Sekolah Akting Untuk Kyai

Ilustrasi
Oleh : Supriyanto Martosuwito
 
Sambil otak atik, membersihkan komputer dan membuang file video, gambar dan dokumen sampah yang tak diperlukan di PC dan Laptop, saya mendengarkan pengajian Kyai Mustofa Bisri alias Gus Mus lewat Youtube melalui hape.
Saya tak sangka bahwa ceramah itu berlangsung lebih dari satu jam dan saya asyik mendengarkan sampai selesai. Pas tengah malam.
Rekaman tausiah Gus Mus yang berlangsung di Jepara, dua tahun silam itu disampaikan dalam bahasa Jawa. Sebagiannya krama halus. Saya mengutip bagian yang menariknya, untuk Anda yang tidak paham bahasa daerah saya itu.
Antara lain kyai asal Rembang, Jawa Tengah ini, berkisah tentang sekolah akting di Jakarta bernama IKJ.
"Ibu ibu panjenengan menopo sampun ngertos, menopo niku Acting? " tanyanya. Apakah ibu tahu apa itu akting? Ibu ibu yang duduk di tikar dan disorot kamera nampak diam saja. Dijelaskan, akting adalah seni menirukan tingkah laku sebagaimana apa yang sering mereka lihat di sinetron teve.
"Orang bisa mendadak menangis atau mendadak tertawa karena akting, " jelasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, di Leteh, Rembng ini menjelaskan seni akting di IKJ kepada jemaah pengajian di Jepara dalam rangka memaparkan bahwa para kyai kini tak hanya lahir dari tengah masyarakat, melainkan juga kampus, partai politik, awak media alias pers dan juga dari sekolah seni akting.
Dengan modal puluhan ribu rupiah untuk mengubah penampilan, beli peci putih, kain hijau di leher, maka siapa saja bisa jadi kyai. Hapalkan ayat ayat pendek, hadis hadis yang paling populer. "Selebihnya sekolah akting, " kata ulama yang juga seniman budayawan ini.
Seni akting mengajarkan gaya bicara menggerakkan anggota tubuh, gestur dan mimik wajah. "Bahkan cara batuknya bisa niru kyai " katanya.
"Kalau anda tidak fasih bahasa Arab juga tak mengapa. Mboten nopo nopo. Katakan, 'sesuai Hadis Nabi Besar kita, 'yang artinya: ' ..... jadi nggak usah pakai bahasa Arabnya nanti ketahuan salahnya, " kata Gus Mus disambut gelak tawa jemaah.
Dituturkannya tentang sahabatnya, Ikranegara, aktor teater profesonal yang bisa memainkan peran Kyai Hasyim Asy'ari dalam film "Sang Kyai" (2013). Ikranagara bukanlah seorang santri. Juga film "Sang Pencerah" (2010) yang menghadirkan aktor non muslim dan memerankan Kyai Ahmad Dahlan.
Yang dipersoalkan oleh Gus Mus bukan akting yang di film. Melainkan akting di dunia nyata. Tentang orang orang yang tak punya ilmu agama tapi ngaku ngaku dan dapat julukan "kyai" dan "ulama". Dan sedang marak sekarang ini.
PADA zaman dahulu kala, kata Gus Mus, yang telah menulis 16 judul buku, antara lain "ensiklopedi Ijma" - sebutan kyai lahir dari masyarakat. Karena kyai berkarya nyata. Tak hanya mengajarkan agama, melainan juga mengajar bercocok tanam, berdagang, meminjamkan uang, memberikan pengobatan (suwuk alias doa), membantu mereka yang belum ada jodoh, bahkan juga mengusir tikus di sawah.
Sebutan kyai itu hanya dari masyarakat. Beda dengan sekarang kyai bisa lahir dari kampus, semata mata menguasi ilmu dari teori, juga jadi kyai berkat julukan yang diberikan media, dari pemerintah dan parlemen. Dan bahkan juga partai.
Dikisahkannya : ada tokoh partai membelikan seragam kyai kepada 200 orang. Lalu foto bareng sambil memberikan keterangan kepada wartawan. "Kami sudah mendapat restu dari para kyai, " katanya disambut tawa jemaah.
Ilmu baru dari pengajian beliau bukan semata mata "kyai hasil akting" namun juga baru saya ketahui bahwa istilah "Gus" itu bukan hanya sebutan anak seorang kyai besar. Berdarah biru NU. "Gus" yang sebenarnya adalah, "anak kyai yang lagi belajar agama tapi belum jadi kyai".
Ada kekacauan di sini karena tokoh sekaliber KH Aburachman Wahid dan KH Mustofa Bisri masih disebut 'Gus Dur' dan 'Gus Mus'. "Artinya kami belum layak disebut kyai, " kata ulama 76 tahun ini sambil terkekeh.
Sebagai orang Jawa saya bukan hanya suka nonton wayang, hapal gaya pedalangan Ki Seno Nugroho, Ki Entus Susmono, Ki Anom Suroto dan Ki Mantep Sudharsono, melainkan juga ngaji juga sama Gus Mus, Gus Baha, Gus Miftah, dan Gus Gus dari NU lainnya. Tentu saja lewat Youtube. Subhanallah. **
 
Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito
Saturday, December 5, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: