Selamat untuk Santri Gayeng

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Lima tokoh ini paling sering di tonton ceramahnya dimedia. Jika kita perhatikan kelima tokoh ini mempunyai beberapa kesamaan, dengan sedikit sekali pengecualian.

Pertama, tokoh-tokoh ini kecuali Aa Gym, bermazhab Syafi'i, berakidah Asy'ari dan pengamal Thoriqoh atau murid dari Mursyid Thoriqoh. Artinya berangkat dari tradisi dan pendidikan kegamaan yang mapan. Dididik secara ketat dan mempunyai basic keilmuan yang teruji. Singkat kata; memang mereka semua pemilik "swalayan" yang menyediakan jawaban keagamaan untuk semua problem masyarakat, yang merintis "toko" dari kecil. Istilah anak YouTube, "bukan kaleng-kaleng".

Kedua, semua tokoh itu mempunyai tim media yang solid. Ustadz Abdul Somad, Gus Baha, Gus Mus, As Gym, dan Prof Quraish.

Ustadz Somad mempunyai tim yang maintenance dakwah dan media sang ustadz, lihat saja ketika live di TV one, buku-buku karyanya ditata berjajar rapi, artinya impact yang ingin didapat bukan hanya pesan dakwah ustadz Somad tersampaikan, tetapi juga tim penjualan bukunya mendapatkan bantuan marketing sekaligus. semua media; Facebook, IG, YouTube, semuanya official, situs resmi.

Sementara Gus Baha, dimandegani oleh tim Santri Gayeng besutan Bib Rumail. Dikelola secara profesional dan didukung ring 1 Gus Baha. Plus Gus Baha sendiri, merintis dakwah di Jogja, pusat anak muda progresif. Saya tidak yakin jika Gus Baha tidak"hijrah" ke Jogja populeritasnya semoncer sekarang.

Gus Mus, memang usianya tidak lagi muda, tapi kiyai paling Zuhud ini sangat progresif dan melek media, ketika medsos belum berkembang Gus Mus menyalurkan gagasannya melalui proyek ; Mata Air; website, majalah, penerbitan dll. Saya pernah bersinggungan dengan rink 1 mata air, Gus Rijal dll.

Jadi tidak heran Jika Gus Mus lincah bermedia sosial; Facebook, Twitter dan media lainnya. Selain media darling (maklum selain kiyai, seniman, mantan Rais Am PBNU), juga media minded. Sejak muda beliau mengampu tanya jawab dan menulis di media. Tak berlebihan jika saya mengatakan Gus Mus sangat memahami karakter media dan memahami signifikansi media, ditambah lagi putri dan menantu-menantu beliau yang progresif. Allah yang ngatur bagaiman tidak. Sempurna.

Bagaimana Aa Gym? Dia tokoh yang berhasil mempertahankan popularitasnya dari hempasan badai yang menimpanya medio 2006. Menurut pengakuannya, hikmah 212 adalah bantu loncatan menaikan kembali pamornya yang mulai meredup. Ketika pengajian dimasjid Darut Tauhid, medio 2003 awal, saya menyimak langsung, Aa Gym sangat fasih menceritakan biaya operasional tv swasta, yang nilainya milyaran dalam sebulan. Seingat saya dia menyebut angka 200 M. Selain media cetak, saat itu, TV satu-satunya media yang banyak diakses. Tak heran, disamping gurita bisnisnya, Ada Gym membuat MQ TV. Dan sekarang dia Da'i lama yang paling kreatif di You tube, seperti mewawancarai Gub DKI, Ruhut Sitompul dll di chanelnya sendiri. Aa Gym media minded, dan dia punya tim yang berpengalaman panjang dalam dunia media. Wajar Aa Gym bukan saja bertahan dari pendatang baru tapi juga menduduki posisi tinggi dalam kontestasi dai media.

Kalau pak Quraish wah, ini kita tahu bersama, dari dulu beliau produktif menulis dan tulisannya paling banyak dibaca ditanah air. Tulisan keagamaan paling banyak disukai. Selain itu beliau ngisi di metro tv, sctv dan tv lainnya. Beliau juga punya penerbitan yang dikelola keluarga. Disamping itu putra putrinya juga banyak yang bergelut di media.

Dari itu semua kita melihat otoritas saja tidak cukup tapi harus ada tim profesional. Disamping itu, tim tidak akan berarti apa-apa jika "sang tokoh" tidak punya kesadaran bermedia.

Mereka ini, guru-guru kita yang terhormat ini mengamankan market share dakwah media dari jamahan dai Wahabi. Bayangkan kalau tidak ada mereka ceruk itu dikuasai Wahabi.

Itu juga yang menginspirasi saya pada 2008 mulai mengelola media Habib Luthfi. Saya berpikir sederhana, dalam satu waktu Habib Luthfi hanya bisa disatu tempat, betatapun beliau mengerahkan energi sebulan paling berapa ratus lokasi. Sementara media virtual bisa dijangkau diberbagai belahan dunia. Kendalanya hanya satu, Habib Luthfi icon keberagaman, harus netral, karena milik bangsa dan milik semua golongan.

Berbeda dengan Gus Baha, dalam videonya tegas kata beliau, tidak ada netralitas dan harus ada keberpihakan. Ini yang memudahkan Bib Rumail sukses besar mengelola santri Gayeng, Gus Baha bebas membahas berbagai tema termasuk ketika harus bersinggungan dengan pihak lain. Dan beliau mengambil segala resikonya.

Saya mendapat gambar ini dari Bib Rumail Abbas, kami pernah satu tim di konferensi Bela Negara pertama. Waktu konferensi saya pikir tidak ada yang lebih pas megang Twitter Habib Luthfi selain bib Rumail, pengalaman twitware dan bisa bahasa Arab dengan baik.

Tim media konferensi pertama kemudian kami lanjutkan untuk mengelola media Habib Luthfi yang sebenarnya sudah lama terbentuk tapi saya kelola sendiri. Apesnya, konten yang kami publikasi seringkali dijadikan alat untuk saling menyerang antar kubu, aroma pilpres 2014 masih sangat kuat, sementara Habib Luthfi memposisikan diri pasca pilpres netral, termasuk dalam kasus Ahok, walaupun akhirnya mendukung salah satu cagub.

Peristiwa ini yang membuat tim tidak bertahan lama.

Ala kuli hal saya ucapkan selamat kepada Bib Rumail. Saya kira hanya piawai Twitwar ternyata Bib Rumail cepat menyesuaikan diri dengan perubahan di era digital.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Wednesday, May 27, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: