Sebuah Teladan Dari Gempa Jogja 2006

Ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Pukul 5.54 pagi, 27 Mei 2006, Jogja dihentakkan oleh gempa dahsyat yang merusak ratusan ribu rumah, ribuan orang meninggal. Listrik padam, tower rontok, tak ada sinyal bagi handphone. Bencana ini adalah bencana terparah yang menimpa Jogja sejak era informasi dimulai. Arus informasi terputus total.

Pagi itu, Ferry, seorang penyiar RRI Jogja tengah jadwal bertugas hingga jam 6. Ketika semua moda komunikasi mendadak putus akibat gempa, RRI masih tegak berdiri.

Penyiar yang seharusnya menggantikan Ferry, tak bisa datang, dan insting Ferry mengatakan bahwa ia tak boleh meninggalkan posnya, dan berinisiatif melanjutkan tugasnya untuk menjadi sumber informasi bagi warga terdampak gempa maupun kepada para keluarganya.

Maka ia melanjutkan siaran RRI Jogja, menjadi tempat bertukar informasi dari masyarakat, sehingga membantu menjernihkan berbagai issue yang menyertai gempa. Waktu itu belum ada media sosial, namun issue seperti tsunami sempat membuat panik masyarakat yang menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut.

Keteladanan Ferry seharusnya menjadi cambuk bagi beberapa pejabat daerah, yang sebagian sempat diberitakan ikut mengungsi ketika ada bencana menimpa daerahnya, dan menimbulkan kekosongan ruang pemerintahan. Mereka tetap harus bertugas, mengayomi warganya yang amat membutuhkan.

Apapun, keteladanan Ferry yang mengutamakan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan pribadi, apalagi dalam kondisi genting dan darurat, adalah inspirasi bagi kita semua.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Monday, December 10, 2018 - 10:00
Kategori Rubrik: