Selain Muhammadiyah, NU, LDII Kini Muncul Ajaran Jonruisme

Jonru

Nampaknya organisasi keagamaan di Indonesia tahun ini bertambah satu. Tidak hanya ormas-ormas besar seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, LDII yang besar namun juga yang kecil-kecil. Dan fenomena terbaru yakni hadirnya aliran Jonruisme.

Aliran ini dipimpin oleh orang yang bernama asli Jonriah Ukur yang dikenal namanya di media social Jonru. Aliran ini hanya terdapat di media social terutama facebook. Tidak tanggung-tanggung pengikutnya mencapai 900 ribuan. Cukup besar bahkan bila dibandingkan dengan persyaratan Pilkada DKI bagi calon independen yang hanya kurang 100 ribu (KTP) saja atau bisa berada di posisi kedua, dibawah petahana.

Bagaimana melihat ciri-ciri aliran ini? Sangat mudah mengidentifikasi pengikut aliran Jonru. Misi atau ajaran utama mereka yakni menyebarkan fitnah. Jadi apapun masalah-masalah bangsa, mereka akan bolak balikkan fakta dengan fitnah. Sehingga apapun yang terjadi di Negara ini mereka olah menjadi tuduhan keji yang tidak berdasar.

Lihat saja sejak habis lebaran, fitnah utama mereka pada presiden bergiliran tanpa henti. Setelah memfitnah bahwa sungkem pada orang tua harus langsung, disiarkan media dan dilakukan setelah sholat Ied. Lanjutan fitnah sungkem, kembali dengan sadisnya menuduh keaslian ibunda Presiden.

Maksudnya, Ibu Noto bukan merupakan ibu kandung Presiden Joko Widodo. Kemudian ada fitnah sholat dengan berkaoskaki tidak sah sebab dipastikan tidak punya wudlu.

Belum berhenti soal kaos kaki, muncul fitnahan baru mengenai kemacetan Brebes dan kematian warga disebabkan oleh kemacetan sehingga ada permintaan agar presiden bertanggungjawab.

Yang paling update tentang wafatnya Ketua KPU, Husni Kamil Malik yang disebabkan oleh penyakit namun dihubungkan dengan tanggungjawabnya sebagai penyelenggara Pemilu. Status di fanspage itu menggiring fitnah bahwa kematian Ketua KPU karena perilaku kotor.

Lantas siapa ustadz atau anak buah Jonru untuk menyebarkan fitnahannya? Ada Wawat Kurniawan, Nanik S Deyang, Canny Watae, Adi Supriadi (Assarkhan) dan masih banyak lagi lainnya. Aliran ini juga tidak memiliki paham “tabayyun” atau klarifikasi, berdiskusi atau berdebat, memblokir siapapun yang tidak setuju atau protes ajarannya. Sehingga pertanyaan, sanggahan atau permintaan bertukar pikiran pasti diabaikan.

Selain itu, bagi mereka memaki, menyebut hewan-hewan, hingga mengkafirkan orang menjadi senjata utama.

Ajaran-ajaran mereka itu mengikuti junjungan Jonru sehingga apapun yang difatwakan harus diikuti. Yang paling aneh, ajaran Jonru ini mengaku-ngaku menganut Islam sementara semua ajaran-ajarannya bertentangan dengan Islam.

Padahal salah satu sabda Jonru terang-terangan menyebutkan bahwa Ghibah diperbolehkan.

Maka dari itu, mari sebarkan pada keluarga, saudara, teman dan sanak kadang untuk berhati-hati dalam bermedia social sebab ajaran Jonru ini bisa membuat kita musyrik.

Friday, July 8, 2016 - 19:30
Kategori Rubrik: