Sekusut Tanah Abang

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Itulah isi benak gabener dan wagabener ngurusin Jakarta. Play by ear, berjalan tanpa konsep matang dan hasilnya tentu serampangan. Kusutnya pikiran dua orang itu berakibat bahwa kejorokan massal dan kesemrawutan akut. Jakarta perlahan kembali di putar ke jaman jahiliyah.Yang kotor, kusam dan kumuh.

Kepemimpinan sentra-sentra ekonomi diserahkan ke preman jalanan. Investigasi tim Mata Najwa jelas mencolok kedua mata gabener dan wagabener yang tingkahnya slengekan . Jelas keduanya tidak bekerja untuk warga Jakarta tetapi bayar utang atas jasa-jasa para gerombolan yang menaikkan keduanya menjadi penguasa Jakarta.

Bulan madu kepemimpinan dua orang itu hampir habis. Tidak ada prestasi menonjol yang berhasil dicetak kecuali menghancurkan karya monumental para pendahulunya. Monas kembali kumuh. Rumput boleh diinjak-injak.Sementara pedagang asongan berkeliaran hanya setengah kilometer dari pusat gedung dimana negara ini dijalankan.

Kualitas gabener dan wagebener sekelas dengan orang magang. Tak heran jika anak magang itu perlu mengangkat 72 orang yang dikatakan ahli untuk membantu keduanya kerja. Tapi seberapapun banyak orang pinter didalamnya, hasilnya tetap diragukan.

Sebab, dasaran kebijakan tetap menentukan kemana keduanya berjalan. Tapi sekali lagi dasaran itu tidak ada. Dikasih sandaran malah dibuang dan dirusak. Jika terdesak malahan melempar masalah kepada yang mendesak. Rakyat ganti diminta memecahkan masalahnya sendiri. Mental macam apa itu?

Mental sebegini jelas akan membuat keduanya bagaikan bola ping pong yang dioper sana sini. Orang Balai Kota tentu senang dengan kualitas kepemimpinan kayak gini. Menunda-nunda pekerjaan kemudian menyalahkan pihak lain. Toh tidak ada sanksi.

Mental kusut seperti ini membuat para mafia dan preman banjir uang. Pendukungnya yang bodoh tertawa asin melihat kebohongan soal penghentian pembahasan perda reklamasi. Yang pinter dikit, pasti paham junjungannya membuka jalan bagi para pengembang kegirangan karena tidak perlu bayar lagi 400 trilyun ke Pemda DKI. Reklamasi tetap jalan dan gabener menutupi bau busuk itu dengan mengeruk got pakai tangan.

Keduanya juga menutupi fakta bahwa Alexis tetap jalan dengan mempertontonkan aksi-aksi teater yang bikin orang banyak-- termasuk lingkaran istana-- bertanya:

Kepandiran apa lagi yang mereka pertontonkan.

Jadi emang orang ini gak pantes diajak resmikan kereta bandara.

Malu-maluin.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Thursday, January 4, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: