Sekali Lagi, BJ Habibie

Oleh: Gunawan WIbisono

 

Alangkah cemerlang dan lengkapnya perjalanan hidup BJ. Habibie. Beliau bisa digolongkan termasuk manusia sukses seutuhnya -karir dan keluarga- , nyaman, bahkan nyaris "sempurna". Beberapa rekornya sulit bahkan mustahil untuk bisa dikalahkan. Bikin iri sekaligus ternganga.

Semasa muda ia cerdas dan pandai. Bersekolah dan hidup di negara maju, Jerman, yang membuat ia -bisa berpikir -terbuka dan memiliki wawasan lebih luas. Tidak cupet bak katak dalam tempurung.

Mau kerja dan berkarir? Ia tidak melamar! Tapi negara lah yang memintanya untuk pulang!
Di tanah air, jabatannya banyak dan rangkap, pada masa yang kurang lebih sama. 
Semua posisi jabatannya di tempat terbaik dan utama, pada lembaga atau badan usaha milik negara yang -sangat- penting dan strategis: Pindad, BPPT, BPIS, Ketua Dewan Riset Nasional, Dirut Pertamina dan Penasihat Dirut Pertamnia, Dirut IPTN dan Dirut PT. PAL (Pelayaran Armada Laut). Ini masih ditambah 20 tahun -ya, dua puluh tahun- sebagai menteri riset dan teknologi. Siapa bisa menyamai? Pegang satu jabatan saja Anda bisa munting karena pusing!

 

Sampai akhir hayatnya jenius kelahiran Pare Pare ini menerima Medali Penghargaan (khusus) dari sedikitnya 12 negara. Bukan main. 
Selain itu, ia juga menjadi Anggota Kehormatan pada persatuan, komunitas atau lembaga bergengsi dan berkelas dunia dari lebih sepuluh negara! Salah satunya dari The Royal Aeronautical society, Inggris. 
Padahal, untuk masuk jadi anggota (apalagi Anggota Kehormatan) komunitas-komunitas ini sulit bukan main. Daftar persyaratannya panjang!

Habibie juga memegang sedikitnya 46 hak paten di bidang pesawat terbang dan angkasa luar. Itu penemuan pribadi dan berhak mendapat royalti setiap tahun. Bisa diwariskan, karena penghargaan atas karya intelektual tetap terus diberikan meski si pencipta telah wafat.
Itu seperti kekayaan Alfred Nobel si penemu dinamit, yang royalti dari patennya diberikan setiap tahun pada orang-orang jenius yang bekerja -untuk kemanusiaan- di bidang fisika, kimia, sastra, perdamaian, fisiologi dan obat-obatan, dalam bentuk: Hadiah Nobel. Pak Alfred dari Swedia ini pemegang 335 hak paten!

Kembali ke Eyang Habibie,
Sebagai pria dan kepala keluarga ia masuk golongan -dalam istilah Mas Wendo- Pria Sudesi, Sukses Dengan Satu Istri. Kedua anaknya jadi pria mapan dan terhormat dan Eyang tetap setia pada Bu Ainun, bahkan di akhir hayatnya beliau bisa ‘memesan’ makamnya secara khusus di TMP Nasional agar dimakamkan bersebelahan!

Makam suami istri bersebelahan kerap kita dengar, tapi bersebelahan di TMP Nasional Kalibata? Hmm...coba cari duanya, kayaknya sulit.
BJ. Habibie memang spesial.

(Sumber: Facebook Gunawan Wibisono)
Foto: Detik

Friday, September 13, 2019 - 14:15
Kategori Rubrik: