Sekolah Untuk Keadilan

ilustrasi

Oleh : Arif Maftuhin

Saat khutbah 2 Mei lalu, saya menekankan dan menggugat sistem pendidikan kita yang diskriminatif. Waktu itu kita belum ribut soal zonasi. Saya lebih bicara soal pendidikan yang mengabdi ke pasar. Saya bicara tentang universitas negeri dan seleksinya yang mengakibatkan pendidikan tinggi hanya untuk yang "pintar", bahkan hanya yang dianggap "baik". Saya menyebutnya diskriminatif dan itu tidak pas untuk universitas yang negeri.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10162218632555179&id=783315178&sfnsn=mo

Pandangan saya itu ternyata sama dengan pandangan ibu Kepala Sekolah SMPN 1 Yogyakarta dan sejawat guru di sekolah itu, yang melihat tanggngjawab lembaga pendidikan untuk memperjuangkan keadilan. Dan memperjuangkan keadilan itu tidak mudah. Manfaat zonasi adalah untuk keadilan ini. Bagi SMPN 1 yang semula mendapat predikat sekolah favorit, tentu tidak mudah. Awalnya ahanya punya murid-murid terbaik, lalu kini harus mendidik mereka yang semula tersingkir.

Dalam pandangan saya, beban perjuangan ini tentu lebih tepat disandang sekolah negeri. Sekolah negeri dibayar oleh uang rakyat dan karena itu harus adil untuk semua rakyat. Tidak ada hak bagi kita untuk menuntut sekolah swasta.

Kalau ada yang bilang zonasi itu membunuh sekolah negeri dan membantu swasta yang bebas membuat sekolah dengan standar internasional, saya yakin dia tidak pernah miskin. Orang miskin tidak pernah bisa mimpi sekolah di swasta yang seperti itu dan pasti mahal. Satu satunya harapan orang miskin ya sekolah negeri dan murah/gratis. Zonasi menghadirkan keadilan.

Sekarang mungkin ada masalah soal belum meratanya kualitas, tetapi kalau tidak dimulai ya nggak akan pernah ada pemerataan.

Story tentang bu Kasek SMPN 1 Yogyakarta di sini 
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10219150741429971&id=1550350006&sfnsn=mo

Sumber : Status Facebook Arif Maftuhin

Thursday, June 27, 2019 - 12:30
Kategori Rubrik: