Sebelum Kita Bertarung

Oleh:  : Sahat Siagian

Bisik-bisik mulai terdengar. Gerindra dan PKS, katanya, sudah berkecenderungan mengusung Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan sebagai pasangan capres-cawapres di perhelatan pilpres 2019. Untuk sementara ini kita anggap itu hearsay. Kendati pun benar mereka masih bisa berubah di menit terakhir. 

Saya ingin mengulang cuplikan dari tulisan pekan lalu, siapa tahu kalian tak paham berapa besar risiko yang harus ditanggung: kali ini Jokowi punya segalanya. 

Bukan cuma sederet pencapaian yang luar biasa banyak, bukan cuma karakter sederhana yang selalu tampil dalam kunjungan kerjanya, bukan cuma komitmen untuk menyejahterakan Indonesia, bukan cuma kesungguhan kerja seolah tiada hari tanpa kerja, bukan cuma ketahudirian sebagai abdi rakyat, bukan hanya kejujurannya, bukan terbatas pada kepeduliannya, tapi juga agenda Agustus hingga April bakal sesak dipenuhi events yang memberi ruang lebar bagi peningkatan elektabilitas Jokowi. Itu tidak main-main.

 

 

Asian Games akan menghadirkan ratusan ribu orang asing di negeri ini—pesta besar yang belum pernah digelar Indonesia pasca-Soekarno. 

Kita tidak dihitung dunia sebagai negara yang pantas dan berkemampuan melaksanakannya. Kepemimpinan Soeharto, orang kuat itu, cuma sebatas Asean, tidak lebih. Hanya Sea Games yang berulangkali mondok di Jakarta. Selebihnya, seluruh event besar, terasa sebatas peristiwa eskatologik: terselenggara di ujung mimpi, angan-angan, fantasi, dan nubuatan—hanya diimajinasikan tapi tak berani kita usul dan kerjakan.

46 tahun kita hidup sebagai orang tanpa kepribadian, tanpa masa depan. Meski kuat secara militer di masa Soeharto, Indonesia merunduk ke Singapura, tak pernah bediri tegak di hadapan Jepang. Jangankan mengimpikan Komite Olympiade Asia memilih Indonesia menghelat Asian Games, mengusulkan diri saja kita tak punya nyali. 

Kita hidup sebagai orang tahu diri dan puas sebagai salah satu yang terdepan di kelompok negara berkembang. Sedikit kebanggaan pernah kita nikmati ketika Tetuko, CN235 dan kawan-kawannya melayang di udara. Tapi cuma sebentar, Indonesia nyaris karam di 1998. Setelah itu kita jadi paria.

Tiba-tiba lelaki tak tahu diri dari Solo tampil ke panggung. Dia berkata penuh senyum dan berjanji membuat repot negara tetangga kalau sejenak saja berani ngimpi menginjak-injak wilayah Indonesia. Dia tak main-main. Di atas kapal perang di pulau Natuna, dia arahkan tangannya ke Cina. Mungkin itu terhitung simbolik. Tapi yang pasti upaya Cina mendaku sebagian kecil wilayah Indonesia terhenti.

Dia runtang-runtung ke berbagai summits, menjadi pembicara di banyak pertemuan para pebisnis dengan bahasa Inggris secukupnya. Sebagian orang meledek, ia tak peduli. Ia tahu, ia membawa sebuah perhitungan penuh peruntungan bagi siapa saja yang tertarik berinvestasi di Indonesia. Tentu kesejahteraan rakyatnya yang ia usung sebagai menu utama.

Dan benarlah. Dana datang berbondong-bondong. Setelah Indonesia membenahi birokrasi, meluncurkan sekian paket reformasi keuangan, memangkas perizinan, maka badan peringkat dunia menabalkan Indonesia sebagai negara yang sangat-sangat layak untuk menjadi tujuan investasi. Lalu kita terangkat tinggi. Penyelenggaraan Asian Games akan menjadi konfirmasi atas posisi Indonesia di pentas dunia, terutama Asia.

Sila melancong ke Singapura atau Malaysia. Masuklah ke dalam taksi. Sopir pasti bertanya darimana Anda berasal. Dan begitu mereka tahu Anda dari Indonesia, serenceng pertanyaan tentang Jokowi meluncur tak bisa dihentikan. Sebelum keluar dari mobil hidung Anda bakal kembang-kempis menerima pujian tentang betapa beruntungnya Anda memiliki presiden seperti Jokowi.

Anda tak bisa mencegah Cina untuk mengarahkan pandangan ke Indonesia setelah Amerika Serikat. Mereka telah melihat masa depan Indonesia sebagai salah satu kejayaan dunia di 10-15 tahun mendatang. Sila pejamkan mata atau palingkan muka jika Anda tak tahan melihat itu di wajah mereka.

Sudah Anda bayangkan seperti apa upacara pembukaan Asian Games kelak dan siapa saja pemimpin Asia yang hadir di Gelora Bung Karno? Kalau belum, sebaiknya ingatkan diri Anda untuk tidak penah melakukan itu daripada muntah darah setelahnya. 

Berbagai sanggar tari tengah berlatih di beberapa tempat. Penata lampu kenamaan telah siap mempertontonkan keajaiban cahaya di depan mata. Saya tak tahu apakah Jokowi akan memanah di kesempatan itu. Yang pasti, upacara tersebut akan disiarkan secara langsung ke seluruh negara di Asia. 

Mereka akan menyaksikan keindahan dan keajaiban Indonesia melalui atraksi seni dari negara dengan kekayaan budaya terbesar di dunia. Jangan, Anda jangan garuk-garuk aspal ketika membaca paparan ini. Menangislah untuk meratapi kedunguan tapi jangan lukai dirimu.

Ketika Asian Games selesai, momen internasional berikutnya sudah menanti: IMF-World Bank Summit. Ini edan. Seluruh menteri keuangan dari negara anggota IMF dan Bank Dunia bakal berkumpul di Jakarta. Bukan hanya itu, para pewarta dunia dari kelas cemen sampai media kakap tumplek di Bali. Indonesia jadi pusat sorotan dunia selama beberapa hari. Wilayah eksposenya sebatas langit. 

Saya tak bisa membayangkan kalimat pujian dari berbagai delegasi dan menteri keuangan dalam sambutannya kepada Indonesia dan Jokowi. Saya tak punya stok kalimat yang cukup untuk menggambarkan keriuhannya dan tentang bagaimana jaringan berita CNN, NBC, MSNBC, Bloomberg, NHK dan lain-lain meliput Indonesia.

Kalian masih nekad ngelamun? Baiklah, saya lanjutkan.

Seperti saya sampaikan di tulisan sebelumnya, ada seabrek proyek yang akan diresmikan Jokowi di medio September – April. Kalau cuma 1-2, kalian bisa mengarang cerita fiktif untuk memutarbalikkannya. Tapi kalau itu berlangsung sekali dalam seminggu, publik akan menganggap kalian nenek rempong, nyinyir, penuh fitnah dan khianat serta mengonfirmasi apa yang selama ini menjadi kecurigaan orang. Belum lagi pembagian sertifikat tanah yang mungkin bisa berlangsung tiap hari sepanjang Januari — April. 

Mardani Ali Sera boleh bikin hastag baru dengan mengutip ucapan Amin Rais: Ngibul. Tapi, mari berimajinasi dengan tenang tentang sebuah keluarga, yang sudah sekian lama hidup dalam kemiskinan, tiba-tiba mendapatkan sertifikat tanah 1-2 ha. Dan keluarga itu tidak sendiri. Ada puluhan keluarga lain di desa tersebut. Mereka bisa menggunakannya untuk mendapat pinjaman bank.

Bagai virus, kebahagiaan mereka menyebar ke seisi kampung, memadamkan jutaan narasi kebencian. Anda bisa merekayasa dusta. Anda tidak punya tools untuk memfabrikasi kebahagiaan. Itu mekar apa adanya karena dari dalamnya menyembul optimisme tentang masa depan. Anda tak berdaya menghalaunya.

Sekaligus dengan itu narasi kebencian yang dipadamkan mencari ruang untuk makan korban: pemiliknya sendiri. Suara PKS dan Gerindra tergerus dalam pemilu legislatif. Jangankan membesarkan Gatot-Anies, bahkan bertarung dengan PSI pun kalian bakal repot. Dan itu malapetaka.

Mari masuk ke masa setelah pilpres 2018. Jokowi kembali menjadi presiden. 9 partai mengumpulkan suara di DPR sebesar 84%--5 partai: Gerindra, OKS, Partai Berkarya, Partai Garuda, dan PBB, berbagi suara 16% (saya terlalu baik memperkirakan hasil akhir semacam itu). Apa yang kemudian terjadi?

Pemerintahan berjalan lancar. Kelompok oposisi cuma jadi cameo. Tak ada yang peduli apakah kalian hadir di gedung parlemen atau bolos sepanjang tahun makan gaji buta. Kalian tak ada di mana-mana: tidak di kabinet, tidak di kursi pimpinan DPR, tidak di kursi pimpinan MPR. Semudah kalian mengubah UU MD3 sebelum pelantikan presiden 2014, sebegitu mudah pula bagi mereka menyingkirkan kalian dari kursi pimpinan.

Kalian dianggap tak berguna, tidak kelihatan, sampah peradaban. Cuma soal waktu bagi kalian berlima untuk terpuruk hingga tinggal hanya segede PBB, yang untuk mengikuti pemilu saja kebat-kebit, komat-kamit berharap pada surga. Lalu kalian hilang selamanya, tertulis di buku sejarah, hanya dikenang sebagai partai-partai yang memusuhi kesejatian pada pikada DKI 2017. 

Jadi, sebelum kita bertarung, berpikirlah 7 kali. Upaya memasarkan Gatot-Anies berbiaya sangat mahal, terlalu mahal, kalian tak sanggup menanggungnya. Tapi kalau kalian ngotot karena mengira narasi sahur dan tarawih Mei-Juni 2018 sanggup mengubah keadaan untuk mempersiapkan publik menerima Gatot-Anies, kalian betul-betul meremehkan kami.

Telah kami siapkan narasi agung untuk mengubah kebencian menyenandungkan cinta. Tak percaya? Sila coba, sebab barangkali kami memang harus bertarung dengan kalian untuk memastikan plot kesumat tak pernah ada lagi di Nusantara. 

Setelah kalian lenyap, setelah kalian mengasingkan diri, kawasan ini tumbuh, meranggas, memimpin dunia memasuki era baru. 

Sahat Siagian

 
(Sumber: Facebook Sahat Siagian)
Thursday, April 12, 2018 - 10:15
Kategori Rubrik: