Sebab Perempuan Ini Bernama Iriana

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Satu di antara beberapa perempuan yang entah bagaimana bisa selesai kita nilai sebelum kemudian kita mau luruh mengaku dan percaya bahwa semua bahasa tubuh yang dikirimkannya berikut senyum manis yang seperti abadi di wajahnya itu, bukan bagian dari triknya untuk membuatmu jatuh hati dan memilihnya sebagai tempat bercermin.

Wajah itu seperti wajah yang mewakili wajah ibumu dan ibuku. Wajah yang menyimpan keteduhan, kelembutan, wajah yang siap menerima baik burukmu. Wajah yang bersetia memaklumi dan memaafkanmu.

Adakah pernah kau melihatnya tersedu atau sekadar geram di depan publik bahwa tudingan yang diberikan kepada dirinya, suami dan keluarganya terkadang sudah terlalu melampaui batas kewajaran?

Dulu, siapa yang peduli bahwa jatuh bangun seorang Joko Widodo si tukang kayu yang namanya telah tertera di Lauh Mahfuzh akan memimpin negeri yang besar ini, ternyata ditemani seorang perempuan yang tak banyak cakap dan terukur lakunya.

Jika orang-orang sering merangkumnya dengan satu kata yang kerap kita dengar; sederhana, Iriana bagi saya adalah seorang perempuan yang teruji ketenangannya.

Entah beliau tahu diri bahwa menjadi seorang perempuan yang berdiri di belakang seorang lelaki yang memimpin negara besar bukanlah sesuatu yang receh, melainkan sebuah amanah yang sangat berat, tapi jelas dengan segala gestur tubuh dan keseharian penampilannya, Iriana adalah gambaran kekuatan dan kesabaran.

Di setiap kesempatan ketika kamera memberinya sorot, ia tak menjadi lepas kendali. Biasa saja. Kalau boleh ia menjawab semua pertanyaan yang membikin kita setengah mati penasaran dengan senyuman sebagai tanda bahwa apapun yang telah dan akan ia alami, niscaya ia baik-baik saja.

Bu, penampilan Ibu kok terlalu biasa?

Bu, kok ndak punya akun media sosial?

Bu, mbokya marah sedikit kalau sudah terlewat dihina dan difitnah...

Dan...

Bu, mengapa tidak pakai jilbab?

Lalu tamparan itu kembali ke wajah setiap perempuan yang melontarkan pertanyaan tersebut sebab lisan, laku serta akhlak seorang Iriana begitu sulit mereka temukan celanya.

Ia tidak maju mewakili suaminya bersuara. Ia tidak tahu cara memamerkan kecerdasannya atau menyombongkan derajatnya. Ia mendidik anak-anaknya dengan adab dan kemandirian yang sangat baik. Ia membalas semua sikap sinis dan cercaan dengan sikap tenang. Ia mempergunakan apa yang sebenarnya menjadi haknya dengan secukupnya. Ia yang seperti ingin merangkul semua perempuan dengan bagaimana ia menampilkan diri. Kita hanya berbeda di persoalan nasib semata, tidak perlu berlebih-lebihan.

Iriana yang selalu merasa cukup menjadi seorang perempuan, istri dan ibu seperti saya dan kalian.

#AkuIriana170419TDH

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Sunday, February 10, 2019 - 13:15
Kategori Rubrik: