Sebaik-baiknya Manusia

Oleh: Erizeli Bandaro
 

Banyak orang menuduh saya cinta buta dengan Jokowi, dan bahkan ada yang menyebut saya penjilat. Saya hanya menyikapi dengan tersenyum. Tapi baiklah saya jelaskan sikap saya. Walau secara pribadi saya pernah berbicara dengan Jokowi secara langsung tapi itu tidak ada kaitannya dengan saya sebagai pendukung politik atau relawan. Itu hanya antara saya sebagai rakyat dan dia sebagai presiden. Cinta buta saya hanya kepada Allah. Hanya itu.

Saya tegaskan bahwa selalu ada alasan kita berbuat dan bersikap. Ada yang menyikapi langsung ( tanpa mikir jauh , tanpa check dan recheck ) setiap apa yang terjadi dan di rasakan. Itu bersikap pragmatis namanya. Ada juga yang melihat persoalan secara luas, setidaknya alasan dibalik sikap dan perbuatan orang lain. Ini namanya bijak. Mengapa di katakan bijak? Karena butuh kesabaran dan ketenangan serta hati yang bersih untuk bersikap atas persoalan yang kita rasakan dan hadapi. Demikian sikap saya yang berusaha saya apply dalam setiap persoalan hidup.

Apapun tindakan Jokowi sebagai presiden adalah produk politik. Yang namanya politik tidak ada yang free, akan selalu ada kompromi dengan elite politik lain. Karena ingat bahwa jokowi tidak di pilih 100% oleh rakyat dan Partai yang mendukung dia juga tidak 100% menang. Artinya melalui distribusi politik ada pihak lain yang tidak sependapat dengan dia dan punya hak untuk menentukan dinamika politik di dalam negeri. Ini tidak mudah. Tapi dengan latar belakangnya sebagai pengusaha kreatif yang tak pernah bersinggungan dengan bisnis rente , itu membuat dia terlatih menghadapi tantangan dan kesulitan dengan kekuatan yang sulit di pahami bagi orang yang terbiasa hidup sebagai pekerja atau bisnis KKN.

Mengapa saya mendukung? Ada tiga hal yang saya lihat pada Jokowi bahwa Pertama , dia berbuat karena prinsip nilai nilai kebaikan. Anda bisa bayangkan berbuat baik di tengah elite politk yang terbiasa menjadikan politik sebagai tempat menumpuk harta dan kehormatan, itu tidak mudah. Kedua, atas dasar prinsip nilai kebaikan itu, dia harus berjuang menegakan kebenaran. Tentu dengan cara yang baik pula. Tidak dengan pedang atau senjata untuk tegaknya kebaikan tapi melalui keteladanan akhlak. Dia menjauh dari harta dengan terlebih dahulu meminta keluarganya tidak memanfaatkan kekuasaan yang sehingga bisa menmbulkan fitnah. Dia juga menghindari simbol kekuasaan yang gila hormat, dengan penampilan yang bersahaja.

Kedua hal itu tidak mudah. Kita punya pengalaman presiden sebelumnya betapa mereka suka sekali dengan harta dan gila hormat, sehingga kekuasaan itu bagaikan istana, yang sebetulnya rakyat tahu itu istana gading. Ada beberapa elite partai yang membawa simbol agama dan sorga , ternyata hanya jabatan pimpinan partai atau Gubenur atau menteri tidak mampu menahan godaan harta dan kehormatan itu. Mereka masuk penjara dan terhina karena amanah kekuasaan yang di embannya. Jelas kan , mengenggam kekuasaan itu tidak mudah. Cobaan maha berat.

Ketiga, Jokowi sangat percaya kepada ketetapan Tuhan. Apa buktinya, ? di tengah hantaman dari segala penjuru mata angin dari lawan politiknya, dan situasi ekonomi global yang suram, tidak membuat dia berpikir negatif atau berprasangka buruk. Semua di hadapinya dengan sebaik baiknya istiqamah yang bisa dia lakukan. Semua aspek terjaga dengan baik karena dia menanamkan keyakinan tentang sepatah kata apa yang mungkin dapat di lakukan untuk menimbulkan inspirasi orang membantunya dengan berpikir positip, dan selalu mendengar aspirasi dari manapun sumbernya, termasuk dari lawan politiknya. Pada akhirnya walau itu kadang terkesan merusak citranya di hadapan teman atau lawan politiknya , namun demi kebenaran harus di tegakan dan keadilan harus di menangkan, dia ikhlas. Karena pada akhirnya nilai manusia sesungguhnya ada pada sisi Tuhan, bukan manusia.

Apapun hasilnya , dia berserah diri kepada Tuhan. Mengapa ? Sehebat apapun manusia berbuat, pada akhirnya kehendak Tuhan yang berlaku. Cobaan akan selalu ada, termasuk orang yang tidak selalu setuju dengan keputusannya, orang buruk laku selalu ada, pengkhianat akan selalu ada, Semua di hadapi dengan sabar. Karena itu cobaan untuk dia sebagai pemegang amanah agar dia tetap di jalan Tuhan, dan percaya Tuhan maha penolong satu satunya.

Anakku...Ketiga sikap dari Jokowi, utamakan kebaikan, berjuang menegakan kebaikan dengan cara baik, serta percaya kepada ketetapan Tuhan , itu sebenarnya adalah ciri dari sebaik baiknya manusia, dan semua kita harus berjuang melaksanakannya , tidak dengan retorika tapi perbuatan. Semakin besar tanggung jawab kamu semakin besar cobaan kamu. Tuhan punya cara hebat menguji keimanan orang karena sorga itu tidak mudah dan pasti tidak murah. Tidak semudah menghafal kitab mulia dan tidak semurah zikir berbusah lidah..
Pahamkan sayang...

 
(Sumber: Status Facebook Erizeli Bandaro)
 

 

Monday, September 5, 2016 - 08:30
Kategori Rubrik: