Self Driven

ilustrasi

Oleh : Nana Padmosaputro

“Ma... aku diterima di asrama WISH.” ujar anak itu kalem, lalu duduk di sampingku, sesaat setelah aku selesai mengucapkan salam perpisahan, setelah meeting via zoom dengan rekan-rekan kerjaku.

Aku memeluknya dengan bangga dan haru. Gadis ini setengah mati berjuang meringankan beban ortunya, dengan caranya sendiri.

Waseda International Student House adalah asrama berlantai 11 dengan fasilitas lengkap (ada gym, ruang musik, lounge, ruang pertemuan, dapur besar untuk event, maupun dapur umum). Memiliki ‘rumah’ seperti apartemen : 1 unit terdiri dari 4 kamar tidur, ruang tamu, ruang dapur dan kamar mandi. Menampung sedikitnya 870an siswa dari berbagai negara. Meskipun fasilitasnya lengkap, tapi biayanya #paling_murah dibanding asrama lain. Karena ada subsidi dari pihak kampus. Dan biaya paling murah inilah yang dibidik oleh Nesa.

Untuk masuk ke sini, harus lulus tes seleksi. Dan dia adalah salah satu dari 57 orang yang berhasil menembusnya, di semester ini.

Testnya gimana?

Menulis esai, dan harus menjawab pertanyaan seperti :
- Apa saja peranmu sebagai leader dan team member di sekolahmu? Apa saja yang kamu kerjakan? Apa saja yang sudah kamu lakukan bagi masyarakatmu, yang telah membawa perubahan?
- Akan menjadi orang seperti apa, kamu, di masa depan? Apa yang akan kau lakukan dengan ilmu yang akan kamu dapatkan.
Dan serangkaian pertanyaan lain.

Ketika tahu pertanyaan-pertanyaannya seperti itu, hatiku hangat....... ah, anakku tidak perlu ndobos dan membual.

Dia sudah ‘bekerja’ keras sejak SMP dalam aneka kegiatan, sebagai pemimpin maupun pengurus. Sudah menyelenggarakan beberapa event kompetisi antar sekolah se Jakarta. Sudah bekerja beberapa tahun sebagai volunteer, ngajar bahasa Inggris gratis bagi anak-anak keluarga tak mampu. Sudah memenangkan kompetisi debat kelas Asia. Sudah menjadi inisiator membuat mesin pengolah limbah di sekolahnya. Sudah membangun bisnisnya sendiri, sebagai sumber uang saku. Semua itu dilakukan diantara ketatnya tuntutan kurikulum International Baccalaureate, dan prestasi akademiknya pun baik.

Dia pun TAHU PERSIS, dia ingin menjadi apa di masa depan, ingin mengerjakan apa.

Dan siapapun yang membaca tulisannya, akan melihat bahwa anak ini tidak sedang berkhayal. Melainkan sudah merintis, bahkan sudah bertahun-tahun membangun jalannya menuju masa depan.

Semua yang SUDAH dilakukannya, sejalan dengan rencana yang dicanangkannya bagi masa depannya. Terlihat jelas, bahwa yang selama ini dilakukan dan dikerjakannya, sejalan dengan tujuan hidupnya.

******

Sebetulnya, seperti itulah yang dulu kuperjuangkan di setiap kelasku : character building.

Setiap anak dan remaja, perlu didukung untuk mengenali dirinya : minatnya, potensinya, kekuatannya, kelemahannya, keinginannya, aspirasinya, panggilan hidupnya.....

Berdasarkan pengenalan itu, mereka akan mampu merancang perencanaan hidup. Lalu tahu apa yang diperlukan untuk menjadikannya nyata. Termasuk tahu, kebiasaan maupun kebisaan apa yang perlu mereka develop pada dirinya.

Jadi, ketika itu, tujuanku mengajar Character Building adalah :
jangan ada lagi remaja yang menjawab
“Ya gitu deeeeh...” ketika ditanya, apa pendapat mereka akan sesuatu.
Dan menjawab “Nggak tahu...” ketika ditanya, ingin menjadi apa di masa depan.

Jika tidak memiliki stand poin akan sesuatu, lalu bagaimana akan menentukan sikap?

Jika tidak tahu, lalu kemana akan menuju?
Dan kapan membuat persiapan untuk ke situ?

Menurutku, tugas paling utama setiap ortu bukanlah menentukan anaknya harus apa dan bagaimana; melainkan membantu anaknya menemukan SUARA INTERNAL mereka sendiri. Karena seseorang yang memiliki ‘self driven’ motivation, tidak perlu dinasehati, disuruh atau dipaksa....

Sumber : Status Facebook Nana Padmosaputro

Thursday, July 30, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: