Seberapa Bermaknakah Hidup Kita?

ilustrasi

Oleh : Fahd Pahdepie

Demikialah, rutinitas membuat kita lupa pada makna hidup. Hari-hari kita dihabiskan hanya untuk memikirkan diri sendiri, memastikan perut kita kenyang, menjaga agar kenyamanan-kenyamanan kita tak terganggu. Menunggu hari esok yang sama lagi.

Kita sering lupa untuk mengerjakan misi menjadi sebaik-baiknya manusia, yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Padahal itulah sejatinya yang membuat hidup kita lebih bahagia, lebih bermakna.

Kapan terakhir kali kita menolong orang lain? Kapan terakhir kali kita mengerahkan tenaga untuk kepentingan orang lain? Kapan terakhir kali kita melihat senyum saudara kita yang kita bantu, kemudian kegembiraan bergemuruh di hati kita yang haru?

Jika ingatan itu kian samar dalam kepala dan hati kita. Izinkan hari ini saya menyampaikan nasihat Imam Al-Ghazali. Katanya, “…yang jauh itu waktu, yang dekat itu mati, yang besar itu nafsu, yang berat itu amanah, yang mudah itu berbuat dosa, yang panjang itu amal saleh, dan yang indah adalah saling memaafkan.”

Mari kita tulis ulang lagi. Yang jauh itu waktu. Bisakah kita mengingat-ingat apa yang persisnya kita lakukan di tanggal yang sama dengan hari ini setahun lalu? Apa warna baju yang kita kenakan? Siapa orang yang kita ajak bicara pada hari itu? Bagaimana perasaan kita?

Tanpa rekaman gambar, suara, atau tulisan, betapa sulit mengais-ngais kembali ingatan dan perasaan dari 364 hari yang lalu. Mungkin kita bisa memperpendek jaraknya: Apa yang terjadi tepat sebulan yang lalu? Seminggu yang lalu? Kemarin atau enam jam silam? Betapa jauh jarak diri dengan waktu, betapa singkat usia pikiran dan perasaan manusia dalam hidupnya.

Memang yang dekat itu kematian. Di hari ketika banjir bandang menerjang, longsor mengurug perkampungan, kebakaran melalap rumah-rumah, bus tergelincir ke jurang, kecelakaan maut, kilat menyambar dan menewaskan seseorang, atau musibah-musibah lainnya yang tak terduga-duga sebelumnya, siapa yang bisa mengukur jarak kematian dari diri seorang manusia?

Maka yang dekat itu mati, kata Al-Ghazali, jarak pengetahuan kita dengannya tak pernah benar-benar kita mengerti. Saat Anda membaca catatan saya ini, boleh jadi kematian itu sedang duduk dekat sekali di samping Anda, mengintai bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Sayangnya, seringkali ada sesuatu yang menghalangi kita untuk menyadari kematian yang dekat itu.

Yang besar itu nafsu. Tubuh kita tak pernah bisa menampungnya. Hidup kita tak pernah cukup untuk menuntaskan hasratnya: Pakaian kita yang berlebih, nafsu makan kita yang tak kenyang-kenyang, gaya hidup yang kita sendiri tak tahu di mana ujungnya.

Padahal yang berat itu amanah. Kita diutus ke muka bumi sebagai wakil Tuhan untuk menyebarkan kasih sayang, kebaikan dan kebijaksanaan. Sudahkah kita menunaikan peran mulia itu? Atau justru selama ini kita hanya menjadi si mahabenar bagi diri dan kelompok sendiri?

Kita yang senang menuduh orang lain tukang fitnah padahal diri kitalah si bebal yang sesungguhnya, kita yang begitu mudah menganggap orang lain yang tak setuju sebagai beda kubu, kita yang begitu gampang menghantam orang lain yang tak sepaham, kita yang gemar menerakakan saudara-sudara sendiri yang seiman? Telunjuk kita sibuk menuding-nuding orang lain seraya lupa mengaji diri.

Yang mudah itu berbuat dosa. Kita sering bertanya apa resep hidup bahagia, kita terlalu banyak mencari tahu bagaimana caranya untuk menjadi lebih tenang dan terbebaskan, tetapi kita tak pernah berhenti berbuat dosa.

Apa itu dosa? Kata Nabi, dosa adalah apa-apa yang menjadikan hatimu gundah dan ragu-ragu. Dengan ini, barangkali kita tak perlu motivasi apapun, tak perlu membaca buku atau menghadiri seminar apapun untuk bisa hidup bahagia… Kita hanya perlu berhenti terlalu mudah berbuat dosa. Apapun itu.

Sebab yang panjang itu amal saleh. Coba ingat-ingat lagi: Yang menyelamatkan hidupmu, yang membuatmu bertahan hingga hari ini, yang memberimu nafas dan kebahagiaan, adalah kebaikan-kebaikan yang pernah engkau lakukan pada dirimu sendiri dan orang lain. Bahkan sesuatu yang paling sederhana sekalipun, seperti sebuah senyuman, selalu membuat hidupmu lebih lapang dan usiamu lebih panjang, bukan?

Dan kelak, apakah yang akan menyelamatkanmu ketika hari-hari tak ada lagi dan orang-orang yang kau sayangi tak bisa dimintai pertolongan? Kebaikanlah yang akan menyelamatkanmu dari segala penderitaan.

Yang indah itu saling memaafkan. Coba kita ingat-ingat lagi: Barangkali kita pernah menyakiti seseorang atau barangkali kita pernah disakiti seseorang. Barangkali ini waktunya untuk menyudahi semua yang belum sudah. Barangkali ini saatnya untuk mengobati diri kita sendiri. Saling memaafkan satu sama lain. Bukankah kita terlalu sering menyalah-nyalahkan sambil selalu lupa memaafkan?

Kemarin saya mengunjungi beberapa lokasi bencana. Melihat saudara-saudara kita yang kesulitan di sana, rasanya nasihat Imam Al-Ghazali itu benar adanya: Yang jauh itu waktu, yang dekat itu mati, yang besar itu nafsu, yang berat itu amanah, yang mudah itu berbuat dosa, yang panjang itu amal saleh, dan yang indah adalah saling memaafkan.

Bisakah kita membuat hidup kita lebih bermakna? Mungkin ini saatnya kita berbuat baik, membantu sebanyak mungkin orang. Melampaui diri kita sendiri.

Salam baik.

Sumber : Status Facebook FAHD PAHDEPIE

Thursday, January 9, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: