Sebuah Ultimatum Untuk DPR

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Sebuah kebodohan besar bila bangsa Indonesia membiarkan Undang-undang tentang Pancasila dan apapun yang dinisbatkan kepadanya, dibiarkan bergulir yang akan menimbulkan kegaduhan besar.

Seluruh fraksi Parpol realitasnya sudah menyetujui UU tentang Pancasila dimasukan dalam Prolegnas (program regeslasi nasional). Persetujuan itu yang kami gugat sekarang. Seisi gedung DPR kok tak mengerti Pancasila sebagai hirarki hukum tertinggi yang kita sepakati dalam bangsa dan negara ini.

Kenapa Pancasila tafsiran Soekarno gagal, ketika dia hendak menegakkan Nasakom (Nasional, Agama, Komunis). Sejarah bangsa kita menyaksikan sebuah realitas bahwa komunis tak bisa ada dalam Pancasila.

Pancasilanya Soeharto gagal kenapa ? Karena
Soeharto hanya memperlakukan Pancasila secara normatif belaka. Diambil namanya dan ditafsir sesuai keinginan dan kepentingannya.
Jadilah Pancasilanya seperti kelereng dan telur, pakai butir-butir segala. Banyak yang menafsir tidak seperti tafsirannya yang kemudian dia gebuk. Jadilah Pancasilanya dia itu hanya alat gebuk untuk memukul lawan politiknya. Lalu sekarang DPR-RI mau ikut lagi model Soeharto juga model Soekarno yang jelas-jelas telah ditolak oleh sejarah bangsa kita.

Yang harus kita lakukan adalah mengevaluasi sikap bangsa kita pada kegagalan masa lalu. Memakrifati lebih dalam jati diri kita sebagai bangsa Pancasila dan Negara Pancasila. Bangsa falsafah dan Negara falsafah.

Ingat kita bangsa Nusantara adalah bangsa Timur yang lahir dan besar dengan mistisisme yang kental. Sementara peradaban Barat menolak mistisisme dalam peri kehidupan mereka. Falsafah mereka materialisme, positifisme, empirisisme, pragmatisme, relatifisme, yang kesemuanya berseberangan dengan ketuhanan secara tidak langsung. Barat menolak hal ghaib atau metafisika, padahal itu sebagai syarat orang bertakwa : al lazina yu'minuna bil ghaibi. Kita memang tak sama dalam hal pondasi dengan mereka. Penampakan luar yang baik dari mereka hanya kamuflase untuk menarik korbannya.

Kepada semua kawan DPR-RI, ada pelajaran singkat dari kata 'Ahad' dalam surah Al ikhlas. Ahad pertama memiliki realitas, yakni Dia, Allah. Realitas Tuhan. Dan kata 'ahad' di ayat terakhir, wa lam yakun lahu kufwan ahad, adalah kata yang tak memiliki realitas. Kepada subjek Ahad pertama berlaku ilmu filsafat, untuk mencari kesejatian. Kepada 'ahad' kedua berlaku ilmu logika atau mantik, yang menuntun kita bagai mana mengelola isi kepala agar tidak tumpang tindih dan ambigu.

Demikian pun Pancasila. Teks yang ada dalam 'Garuda Pancasila', dengan burung Garuda yang membawa Pita Bhineka Tunggal Ika, lengkap dengan lambang persila : Bintang, Rantai, Pohon, Banteng, dan Padi Kapas, itulah kita Bangsa Indonesia. Falsafah yang agamis. Agama yang filosofis. Itu melebur dalam Pancasila, terserah dari arah mana seseorang hendak memandangnya.

Bhineka Tunggal Ika dan Ketuhanan yang Maha Esa adalah manifesto agung peradaban Nusantara. Manifesto yang terhubung dengan misi para nabi menegakkan kalimah tauhid, dan juga terhubung dengan masa depan. Kenapa juga masa depan ? Karena Tuhan dan rasulNya tak akan pernah terkalahkan oleh para penentangnya. Memang negara yang dirikan bukan negara agama, melainkan negara bertuhan didirikan oleh bangsa bertuhan. Dan sudah diasese oleh Allah melalui shalat istiharah Mbah Hasyim Asy'ari.
Pemilik frasa Hubul Wathan Minal Iman, mencintai tanah air bagian dari iman. Nasionalis yang berketuhanan. Agamis yang nasionalis. Prasa yang tidak dimiliki oleh umat muslim lain di belahan Timur Tengah dan Afrika pasca runtuhnya Khilafah Usmaniyah.
Ini rahasia dibalik rentannya pertumpahan darah di muslim Timur Tengah. Berterima kasihlah kita kepada Tuhan lewat ijtihad para kiai sehingga kita terhindar dari Islam Marah. Kita punya Islam Ramah. Kepada Pak Presiden Jokowi tolong urusi makan mereka tukang gaduh supaya mereka diam, jangan bikin ribut terus.

Santri Kalong : Pancasila terlalu sakral untuk disentuh oleh tangan-tangan kotor di DPR-RI. Kalian bahas duit saja lupa rakyat yang kemarin pilih di Pemilu.

Dul Kampret : Stop berhenti disitu. Jangan melangkah lebih, kalau gedungmu tidak ingin disembilan-delapankan lagi.

Kang Mat : Preambul UUD 45 adalah manifestasi dari Pancasila. Bahkan teks Pancasila Satu Tarikan Nafas ada di alinea ke empat. Batang Tubuh UUD 45 adalah manifestasi dari Preambule. Setiap UU adalah manifestasi dari UUD 45. Begitulah seterusnya setiap hirarki regulasi berkonsideran kepada hirarki hukum diatasnya. Mafhum ini jangan dirusak oleh UU tentang Pancasila dan nisbat apapun yang disandarkan pada Pancasila.

Pace Yaklep : Biar BPIP jadi ruangan kecil dalam halaman kekuasan Presiden Kepala Nagara seperti awalnya UKP-PIP dikuatkan jadi BPIP. Stop duduk manis disitu.

Bung Cebong : Kalau sampai disitu saja tidak apa-apa. Jalan jo.

Daeng Doka : Pendapat ta juga begitu. Kalau ribut terus kapan mi kita membangun.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Thursday, July 9, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: