Secuil Cerita dari Marketing Sari Roti

Oleh: Niken Satyawati
 

Saya bertemu dengan seorang marketing Sari Roti yang turut mensponsori kegiatan kami beberapa waktu yang lalu. Saya mendengar sendiri kisah-kisah sedih mereka pasca aksi boikot yang dimobilisasi sebuah kelompok setelah ABI 212.

Karena melakulan klarifikasi mereka justru dibully habis di media sosial, yang berlanjut aksi di dunia nyata. Toko-toko dan kantin-kantin menghentikan kerja sama. Pedagang kecil kelilingan turun omzet hingga 40%-50%.

 

Sales yang melakuman promosi di tengah masyarakat dibully dimana-mana. "Tak jarang yang pulang menangis akhirnya menyatakan tidak sanggup menjalankan pekerjaan. SPG kami di Klewer diusir sambil disuruh memperbaiki akidahnya," ujar mbak berjilbab dari marketing Sari Roti itu.

Sejumlah pegawai yang memutuskan resign atau karena omzet turun drastis akhirnya memang harus mundur sesuai aturan dan kini menganggur. "Hanya karena melakukan klarifikasi kami jadi seperti ini, lanjutnya.

Saya sangat sedih mendengarnya. Saya tak bisa berbuat banyak kecuali membesarkan hatinya, menyarankan dia untuk tetap sabar dan semangat mencari penghidupan untuk keluarganya. Dia melakukan pekerjaan halal dan tak ada yang salah dari itu.

Sedih memang. Klarifikasi yang artinya mendudukkan persoalan pada tempatnya malah menjadi bumerang bagi mereka. Ini memang zaman yang penuh fitnah. Orang melakukan klarifikasi dizalimi. Penyebar fitnah dan kebencian dianggap pahlawan.

Orang-orang menjelma menjadi Tuhan bagi sesamanya. Manusia yang memutuskan apakah orang lain sudah benar dalam menjalankan agama atau belum. Kalau sesuai dengan pemahaman kelompoknya berarti benar. Kalau tidak berarti sesat.

Seakan tak ada lagi empati dan kehati-hatian dalam bersikap seperti pernah menjadi budaya kita di masa lalu. Saling menghargai danenghormati sesama manusia tinggal kenangan.

Begitu gampang orang menjuluki orang lain dengan julukan di luar iman seperti munafik dan kafir. Seorang kawan saya dari agama yang berpusat di Vatikan beekeluh kesah. "Apa salah kami? Kami menjalankan keyakina dan tidak memusuhi orang lain. Kami juga orang beriman. Kami sakit hati dibilang kafir. Seakan kami ini makhluk yang hina. Tapi sebagai minoritas kami bisa apa?"

Hati saya teriris mendengarnya. Mengolok-olok dan menghina orang lain yang seakidah--apalagi yg di luar akidah telah menjadi kebiasaan. Kelompok ini mengolok yang itu. Kelompok itu mengolok yang ini. Memandang orang lain seakan tak ada nilainya sama sekali dibanding diri sendiri dan kelompoknya. Lebih sedih lagi karena itu semua dilakukan dalam bungkus agama. Padahal agama manapun melarang umatnya menyakiti hati orang lain dengan olok-olok dan hinaan.

Dalam Islam larangan itu diatur dengan sangat jelas dalam QS Al Hujurat ayat 11: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

Kebencian dan kasutan yang terus diterima setiap saat melalui corong-corong pengeras suara, di media sosial dan grup WA rupanya telah menutup mata hati dan pikiran.

Sampai kapan ini akan terjadi?

 

(Sumber: Status Facebook Niken S)

Friday, February 24, 2017 - 03:30
Kategori Rubrik: