Sederhana Dan Harga - Dari Ahmadinejad Sampai Zuckerberg

Ilustrasi

Oleh : Aldie El Kaezzar

Pernikahan Kahiyang dan Bobby jadi bahan baku ribut sosmed entah apa urgensinya. Sebagian protes karena dianggap tidak sesuai dengan citra sederhana yang selama ini melekat kepada presiden. Di lain pihak, banyak yg menilai pernikahan kemarin layak disebut sederhana.

Saya pikir banyak yang setuju kalau memang pada pernikahan kemarin tidak terlihat kesan mewah atau glamor. Pesta adat jawa pada umumnya, undangan terbuka untuk berbagai kalangan, gedung yang dipakai sampai hidangan yang tersedia, semua tampak biasa saja.

Tapi protes bermunculan saat bicara jumlah undangan dan biaya. Betul sekali, saya yakin biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Total undangan 8000 tentu memerlukan akomodasi yang tidak sedikit, terutama makanan. Belum lagi tempat menginap untuk beberapa undangan.

Apalagi pernikahan ini kemudian dibandingkan dengan pernikahan putra Ahmadinejad yang hanya mengundang sedikit orang (ada yang menyebut 45, ada yang mengatakan 180). Pernikahan tersebut diklaim sebagai contoh kesederhanaan karena posisinya yang sama-sama sebagai presiden. Saat itu, tentu memungkinkan dirinya melaksanakan pernikahan yang lebih mewah. Satu hal yang saya sendiri salut, namun mungkin sebuah "bunuh diri" jika dituruti.

Bagaimana tidak? Pernikahan di Indonesia, bagaimanapun tak bisa lepas dari adat dan kebiasaan. Bisa dibayangkan apa jadinya kalau presiden hanya mengundang 100 orang? Jelas bakal muncul protes lain, bukan masalah kesederhanaan, tapi mungkin sindiran semisal pelit, sok ekslusif, sombong atau tidak tahu tata krama. Entah dari tetangga, kerabat ataupun rekan kerja. Salah juga kan?

Jadi, kembali ke masalah biaya. Ada yang menyebut estimasi total pernikahan Kahiyang mungkin mencapai 2-3 M. Sebuah jumlah yang fantastis. Tapi itulah bentuk kompromi dari sebuah "kepatutan" namun tidak berlebihan. Karena itu, walaupun menelan jumlah yang tidak sedikit, namun tetap jauh dari kesan mewah. Bayangkan kalau pesta dilakukan ala banyak selebritis dengan jumlah undangan yang sama, entah berapa kali lipat yang akan dikeluarkan.

Kasus pernikahan anak Ahmadinejad sekalipun bahkan bisa saya sebut mahal dan mewah. Kenapa?

Menurut sebuah keterangan, biaya yang dikeluarkan hanya sebesar 35 juta rupiah. Tapi tahukah anda bahwa di negara tetangga ada pernikahan yang hanya memerlukan biaya 2 juta rupiah termasuk makanan. Jauh di bawah nominal 35 juta. Saya yakin, ada lagi yang lebih rendah kalau dicari. Jadi berapa patokan harga untuk sederhana dan murah?

Bingung? Pasti. Karena jika melihat faktor biaya semata, akan selalu ada relativisme. Bahkan angka 2 juta pun saya yakin sudah mewah untuk sebagian kalangan. Itu pasti. Jadi seberapa murahkah untuk bisa disebut sederhana? Tidak ada.

Karena sederhana sendiri tidak mungkin lepas dari konteks. Entah itu status sosial, kemampuan ekonomi, adat atau hal lain. Karena itu sederhana selalu akan relatif.

Anda lihat Mark Zuckerberg? Pernah melihat foto lemarinya yang berisi beberapa t-shirt simple berwarna dan model yang sama? Itulah gambaran kesederhanaan Mark. Banyak yang memuji boss Facebook itu tipe orang yang sederhana. Saya setuju.

Murah? Hell No! Tahukah berapa harga 1 t-shirt "sederhananya" itu? Diperkirakan t-shirt special order dari Brunello Cucinelli itu berharga 300-400 usd. Jadi, apakah sederhana itu harus "murah"? Kenyataannya tidak selalu. Bahkan kata "murah" itu sendiri selalu relatif kan? Berapa murah itu? Tidak bisa dipastikan.

Jadi, bagaimana menilai kesederhanaan? Tidak tampil mewah, glamor. Tetap tampil seperti kebanyakan/pada umumnya lingkungan sekitar walaupun mampu untuk lebih. Itu makna kesederhaan yang saya lihat dari Jokowi, Ahmadinejad dan Zuckerberg.

Sumber : Status Facebook Aldie El Kaezzar

Friday, November 10, 2017 - 17:45
Kategori Rubrik: