Selamat Jalan Gus

ilustrasi

Oleh : Abdulloh Faizin.

Gus Sholah nama jejuluk mashurnya. nama asli KH. Sholahuddin Wahid. suaranya serak serak renyah tak ada sedikitpun caci dan terkendali tak pernah terbersit emosi. Gerakannya landai santai tercapai. Beliau adalah suara kebaktian Ulama dan syimbol kesejukan kepemimpinan umat dengan sikap ramah tanpa marah. Dengan senang merangkul tanpa memukul. Hatinya suci tanpa benci.

Aku tak sebegitu dekat dengan beliau namun aku tak pernah merasa jauh dari urat bathin dan sukmanya karena beliau bagian dari sanad sanad silsilah guru guruku. Aku tak sebegitu kenal dengan beliau namun aku merasakan kedekatan emosional moralitas serta merasakan keteduhan kenikmatan melihat wajah beliau diberbagai dinding skesta keindahan wajahnya.

Beliau salah satu representasi pemikiran dan kemoderatan Gusdur, dan Gusdur yang telah mendahulunya kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Beliau adalah pahlawan hak asasi manusia dan jawara tasamuh dengan segala kelembutanya. Beliau mengenal semua kalangan dari berbagai ras golongan muslim atau non muslim sampai keberagaman kasta dan sebaliknya mereka pun mengenalnya.

Street....

Tak seperti biasa malam ini kurasakan senyap dan dingin, "seakan tampak wajahnya kecutnya. Mungkin ia juga mendengar sang kiyai yang tepat Jam 20.45 melepas beban gravitasi dunia menuju titik kepergian kehadirat kekasihNya. Dengan tenang dan diridhoi. Suara gemuruh tahlih menyeringai ya. Menghasilkan irama syahdu doa dan istighfar untunya.

Angin malampun saat itu lesu tak bergairah terbang, sepertinya ia lunglai dan tak semangat menggerakkan sendi sayapnya seperti kemaren gesit mengantarkan oksigen ke serat serat tubuh pohon lalu menyentuh lambaian daunya serta menutrisi syaraf akar akarnya yang menghujam ke bumi seakan-akan sedikit demi sedikit tercerabut.

Entahlah seperti apa besarnya aura kekuatan kepergian Mbah Gus Sholah terhadap ekosistem alam sebegitu dahsyat dan kita tak tahu dan tak mampu kuperikan. Seakan kekuatanya sementara ini tersedot oleh cakra kehebatan beliau mungkin kehebatan itulah yang diturunkan dari rialat sang maestro dan kiyai abahnya sendiri Mbah Wachid Hasyim jadi tak diragukan keistimewaannya itu .

Lalu bagaimana dengan umat yang telah ditinggalkan, lebih para lagi seperti ayam kehilangan induknya dan anak kecil kehilangan kasih sayang ibunya. Akar akar ilmu dan kearifan yang beliau miliki ikut tercerabut seperti pohon yang sedang tumbang. Ummat kehilangan sebagian pegangan baik ilmu maupun kebijaksanaanya.

Beliau adalah salah satu lampu kandil gemerlap pada hati ummat yang gelap kini telah tiada. Namun kita akan meyakini ada pohon pohon dan sinar baru yang dibangun oleh tuhan dari tempat terpendamnya mutiara baik dari taman Tebuireng khususnya maupun dari pondok lain umunya, untuk ummat ini. karena setiap yang terhapus akan diganti baru yang lebih baik atau dengan minimal sepadan. Karena Gusti Allah maha tahu.

Dengan air mata mengalir dalam duka nestapa kusampaikan sepatah kata doa "Wahai pribadi yang tenang dan berwibawa, peneduh ummat aromamu sedapmu menghiasi padang bumi dan Kolong langit. Semoga kau dimaafkan serta dirahmati"

Sumber : Status Facebook Abdulloh Faizin

Tuesday, February 4, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: