Sejak Kapan Syiah itu Islam?

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Banyak kejadian di Indonesia ini yang semakin lama semakin tidak masuk akal. Intoleransi yang mengatasnamakan agama marak terjadi. Ujung-ujungnya mayoritas merasa paling benar. Minoritas ditindas. Padahal, seperti yang diyakini budayawan Rendra dalam sebuah cerpen (drama?) surealisnya, mayoritas bukanlah representasi dari kebenaran. Kebenaran tetaplah kebenaran, meski ia berdiri sendiri.

Baru saja terjadi penolakan Syiah di Bangil, Jawa Timur. Sejumlah orang menggeruduk acara haul Fatimah Azzahra. Iya, Fatimah adalah putri Rasulullah. Perempuan mulia yang menjadi saksi peristiwa-peristiwa besar islam sejak Nabi pertama kali berdakwah. Konon acara itu dimotori oleh anggota PKS. Ada dua persoalan pelik di sini, pertama memperingati haul ulama bebas-merdeka, tapi memperingati haul satu-satunya putri Nabi, yang melahirkan para habib itu, kenapa dilarang?

Persoalan ke dua, Jawa Timur, seperti diketahui adalah pusat nahdliyin. Gusdur, tokoh pluralis itu lahir dan dikebumikan di sana. Pondok pesantrennya banyak sekali. Tapi kenapa ada oknum PKS yang berani membuat keonaran dan mengatasnamakan NU? Bukankah Gusdur, Gusmus, dan ulama-ulama NU (juga Muhamadiyah) menyatakan perang dengan sempalan Ikhwanul Muslimin ini?

PKS dan ormas garis keras kerap menyebarkan propaganda, Syiah bukan islam. Ini persoalan serius. Dengan menyatakan Syiah bukan islam, berarti menolak keturunan Nabi yang bermazhab Syiah. Di Iran misalnya, keturunan nabi menjadi pelopor sebuah revolusi. Mereka Syiah. Dan presiden Basyar Al-Asad yang dimusuhi oleh Barat dan orang Indonesia yang keblinger itu juga seorang sayid, keturunan Nabi. Kebetulan ia Sunni yang disyiahkan oleh orang kita. Dengan menolak keturunan Nabi yang mulia itu, jelas-jelas menolak ajaran Nabi. Jika menolak ajaran Nabi, apakah masih bisa disebut muslim?

Orang banyak yang tidak belajar sejarah. Syiah adalah sebuah mazhab resmi yang sama tuanya dengan Sunni. Sebagaimana Sunni, Syiah juga mengalami perpecahan. Ada di antaranya yang dinilai sesat, seperti Syiah Rafidah. Tapi sunni juga ada yang sesat, contohnya Wahabi, Ahmadiyah. Menyesatkan Syiah secara menyeluruh, sama konyolnya dengan menyesatkan Sunni secara menyeluruh.

Sejak kapan Syiah muncul? Sejak islam terpecah di jaman Sahabat. Syiah adalah kelompok yang membela Ali. Mereka meyakini, Ali adalah khalifah yang secara langsung ditunjuk oleh Rasul. Tapi ketika umat geger akibat meninggalnya Rasul, para Sahabat membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Ali waktu itu sibuk mengurus jenazah Rasul. Dan Ali menerima keputusan para Sahabat itu sampai akhirnya kekhalifahan jatuh di tangan Usman.

Pernyataan Syiah bukan islam adalah upaya pengingkaran sejarah. Ia pembodohan secara sistematis. Di dalamnya sekaligus terkandung penghinaan terhadap keturunan Nabi. Menggunakan nama NU dalam aksi kekerasan jelas-jelas juga menghina NU. Di sini bisa dinilai, banyak orang yang hendak merusak islam dari dalam. Mereka memulainya dari NU.

Baru saja saya ditanya perihal kasus Bangil itu, pertanyaan yang konyol, anda orang Bangil, dan ada di sana saat kejadian? Katanya. Pertanyaan itu sengaja dimunculkan untuk menindas pernyataan saya perihal keterlibatan PKS di sana. Apakah jika saya orang Bangil, sudah pasti paham tentang kerusuhan itu? Atau, apakah semua orang Bangil pasti NU. Jangan lupa, kasus bom Tamrin itu pelakunya juga dari Bangil. Masihkah ia NU?

Jadi, sejak kapan Syiah itu Islam? Tentu saja sejak Sunni itu ada dan jadi mazhab dalam islam.

 

(Sumber: Kajitow Elkayeni)

Tuesday, April 5, 2016 - 08:45
Kategori Rubrik: