Sedang Apa Kamu Sekarang?

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Sedang apakah kamu sekarang?

Sedang merapihkan rumah untuk menyambut iedul fitri? Warna tembok sudah layak diganti. Pagar perlu diperbaiki dan semua sudut harus dibersihkan.

 

 

Atau sedang memikirkan kemana anakmu akan meneruskan sekolah? Bekerja keras mencari biayanya agar masa depan mereka jauh lebih baik darimu.

Atau sedang berusaha menabung agar bisa membeli kendaraan baru, rumah baru, mewujudkan liburan ke luar negeri atau hal-hal lainnya. Atau sedang berencana pergi haji?

Ada juga yang punya niat mulia untuk memperbaiki masjid, gereja atau vihara. Menjadi panitia pembangunan dengan harapan itu adalah tabungan untuk kehidupan akhirat kelak.

Sebagian lain sedang misuh-misuh karena pemerintah mencabut subsidi listrik. Sebab biaya hidup jadi makin mahal. Sedangkan saudara kita di ujung timur Indonesia. Atau di wilayah-wilayah terpencil baru saja menikmati cahaya bola lampu untuk menerangi anaknya yang sedang belajar Bahasa Indonesia.

Untuk itu semua kamu bekerja keras. Amat keras. Kadang lupa waktu. Lupa kesehatan. Semua begitu penting untuk diwujudkan. Sampai kamu lupa, bahwa semua itu bisa tidak ada artinya.

Beberapa bulan lalu, rakyat Merawi juga sama seperti kita. Mereka ingin memastikan kehidupan yang lebih baik untuk masa depannya. Inginkan infrastruktur yang baik dan lengkap. Inginkan anak-anaknya sehat dan gembira.

Benerapa tahun lalu, rakyat Suriah juga punya mimpi yang sama. Tidak ada bedanya dengan kebanyakan rakyat di seluruh dunia.

Tapi kini Marawi porak poranda. Secuil orang yang kesetanan agama sedang menghancurkan masa depan semua orang. Rumah-rumah di bakar. Gedung sekolah dihancurkan. Listrik terputus. Dalam sekejap anak-anak Marawi kehilangan masa depan.

Masa depan di Suriah lebih kelam lagi. Entah sampai kapan mereka terus berjuang hanya untuk sekadar mendapatkan sepotong roti. Atau hanya untuk memastikan anaknya aman berangkat ke sekolah.

Semua itu hancur lebur karena ada sekelompok orang barbar yang kesurupan agama. Sebagian orang ini percaya agama adalah jalan keluar kehidupan. Semua harus sesuai dengan syariah. Tapi jenis agama seperti apa yang menghancurkan masa depan manusia? Tampaknya mereka cuma memanipulasi kebuasan atas nama agama.

Bagaimana kehancuran bisa tercipta sedemikian cepatnya. Caranya gampang. Pupuk intoleransi dan kebencian. Pupuk perasaan bahwa kitalah yang paling benar. Pupuk keyakinan bahwa agama kitalah yang punya jawaban tuntas untuk semua masalah kehidupan. Lalu paksakan cara kita beragama kepada orang lainnya.

Jangan lupa pupuk juga pemahaman bahwa umat Islam sedang didzalimi. Jika di Palestina umat Islam ditindas Israel, maka kita boleh membenci tetangga yang Kristen. Jika di Myanmar umat Islam Rohingya diperlakukan buruk, maka kita di sini boleh menghancurkan Vihara.

Jika dulu bangsa Eropa menjajah Asia atau Afrika, maka kita bisa merusak gereja. Kita pompa semangat kebencian sedemikian rupa sampai kita tidak sanggup lagi untuk mencintai.

Padahal kebiadaban di tempat lain, tidak bisa menjadi pemberan kita melakukan kebiadaban yang sama di sini.

Sedang apakah kamu sekarang?

Apapun yang sedang kamu lakukan untuk mewujudkan impian dan masa depan anak-anakmu, itu semua bisa tiada arti jika kamu diam.

Jika intoleransi terus disuburkan, kita sedang menghancurkan masa depan anak-anak kita.

Jika merasa benar sendiri dan hobi mengkafir-kafirkan, kita sedang meruntuhkan kedamaian hidup kita.

Jika pemahaman radikal dibiarkan, kita sedang membakar rumah kita sendiri.

Jika kita tidak kembaki pada kesadaran bahkan Allah menciptakan manusia bersuku dan berbangsa untuk saling memahami, maka kita sedang merusak cita-cita generasi selanjutnya.

Merawi letaknya dekat dengan Indonesia. Sekarang porak poranda oleh manusia barbar berbungkus agama. Mulailah sadar dan kembali rekatkan tangan dengan tetangga, kawan, saudara dan semua orang di sekitarmu. Tetanggamu yang beragama lain, jauh lebih berharga dibanding orang seagama yang hadir untuk merusak hidupmu.

Temanmu yang beretnis lain, jauh lebih penting dari orang satu etnis yang ingin merusak masa depanmu atas nama agama.

Yuk, sambil kita bekerja, belajar, cari nafkah, kita hidupkan terus toleransi.

Batas toleransi adalah intoleransi. Batas kebebesan adalah para perampas kebebasan. Batas diam adalah apabila masa depanmu terancam...

 

(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)

 

Foto:Pengungsi Marawi, Filipina (Republika)

Saturday, June 17, 2017 - 00:45
Kategori Rubrik: