Semakin Stabilnya Atmosfer Politik 2019

Oleh : Muhammad Jawy

Pernyataan TGB yang mendukung lanjutnya kepemimpinan Abu Gibran aka Jokowi sangat menarik untuk dicermati. Sebagai tokoh pendukung Prabowo, peserta aksi 212, dan sebagai profil yang dicitrakan teknokrat sekaligus ahli agama, tentu pernyataan itu dianggap mengejutkan. Padahal sejatinya tidak sama sekali.

Beliau adalah tokoh daerah dan politisi ulung yang sangat pintar berhitung dan membaca situasi. Politik bukan hanya masalah menang atau kalah saja, tetapi bagaimana supaya kiprahnya bisa membawa perubahan. Dulu beliau tergabung di PBB, sebelum pada 2013 berpindah ke Demokrat. Dan Pilgub 2013 dimenangkannya dengan sangat menyakinkan, mengalahkan jauh tiga kandidat dari PBB, PKS, dan Hanura.

Setelah purna menjadi gubernur dua periode, dengan usia yang masih sangat muda, 46 tahun, tentu langkah selanjutnya adalah menapak di level nasional. Dan sepertinya melihat hasil Pilkada 2018 yang sangat tidak imbang, banyaknya kemenangan pihak yang simpatik dengan visi Jokowi, membuat TGB mengumumkan sikap politik yang jelas, bahwa Jokowi harus lanjut menuntaskan berbagai programnya. Sangat jelas pesan yang tersirat: Prabowo sudah habis. Dan TGB paham betul ini, dia tidak ingin ngotot berlayar dengan kapal yang hendak karam, akan lebih baik kalau jejaringnya, pengaruhnya, pengalamannya, diabdikan bagi negeri melalui pemerintahan yang kuat di bawah Jokowi. Terlebih ia tahu, Jokowi bukan pendendam.

Bukan tidak mungkin, TGB akan diminta menjadi juru bicara tim kampanye Jokowi, karena TGB suaranya masih sangat didengar masyarakat NTB, khususnya Nahdlatul Wathan, ormas Islam terbesar di NTB, dan masyarakat muslim di medsos. Kalau 2014 NTB memberikan kemenangan mutlak ke Prabowo, 72%, maka jika TGB mendukung Jokowi, situasi bisa berbalik. TGB pun berpotensi menjadi profil bagi kabinet mendatang, sebagai representasi Luar Jawa yang memiliki pengalaman dan ketokohan, sekaligus menjadi bibit tokoh nasional pasca era Jokowi.

Dampaknya adalah politik 2019 akan bisa semakin sehat, karena pertarungan yang terjadi sejak 2014 yang masih berputar-putar di politik identitas, dengan Jokowi sebagai target serangan massif, mulai dari issue anti Islam, pro-China, komunis. Semua akan sirna. Propaganda ala Obor Rakyat 2014 semakin sulit menemui targetnya.

Hantu politik identitas yang menurunkan kualitas dialektika politik, dengan maraknya fitnah dan hoaks, memang saatnya kita usir. Sebaiknya debat visi dan program yang harus diutamakan, tentu diatas rekam jejak yang baik.

-AMJ-

Sumber : facebook Muhammad Jawy

Thursday, July 5, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: