Sekolah Seharian, Kata Kuncinya Desentralisasi

Oleh: Mediyansyah Taharani

 

Bbrp tahun silam saya mengunjungi sebuah desa di Madura. Sepulang sekolah formal (SD hingga SMP) anak-anak di desa itu tidak langsung pulang ke rumah orang tuanya, sebagian besar langsung menuju ke rumah Kyai di kampung setempat, untuk "bersekolah sore" hingga magrib, sebagian malah hingga selepas waktu isya.

 

 

Beberapa hari dalam seminggu, anak-anak sekolah tersebut malah menginap di rumah Kyai Kampung (bukan pesantren) tersebut. Selepas mengaji, shalat isya, dan makan malam yang disediakan Nyai (istri Kyai), anak lelaki biasanya akan tidur di mushala. Sedang anak perempuan disediakan kamar di rumah Kyai.

Selain mengaji, banyak juga kegiatan yg dilakukan anak-anak ini bersama Kyai/Nyai dan keluarganya, mulai dari memasak bersama hingga belajar bertani.

Beberapa desa lain, telah memformalkan pendidikan semacam ini, jadi madrasah atau pesantren, namun masih cukup banyak pendidikan semacam ini sengaja tidak diformalkan. Tetap saja, ia menjadi bagian kehidupan masyarakat.

Pola "hidup" dan pendidikan seperti ini, telah berlangsung berpuluh tahun, bahkan sudah bergenerasi-generasi. Hampir bisa dipastikan seluruh penduduk desa tersebut memiliki hubungan "guru-murid" dengan Kyai/Nyai yang sekarang, atau dengan Kyai/Nyai terdahulu, atau dengan Kyai/Nyai yang lebih-terdahulu lagi.

Sehingga struktur sosial-budaya-agama-ekonomi-etika warga seluruh desa, terbangun dan berpondasi dari hubungan santri-kyai, semacam ini.

Cobalah: ngobrolkan konsep pendidikan "sekolah-seharian-penuh" yg dirilis Djakarta, dengan warga desa-desa semacam ini. Apa pengaruhnya terhadap kondisi sosial-reliji-budaya-ekonomi-etika mereka?

Saya rasa, bukan hanya posisi (posisi hegemoni! hihihi dan modal-sosial Kyai/Nyai yg saya ceritakan di atas terancam tergerus, dibanyak daerah ada kondisi-kondisi khusus sejenis yang saya ceritakan di atas. Mereka berhak mengelola dan mengkonsep pendidikan bagi mereka sendiri.

Lalu biarlah masyarakat memilih sendiri sekolah bagi anak-anak. Sebagian mungkin memilih 'home-schooling', itu oke juga.

JADI, yang harus ditolak adalah setiap kebijakan pendidikan YANG SENTRALISTIK. Bahwa JIKA kita menolak 'sekolah seharian penuh' secara nasional, berarti kita juga sentralistik.

Oiya, yang ini untuk teman2 FB-er: Jangan suka mbanding-bandingkan pendidikan kita dengan Singapur-lah, dengan Skandinavia-lah, dengan Jepang-lah, dengan Vietnam-lah... karena itu ujung-ujungnya kebawa ke sifat sentralistik. Nyebelin tahu gak!

 

(Sumber: Facebook Mediyansyah T)

Friday, August 11, 2017 - 02:00
Kategori Rubrik: