Selamatkan Masjid Kita

Ilustrasi

Oleh : Muhanto Hatta

Spanduk politik itu mulai memasuki masjid. Dibentangkan di pagar depan menyambat kedatangan jamaah. Di waktu lain, masyarakat diarahkan untuk sholat subuh berjamaah.

Setelah sholat, khutbah akan diperdengarkan. Isinya semacam kampanye sebelum waktunya. Kalau gak nyinyir pada Jokowi, pasti teriak kopar-kapir. Ada juga masjid yang menyediakan hadiah blender dan kipas angin segala. Mirip undian lotere.

Umat digiring ke masjid tapi masjidnya dipolitisisasi. Artinya umat dipaksa menyetujui pilihan politik pengurus masjid. Semacam pemaksaan atas nama Tuhan.

Pengurus masjid membiarkan mimbar-mimbarnya diisi hasutan. Diisi caci maki kepada lawan politik. Umat yang ingin bermesra dengan Tuhannya, terpaksa mendengarkan pekik politisi berjubah agama.

Dari masjid-masjid rasa benci ditularkan. Dari masjid-masjid keresahan disebarkan. Dari masjid-masjid kesombongan ditegakkan. Lalu di manakah tempat itiqaf yang syahdu, di mana manusia bisa bermesra-mesra dengan Tuhannya secara intim?

Jelas, beberapa masjid kini jadi semacam cabang Parpol dan posko kampanye. UU boleh saja melarang kampanye di rumah ibadah. Tapi tidak ada yang melarang masjid dihiasi spanduk ujaran politik. Dan umat Islam adalah umat yang paling menderita, ketika rumah ibadah yang mestinya terjaga dari kerusakan kini berubah jadi posko kampanye.

Apakah jemaah mesjid itu hanya terdiri dari satu afiliasi politik? Pasti tidak. Jemaah bisa beragam pilihan politiknya. Ketika masjid jadi ajang agitasi politik, pada saat bersamaan, para pengurus masjid itu telah 'mengusir' jemaah yang berbeda pandangan politik pergi menjauh dari masjid.

Lalu apa gunanya adzan dikumandangkan? Memanggil orang sholat di satu sisi, tapi sisi yang lain 'mengusir' mereka yang berpeda pansangan politik. Apa gunanya syiar mengajak memakmurkan masjid, jika ujungnya cuma diarahkan untuk memakmurkan partai politik.

Mesjid-mesjid kita beresiko kehilangan kehangatan jika joroknya intrik politik masuk ke sana. Masjid-masjid kita akan kehilangan kesyahduan jika isi pengurusnya hanya para broker kekuasaan. Baik sengaja maupun karena kebodohan.

Mesjid-mesjid kita akan kehilangan rasa adem jika isi kotbah melulu soal kebencian. Orang pulang dari masjid membawa hati yang mengeras. Bathinnya jadi kosong, hanya dahinya yang gosong.

Spanduk politik yang disebar di masjid itu, sesungguhkan adalah kudeta terhadap rumah Allah. Allah yang maha rahman, bermaksud menyambut siapa saja umatnya untuk bersimpuh di rumahnya. Orang datang mencari rasa adem. Mereka ingin menjauh dari kesuntukan hidup untuk sesaat.

Tapi apa yang didapat? Justru masjid makin ruwet. Tidak ubahnya seperti body bajaj yang ditempeli brosur kampanye. Mereka mengubah tempat bersyujud menjadi tempat menyebar hasut.

Sudah saatnya kita bebaskan masjid-masjid kita dari joroknya pertarungan politik. Kembalikan rumah Allah kepada pemiliknya, dimana semua orang merasa diterima kehadirannya. Apapun pilihan politiknya. Siapapun pilihan Presidennya.

Mengembalikan masjid jadi tempat bersujud adalah PR besar umat Islam saat ini. Biarkan politisi bertarung di lapangannya. Jangan kita jadikan masjid jadi ring tinju mereka.

Menolak politisasi masjid adalah langkah konkrit menyelamatkan masjid kita. Umat yang diam saja ketika rumah ibadahnya dipolitisasi, adalah umat yang dengan ikhlas menyerahkan kesucian agamanya untuk diperkosa.

Menyedihkan...

Sumber : Status Facebook Muhanto Hatta

 
Saturday, April 21, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: