Sekolah Online dan Guru Gaptek

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat Lc MA

Zaman dulu kalau negatif film dari sebuah foto sudah tidak ada lagi, kita bingung kalau mau cetak ulang sebuah foto.

Bagi yang sedikit paham dunia fotografi, biasanya foto itu dibawa ke tempat cetak foto dan minta di-repro. Tapi tempatya bukan tempat cetak foto pinggir jalan, hanya tempat cetak foto yang besar saja yang mau menerima pesanan unik macam itu. Merepro foto harganya lumayan mahal untuk ukuran zaman itu dan butuh waktu minimal seminggu.

Untuk itu saya coba memotret sendiri beberapa foto dengan menggunakan DSLR dengan bantuan tripod. Hasilnya tentu masih berupa film negatif. Lalu saya bawa ke tempat cetak foto, dan ternyata hasilnya lumayan. Lebih murah dan lebih cepat pula. Hasilnya juga sudah bisa ditunggu.

Maka merepro foto jadi usaha tersendiri bagi saya. Sebab harga yang saya tawarkan tentu lebih murah dan waktunya lebih cepat.

Memang butuh kreatifitas dan jeli melihat peluang. Tapi tetap butuh modal juga. Modalnya kudu pakai kamera DSLR. Kalau pakai kamera poket biasa, tentu hasilnya tidak memuaskan, apalagi tekniknya hanya handheld, pasti goyang dan miring-miring hasilnya.

Hari ini kita sudah masuk era digital, merepro foto sudah tidak lagi kita lakukan, sebab semua foto justru tersimpan dalam bentuk file digital. Tinggal dishare saja foto itu tanpa masalah.

Merepro foto menjadi istilah yang aneh di telinga kita hari ini. Bahkan meski pun sebuah foto sudah dalam bentuk cetakan di atas kertas, dengan menggunakan ponsel pun bisa kita 'repro' dan hasilnya kita cetak ulang.

Masalahnya di musim corona ini, ketika murid-murid diminta belajar dari rumah, para guru mengirim soal lewat WA dengan cara memotret buku pakai HP. Sayang sekali kualitas HP-nya kelas low end, ditambah teknik memotretnya handheld, goyang dan miring-miring. Orang tua di rumah sampai memicing-micingkan mata membaca soal dari guru.

Yang lebih parah, guru mengetik soal pakai MS Word. Lalu layar monitornya dipotret pakai HP dan dikirim kepada orang tua siswa.

Allaahumma shalli wa sallim wa barik alaihi. Lha kenapa nggak file wordnya aja yang dikirim? Setidaknya jadikan pdf, baru dikirim. Layar monitor kok dipotret? Ya pecah dong gambarnya, tulisannya gak bisa dibaca, bu Guru.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Monday, March 30, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: