Selamat Jalan Sang Maestro "The Godfather of Brokenheart"

Oleh: Rudi S Kamri

Hari ini saya sedih sekali mendengar kabar meninggalnya penyanyi legendaris Didik Prasetyo alias Didi Kempot. Dulu dalam suatu kesempatan saat saya masih jadi penyiar di TVRI, saya pernah tanya dia apa artinya Kempot, dia jawab dengan tertawa khasnya bahwa Kempot itu singkatan dari "Kelompok Pengamen Trotoar". Mengingatkan dia pernah malang melintang menjadi Pengamen di seputaran Blok M Jakarta tahun 1980an.

Didi Kempot lahir di Solo tahun 1966. Didi terlahir dari keluarga seniman Jawa. Ayahnya Ratno Gudel adalah seniman Jawa yang kondang. Kakaknya Mamiek Prakoso adalah pelawak jebolan Srimulat yang sangat terkenal. Sedangkan Didi Kempot sendiri tekun melakoni peran sebagai penyanyi dangdut keroncong yang dikenali sebagai genre musik campursari. Didi Kempot adalah Maestro musim campursari yang paling terkemuka selain seniman Manthos.

 

Lagu Kuncung, Cidro, Stasiun Balapan, Manuk Cucak Rowo adalah lagu ciptaan Didi Kempot di awal-awal kariernya sebagai seniman campursari. Dengan lagu itu pula yang membawa Didi Kempot melanglang buana ke Eropa, Amerika dan yang paling sering ke Suriname (14 kali). 

Setelah sempat tenggelam beberapa tahun, tahun 2019 Didi Kempot seolah "reborn" lahir kembali menggembrak jagat seni pertunjukan Indonesia. Dan yang mengherankan penggemar lagu-lagu Didi Kempot melebar melampaui batas usia dan batas level sosial ekonomi. Sekarang Sobat Ambyar yang merupakan kumpulan fans Didi Kempot justru didominasi kaum milenial dari kelompok pedesaan sampai perkotaan. Luar biasa.

Konser terakhir Didi Kempot dilakukan secara unik melalui Kompas TV untuk menghalang dana bagi Covid-19. Didi Kempot dan Timnya di rumah, Rosiana Silalahi sebagai host tetap di Studio Kompas TV di Menara Kompas Jakarta. Hasilnya tidak kurang dari Rp 10 milyar disumbangkan oleh Sobat Ambyar untuk penanganan penyebaran Covid-19.

Didi Kempot memang artis melegenda. Lagu-lagunya sangat dekat dengan keseharian kita dan lahir dari ketulusan seorang manusia. Warna lagunya yang bertutur tentang patah hati membuat Diri Kempot dijuluki The Godfather of Brokenheart. Meskipun pendengarnya menangis saat melantunkan lagu-lagu Didi Kempot, tetap saja dilakukan sambil bergoyang.

Daripada patah hati mending dijogeti saja. Demikian motto para Sobat Ambyar. Dan kini para penggemar lagu-lagu Didi Kempot benar- benar ambyar hatinya mendengar meninggalnya penyanyi legendaris Didi Kempot secara tiba-tiba pada Selasa, 5 Mei 2020. 

Selamat jalan Mas Didi......
Istirahatlah dengan tenang. Saya akan mengenang kehilanganmu dengan menyanyikan lagu yang paling hits saat ini: "Pamer Bojo" ft Sintya Marisca
Dengan hati yang ambyaaarrrr....

Innalillahi wa innailaihi rojiun

Salam SATU Indonesia
05052020

 

(Sumber: Facebook Rudi S Kamri)

Tuesday, May 5, 2020 - 19:00
Kategori Rubrik: