Seandainya Saya Masuk Islam

Ilustrasi

Oleh : Desrinda

Saya dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, karena waktu itu ayah saya almarhum mengajar di AKABRI semasa SBY masih taruna. Tapi keluarga saya aslinya Baturaja, Sumatera Selatan, yang tradisi Islamnya kuat sekali sehingga “terpaksa” saya belajar mengaji sejak TK hingga tamat SMA, dua kali seminggu dengan guru yang didatangkan ke rumah. Tahun-tahun pertama, pelajarannya hanya “alif di atas a, alif di bawah i, alif di depan u, a i u…” kemudian surat-surat pendek dari Al Fatihah sampai An Nas.

Belakangan pelajarannya bertambah. Pak Haji Biddin, marbot masjid dekat rumah yang mengajar saya semasa SMP-SMA, bukan lagi sekadar membimbing membaca Qur’an ayat demi ayat dengan tajwid, bolak balik khatam berkali-kali (selama enam tahun tinggal di Sekip Ujung, Palembang), tapi juga menjelaskan tafsir dan asbabun nuzul. Sedihnya, waktu itu saya sedang jadi ABG labil. Susah diatur. Bawaannya pengen nakal karena tersiksa sekali dengan segala aturan orang tua yang mengekang. Jadilah segala ajaran Wak Biddin nyaris nggak ada yang nempel di kepala, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Sekarang rasanya menyesal sekali.

Anyway waktu itu saya merasa sudah on the right track. Islam is my path. My way of life. Bukan sekedar agama warisan (karena kebetulan dilahirkan di keluarga Muslim), tapi bertahun belajar ngaji itu menyakinkan saya bahwa memang Islam ajaran agama yang saya pilih. Belakangan waktu kuliah di UI ada teman yang dua kakak beradik lahir di keluarga Muslim lalu memutuskan meninggalkan warisan mereka, yang satu menjadi umat Katholik, adiknya mengikuti ajaran Kristen Protestan. Fine with me. Mereka pastinya memilih ajaran kasih sayang Yesus alayhi salam yang mengorbankan diri menjadi penebus dosa umatnya, sementara Muslim harus bertanggung jawab atas dosa masing-masing.

Kewajiban Muslim pun jauh lebih berat dari umat agama lain. Wajib berdoa 5x sehari, tidak cukup hanya morning mass atau seminggu sekali ke gereja. Puasa pun harus sebulan penuh. Zakat harus dibayar. Hanya berhaji yang diberi judul “jika mampu”. Kalau berdoanya kurang dari 5x sehari (17x bersujud pada waktu-waktu yang ditentukan) maka Muslim langsung tercatat sebagai pendosa.

Kalau berpakaian tidak menutup aurat juga langsung jadi pendosa. Apa lagi kalau berbohong, korupsi, berzina, berjudi, mengkonsumsi sesuatu yang memabukkan (alkohol atau narkoba dan semacamnya), menyakiti/membunuh sesama mahluk hidup bukan untuk mempertahankan diri, dll. Makan babi aja nggak boleh, makan hewan bertaring atau menjijikkan itu haram, makan hewan yang hidup di dua alam juga nggak boleh, mengkonsumsi jenis protein hewani lain pun harus yang disembelih dengan menyebut nama Allah dan melalui prosedur tertentu (agar tidak menyiksa). Makan hewan laut pasti “aman”, tapi repotnya nggak boleh dimasak/dihidangkan dengan menggunakan alat-alat yang digunakan untuk memasak babi, juga nggak boleh kalau pernah dijilat anjing, kecuali sudah disucikan dengan dibasuh 7x (salah satunya dengan tanah).

Jadi, saya maklum kalau ada yang memutuskan mengikuti ajaran agama lain yang lebih sederhana dan gampang diikuti daripada Islam. Sebaliknya saya salut kalau ada umat beragama lain yang pindah keyakinan menjadi Muslim dengan segitu banyaknya kewajiban dan larangan. Yang tadinya asyik aja jalan ke mana-mana bercelana pendek, jadi diceramahi harus berkerudung. Sudah berkerudung pun nggak boleh jilboobs, bajunya harus longgar tanpa menunjukkan lekuk tubuh. Bajunya sudah longgar pun masih dibilangin supaya jilbabnya panjang melintasi dada dan pinggul. Sudah berjilbab syar’i, kalau masih berwarna warni akan dibilangin cuma boleh hitam atau berwarna gelap supaya tidak menarik perhatian. Cukup? Belum. Sekalian kalau keluar rumah ada yang mengharuskan Muslimah menutup muka dan bersarung tangan, berkaus kaki, serba hitam supaya semilimeter pun kulit nggak boleh terlihat oleh laki-laki non mahram yang gampang ngacengan.

Jangan lupa, nggak boleh bersuara juga karena laki-laki itu bisa terangsang kalau mendengar suara perempuan. Seorang teman berseloroh, “Ya gitu deh… Volume darah kami, para lelaki, tidak cukup untuk memfungsikan dua kepala; atas dan bawah secara bersamaan…”

#tepokjidat

Laki-laki memang racun dunia. Situ yang gampang horny, kok jadi perempuan yang disalahin. Kalau nggak pada jelalatan nafsuan, dan ini alasan terjadinya pembunuhan pertama manusia (Kain membunuh Habil karena ingin memperistri perempuan yang lebih cantik), nggak perlu tuh ada ayat-ayat “ulurkan jilbab ke seluruh tubuh” (Al Ahzab [33:59]) dan “menutupkan kerudung ke dada” (An Nur [24:31]). Eh malah jadi OOT.

Kembali ke laptop…

Dengan segitu banyak kewajiban dan larangan, ternyata banyak aja orang yang memilih menjadi Muslim dengan kesadaran sendiri. Belum ada catatan yang pernah saya baca mengenai bagaimana Islam menjadi agama mayoritas penduduk di Pulau Sumatera (keturunannya kemudian menjadi komunitas Muslim di kawasan Indonesia Timur, juga mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Filipina sebelum gugusan 7 ribu pulau itu dijajah Spanyol lalu menjadi negara Katholik nomor 3 terbesar di dunia). Namun mengenai dakwah Wali Songo di Pulau Jawa banyak sekali referensinya.

Para wali yang keturunan Imam Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu dan Fatimah binti Muhammad radiallahu anha itu berdakwah dengan menunjukkan bahwa Islam adalah ajaran moderat yang membawa nilai-nilai demokratis.

http://kbbi.web.id/moderat

moderat/mo·de·rat/ 1 selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem; 2 berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Huud [11:112])

Selain kewajiban dasar terhadap Allah (shalat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadhan), ibadah yang lain nggak boleh melampaui batas. Rasulullah shallallahu alayhi wasallam melarang shalat sepanjang malam sampai nggak tidur, juga nggak boleh berpuasa terus-terusan (kalaupun mau ya maksimal puasa Nabi Daud yang selang seling sehari berbuka sehari puasa).

Demokratisnya karena sistem kepemimpinan dalam Islam selepas wafatnya Kanjeng Sayyidina Nabi itu berdasarkan baiat pilihan umat, bukan jabatan yang diwariskan turun temurun a la Bani Umayyah/Abbasiyah/Utsmaniyah.

Sistem pemerintahan di Arab Saudi yang monarkis itu nggak Islami. Yang jadi raja akhirnya bukan yang terbaik menurut konsensus umum melainkan semaunya yang bertahta aja. Nggak boleh tuh kayak Raja Salman mencabut kedudukan putra mahkota dari keponakannya Muhammad bin Nayef bin Abdulaziz Al Saud (harusnya Nayef bin Abdulaziz Al Saud yang giliran naik tahta menggantikan Raja Abdullah kalau nggak keburu meninggal tahun 2012) lalu diberikan kepada anaknya sendiri Muhammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, bikin ribut pangeran-pangeran lain. Yang bener ya kayak di Indonesia dan Iran, rakyat mengikuti pemilihan umum untuk memberi suara menentukan siapa yang menjadi presiden.

https://geotimes.co.id/demokrasi-mengembalikan-politik-isl…/

Jadi, seandainya saya terlahir sebagai non-Muslim, pastinya saya masuk Islam sama seperti alasan orang-orang Jawa di abad ke-15 setelah didakwahi oleh Sunan Ampel, Sunan Gresik, Sunan Kalijaga dll para wali yang mengajarkan bahwa:

– rakyat jelata bisa masuk surga walaupun miskin nggak banyak harta untuk beramal, banyak sekali cara mendapatkan pahala yang gampang dan gratis (salah satunya bersedekah dengan senyum)

– semua orang punya akses untuk berkomunikasi dengan Sang Hyang Widhi (istilah Hindu yang artinya Tuhan Yang Maha Esa), cukup dengan mensucikan diri, kalau nggak ada air ya bisa bertayammum, lalu wuuus…langsung bablas berhadapan langsung Gusti Allah Subhana Wa Ta’ala, bisa menyampaikan segala uneg-uneg, memohon petunjuk dan kemudahan, juga dapat kesempatan agar dimaafkan segala kekhilafan (tentu sembari berjanji nggak akan mengulangi lagi).

– Islam memberi batasan apa yang boleh, dan apa yang nggak boleh, yang sangat make sense untuk menjadikan hidup lebih teratur dan bermartabat (terutama urusan menjaga kebersihan juga mengelola hubungan sosial dengan seisi dunia)

– Islam menyuruh menyebar kebaikan, karena “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr [103:2-3])

Makanya saya jadi heran sama muallaf modelnya Jonru, Felix Siauw, Irene Handono yang kalau “ceramah” isinya melulu menyebar kebencian terhadap pemerintah dan kepercayaan umat agama lain. Maksute opo toh? Kalau audience mereka udah Muslim yo mbok ngajari supaya bisa menjadi Muslim yang lebih baik dalam beribadah kepada Allah juga makin sayang kepada sesama (amar ma’ruf) dan menjauhi maksiat (nahi munkar), bukannya malah bikin orang lain jadi dengki mencaci maki, menghina, mengorbankan permusuhan.

Ajaran kyai mana sih yang mereka ikuti? Siapa sih yang ngajarin Islam kepada mereka sehingga dari Kristen/Katholik jadi Muslim yang begitu? Mau niru akhlaq Rasulullah dan para sahabat, tabi’in, atau malah bertabiat pembenci pendengki penghasut kayak Abu Jahal, Abu Lahab, dll?

Wallahu a’lam.

Sumber : Status Facebook Desrinda

Monday, June 26, 2017 - 22:15
Kategori Rubrik: