadikan kita berfikir substansi, hakiki, hakikat dan tidak mudah terkecoh dengan apa yang tersimbol, harfiah, letterlijk dan skripturalis. Karena sumber fundamentalis, radikais dan teroris dalam agama adalah berfikir yang dangkal dan tidak dalam.

Sumber : Status Facebook Nun Alqolam

Saturday, August 8, 2020 - 19:00
Kategori Rubrik: