Secangkir Kopi dengan Bahasa Sederhana

Oleh: Denny Siregar
 

Entah kenapa sejak dulu kepala saya puyeng ketika diskusi filsafat..

Banyak istilah yg tidak mampu saya taruh dalam memori, berhubung otak saya bebal dalam menghapal. Apalagi memang lidah saya Indonesia banget, sehingga sulit melafazkan istilah asing yang kurang familiar seperti transenden, desenden dan banyak den lainnya. Lidah saya mirip perut saya, kalo ga ketemu nasi namanya belum makan.

Begitu juga dalam ilmu politik.

Saya tidak mampu menjabarkan pemikiran banyak analisa politik dengan kompleksnya istilah. Saya bengong baca tulisan mereka yang rumit dengan banyaknya footnote. Saya malah belajar politik dan intrik yang rumit dalam gaya bahasa bercerita yang menarik dari Sidney Sheldon, Frederick Forsyth dan Tom Clancy. Buat saya mereka orang2 yang jenius yang mampu menjabarkan sesuatu yg rumit dengan cara sederhana dan menarik.

Filsafat murni bagi saya adalah ketika Tuhan menjabarkan dengan menghadirkan banyak peristiwa untuk saya hadapi dan pelajari. Dan saya belajar menganalisa peristiwa2 itu melalui nasihat Imam Ali as yang menjelaskan dengan cara yang sangat sederhana, runtut dan mudah dipahami.

Dan ketika kesederhanaan penjelasan Imam Ali as saya jabarkan lagi dalam bentuk sebuah peristiwa menurut apa yg saya pahami, menariknya ternyata banyak yg suka. Saya dianggap mampu mengeluarkan apa yg selama ini tersimpan dalam memori dan menjelaskannya dgn sangat gamblang.

Lucu juga, padahal ketika saya berbicara tentang suatu peristiwa sejatinya itu adalah pelajaran untuk saya sendiri, bukan untuk orang lain. Wong saya sendiri bego, ngapain saya ngajarin orang lain.

Tetapi ternyata kesederhanaan berfikir itulah yang menyelamatkan saya supaya tidak terjebak dalam banyak kerumitan istilah yang tidak semua orang mampu memahami. Saya lebih senang musik Rock dan Pop yang mudah diterima, daripada Jazz yang penuh dengan lekukan2 nada dan kadang si pemainnya lebih asik sendiri, peduli lu suka atau tidak.

" Lu gak boleh gitu.. " Kata seorang teman dulu yang senang diskusi filsafat dan saya tidak menghiraukannya. Saya adalah saya dengan gaya saya, bukan hasil bemtukan orang lain.

Jadi minta maaf kalau ada yang ingin mengajak saya debat, selesai sudah 4 tahun saya debat mencari kebenaran dalam agama saya. Saya juga bukan tipikal orang yang suka diskusi berjam2 mendebatkan sesuatu yg tidak berjalan ke depan. Not my style... Saya hanya menyampaikan "apa yg saya pikirkan", tidak lebih dan tidak kurang.

Ah, kepanjangan deh curhatnya. Saya jadi ingat nasihat bagus Imam Ali as, " Guru yang baik adalah yang mampu menggunakan bahasa muridnya.."

Beliau yang begitu tinggi saja mampu merendahkan dirinya, bagaimana kita yang rendah bisa meninggikan diri di hadapan orang banyak ?

Seruputt ah... mumpung masih bisa ngopi...

(Sumber: dennysiregar.com)

Tuesday, July 5, 2016 - 06:00
Kategori Rubrik: