Selamat Berjuang Ahok-Djarot

Oleh: Birgaldo Sinaga
 

Hari ini, Jumat, 23 September 2016 nama nama paslon yang maju pilkada Jakarta benar benar menggairahkan kita. Gairah dan keceriaan tampak dari pesan pesan senang, kecewa, sedih, gembira bahkan campur aduk yang terbaca di lini masa FB, Twitter, Instagram, Path dll.

Wajarlah semua ekspresi yang terlontar itu penuh ekspresi kejutan. Pendukung Jokowi yang mengidolakan mantan Mendikbud Anies Baswedan terkejut setengah mati sang idola akhirnya maju bersama Gerindra dan PKS. Partai yang mengusung Prabowo Hatta lawan Jokowi JK saat pilpres lalu. Anies Baswedan mendukung penuh Jokowi JK dan didapuk sebagai Jubir Timses.

Di sudut berbeda, kejutan tegangan tinggi juga mengalir dari Cikeas. Siapa sangka putra mahkota Agus Harimurti Yudhoyono yang masih aktif di TNI berpangkat mayor didapuk menjadi calon gubernur berpasangan dengan Sylviana. Tidak tanggung tanggung 4 partai Demokrat, PKB, PPP dan PAN mengusung Agus Sylviana melawan nama besar petahana Ahok Djarot.

Ketiga pasangan calon yang telah ditetapkan ini sejauh pandangan saya cukup bersih dari negatif values. Rekam jejak semua calon bersih dari isu buruk baik hukum atau etika moral. Semua punya nilai jual tinggi.

Bagi republik atau warga Jakarta khususnya, munculnya nama nama beken dengan dukungan empu partai Megawati Soekarno Putri, SBY dan Prabowo membuktikan bahwa Jakarta adalah rumah utama bagi perjuangan besar parpol menuju RI 1.

Semua energi dimampatkan pada pertarungan maha gengsi ini. Kompetisi sarat gengsi. Gengsi empu ketum partai politik yang belum surut selepas pilpres 2014 lalu. Aroma panas belum benar benar menyusut.

Bagi empu kerum partai besar ini pertarungan tiga pasangan ini bukan sekedar ajang pertarungan nostalgia semata, melainkan ajang eksistensi individual dalam ranah politik nasional. Siapa unggul akan dikenang sebagai pemenang, yang kalah pecundang.

Setiap anak bangsa sesuai konstitusi berhak untuk dipilih dan memilih. Demokrasi memberi ruang setiap orang untuk bebas mengekspresikan pikiran pikirannya. Gagasan gagasan besarnya tentang nilai nilai ke Indonesiaan. Nilai nilai kebangsaan. Kesejahteraan dan keadilan bagi semua.

Saya mencermati ikhtiar ketiga pasangan calon cagub cawagub ini baik dan mulia. Semua demi Jakarta yang sejahtera dan berkeadilan. Tidaklah mungkin ada pikiran paslon ini ingin menenggelamkan Ibukota Republik kedalam kegelapan dan penderitaan.

Saya meyakini ketiganya Ahok Djarot, Anies Sandi dan Agus Sylviana memiliki pikiran baik itu. Putra putri terbaik bangsa. Namun kita tentu harus memilih diantara mereka. Memilih haruslah satu. Memilih satu dari antara ketiganya adalah keniscayaan.

Memilih kemudian berjuang memenangkan paslon itu. Perjuangan memenangkan paslon itu adalah wujud tanggung jawab kita sebagai anak bangsa yang mencintai republik. Kepada paslon itulah kita percaya gagasan gagasan besar kita tentang kota Jakarta bisa terwujud dengan baik.

Ahok telah banyak merencanakan dan membuat kebijakan mempekerjakan anak anak punk, para pengamen sebagai pekerja lepas Pemprov DKI.Ahok membuat terobosan brilyan. Kita sangat bersyukur untuk terobosan cemerlang itu.

Empati sosial Ahok genuine sekalipun dalam komunikasi dengan akar rumput yang mendiami tanah negara Ahok perlu lebih manusiawi lagi. Perlu mengubah komunikasinya agar lebih empati merasakan suara kebatinan warga kurang beruntung.

Namun secara utuh, Ahok melihat anak bangsa yang kurang beruntung ini bukan sebagai sampah masyarakat, bukan sebagai musuh pemerintah kota, melainkan sebagai anak bangsa yang harus di tolong kemanusiaannya, manusia yang harus diselamatkan.

Itu sebabnya warga Jakarta mendapat keberpihakan berupa tersedianya fasilitas hidup yang buat iri warga kota Indonesia lainnya. Pendidikan gratis, subsidi uang buat pelajar dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, fasilitas perobatan gratis, bus gratis, taman taman perumahan dan berolahraga yang menceriakan warga, semua diberikan Ahok.

Begitu juga dengan keberpihakan Ahok yang menaikkan kesejahteraan para petugas kebersihan. Belum lagi kerja kerasnya menata kota agar tidak banjir dan transportasi umum yang nyaman. Target membangun pedestrian jalan yang nyaman bagi pejalan kaki. Tidak tanggung tanggung ribuan kilometer akan dibangun pedestrian yang memanjakan publik Jakarta.

Kita relawan Ahok mau berjibaku mendukung Ahok tanpa pamrih alias free alias gratis itu karena dengan memihak Ahok berarti kita memihak seluruh rakyat Jakarta dan terpinggirkan. Semua punya kesempatan sekolah, bekerja dan maju. Tanpa pandang bulu. Setara dan sejajar apapun suku, agama dan golongannya.

Bagi kita relawan Ahok, berjuang untuk Ahok berarti kita berjuang untuk kebaikan dan keadilan bagi semua warga.

Bagi kita relawan Ahok, membela Ahok berarti kita membela kemajuan Ibu Kota agar sejajar dengan kota besar dunia lainnya.

Bagi kita relawan Ahok, berdiri bersama Ahok berarti kita berdiri mempertahankan uang pajak rakyat DKI dari begal perampok APBD.

Pada akhirnya, semua yang dikerjakan relawan bukan untuk Ahok, melainkan untuk Tuhan, karena di rumah gubuk si miskinlah bersemayam Tuhan. Pemimpin yang berpihak pada rakyat berarti ada suara Tuhan disana.

Atas semua pengertian dan alasan itu, kita relawan Ahok ikhlas bertarung dengan segenap hati, dengan segenap tenaga, dengan segenap akal budi untuk memenangkan Ahok Djarot. Semuanya gratis dan tanpa syarat.

Salam Ahok Djarot Untuk Jakarta Baru

Birgaldo Sinaga
Ketua Front Pendukung Ahok

 

(Sumber: Status Facebook Birgaldo Sinaga)

Friday, September 23, 2016 - 22:00
Kategori Rubrik: