Sejarah Ekslusivitas Keberagamaan di Minang

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Sejarah eksklusifitas keberagamaan di Minang bisa ditelusuri setidaknya sejak 1803, sejak Haji Piobang dan dua kawannya, Haji Miskin, Haji Sumanik terkesima dengan ulama -ulama Wahabi yang (dalam anggapannya) menjalankan syariat secara ketat. Lalu pulang dan mempromosikannya dengan antusias.

"Wahabisasi" Nusantara selain melalui Yogyakarta, Jakarta, Solo, Bandung, lebih dahulu di Sumatera, lebih tepatnya Minang.

Proyek utama mereka adalah "pemurnian" syariat. Pada perkembangannya ulama dan masyarakat yang sudah terwarnai pemikiran Wahabi yang mengintordusir ajaran Ibnu Taimiyah dengan sendirinya mereka juga cocok dengan ajaran Muhammad Abduh. Barangkali ini bisa membantu menjelaskan kenapa ormas yang berkiblat kepada Muhammad Abduh banyak yang terpengaruh ajaran Wahabi.

Banyak ulama Minang yang menjadi pembaca setia al-manar dan Urwatul wutsqa. Majalah pertama diampu Abduh dan Rasyid Ridha, yang kedua dikelola Abduh dan gurunya Jamaludin Al-Afghani.

Saya setuju semua ormas ataupun invididu yang menjadi murid imajiner Ibn Taimiyah baik melalui jalur Abduh maupun Muhammad bin Abdul Wahab tidak punya bawaan "genetik" moderat. Jadi moderatisme yang mereka dengungkan selama ini omong kosong.

Lihat saja konten orasi Din Syamsudin dihadapan masa HTI, atau Gubernur Sumatera yang menolak penerjemahan Injil kedalam bahasa Minang. Modern dalam tata kelola organisasi iya saya akui, tapi tidak dalam berfikir dan berbudaya.

Sejak lama saya membaca sastra Minang, intoleransi sudah mengurat mendaging bahkan dalam karya fiksi mereka. Lebih kuat lagi, tidak butuh waktu lama kubah dan makam-makam akan mereka hacurkan.

Bahaya laten bukan PKI tapi perkembangan Wahabi.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Monday, June 8, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: