Selamat Datang, Jenderal

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Setelah menunggu dgn rasa gamang dan galau, akhirnya sang jendral berani kembali, namanya akan diregistrasi sbg capres abadi. Kalau jadi, 3 kali inilah sang jendral kembali menjalani uji nyali, dua kali head to head dgn Jokowi. Inilah catatan dunia, begitu uletnya seorang Prabowo mau menjadi presiden Indonesia, gagal dua kali tak membuatnya jera. Karena memimpin adalah cita2nya, dgn itu dia nyaris mengkudeta.

Walau siap diusung, adakah modal utk mendukung?, khususnya kecukupan kursi. Sisa kursi dari partai yg ada bisa saja diajak bersama, hanya saja, semua mengajukan cawapres dengan kesan memaksa, walau kelasnya cuma biasa, dan belum tentu bisa.

 

 

Seperti biasa sifat narsismenya selalu keluar begitu saja, pujian paling dia suka, kaca dirumahnya hanya dipakai melihat kepantasannya. Jendral, presiden itu butuh kapasitas dan integritas, bukan cuma pantas. Sebelumnya penjilat sejatinya mengatakan kesejajarannya sama dgn Putin presiden Rusia, dan langsung dia bertelanjang dada. Dia pikir pula mau jadi presiden pakai kontes binaraga, kebayang kalau saat acara debat dia minta Jokowi buka dada. Kalau kita simak sebenarnya dia korban hura2 orang sekelilingnya, puja puji terus diberi, bisa saja informasi palsu dibuat agar sang jendral layak dijual.

Di Hambalang segala perlengkapan ada, bak sebuah negara semua upacara dilalukan disaana, kadernya dibentuk menjadi pemuda bela negara versi fiksinya, statement nasionalisnya dipertanyakan, kenapa acara paradenya pakai musik BRITISH GRENADIER, bagaimana bisa, nasionalisme Indonesia dibuat bercanda, apa dia lupa begitu banyak lagu yg menggetarkan jiwa kita, MAJU TAK GENTAR misalnya. Hambalang selalu menjadi pusat kegiatan, sementara didaerah nyaris tak terdengar apakah Gerindra masih ada, dan apa kiprahnya.

Sang jendral, yang sebelum lahirpun sudah kaya, 70% hidupnya diluar negeri, masuk militer menjadi menantu Soeharto, ada kasus lari ke Jordania, pulangnya langsung buat partai, dgn kelengkapan operasional luar biasa, menggebrak mau menguasai Indonesia, nasionalisme apa yg dia punya, sedang hidupnya menyusu kepada orba, kok tiba2 bicara kepantasannya memimpin Indonesia. Dibanding Jokowi yg lahir dan besar dipinggir kali, jiwanya terpatri dgn kesederhanaan, hatinya selalu bersama orang2 pinggiran yg pernah ramah kepada keluarganya dan dia rasakan. Pemimpin yg lahir dari rakyat akan merakyat, pemimpin dgn proses karbitan bisa menyengsarakan.

Semua sepak terjangnya harus menjadi catatan kita, dan pencapresannya melengkapi event negara, kita tidak mau Jokowi dilawankan dgn kotak kosong, karena akan sulit bagi kita menilai bahwa lawannya benar2 ada atau fiksi belaka. Karena Indonesia harus menjadi digdaya, maka harus dipilih Jokowi yang bisa kerja, bukan yang mengaku nasionalis telanjang dada.

# Jokowi lagi, yg lain fiksi.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Saturday, April 14, 2018 - 00:30
Kategori Rubrik: