SDIT Darul Maza Kandang Sapi?

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Ada sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu bernama Darul Maza di Bekasi yang bermasalah dengan gurunya. Mereka melakukan pemecatan sepihak di WA. Persoalannyapun memalukan, hanya karena perbedaan pilihan politik di Pilkada Jabar kemarin.

Pihak sekolah dan guru pekok (seperti yang namanya tertera di WA yang viral) itu konon bersilaturahmi ke rumah mantan guru tersebut. Dengan dalih menjaga nama baik dan hubungan baik, padahal dengan itu mereka justru pamer pekok ke publik.

 

 

Beberapa hal yang penting untuk dicermati dalam kasus ini:

Pertama, status guru itu tetap dipecat.

Jadi, omong kosong pihak sekolah itu tak masuk akal semua. Tidak mengubah status mantan guru itu. Mereka hanya ingin mencitrakan sekolah mereka baik, bijak, cerdas. Padahal jelas pekoknya. Lagipula mereka takut jika kasus ini ditindak-lanjuti pihak terkait.

Beberapa berita buru-buru dari Detik menampilkan kisah berbeda. Namun berita dari Kompas meyakinkan, Robiatul Adawiyah, guru yang dipecat itu tidak kembali mengajar di sekolah itu lagi.

Kedua, adanya pemaksaan pilihan politik.

Sebagaimana asas Pemilu, soal pilihan politik itu hak individu. Memaksakan pilihan politik atau menghalangi hak itu, menciderai demokrasi. Tentu ada undang-undang yang dilanggar, seperti UU nomor 8 tahun 2012, pasal 292. Juga undang-undang lain yang berkaitan dengan hak itu.

Pihak sekolah sengaja datang ke rumah mantan guru itu agar tidak diproses secara hukum. Kasus pelanggaran ini termaafkan seperti kebiasaan orang kita. Padahal persoalan itu bisa terjadi di lain waktu, di tempat berbeda.

Ketiga, sekolah itu jelas munafik.

Mereka tidak mengakui kebodohan karena memaksakan kehendak politik. Kedatangan mereka adalah untuk menutupi jejak kesalahan. Demi silaturahmi. Demi menghindari hal-hal tak diinginkan. Silaturahmi kepalamu!

Kesalahan pihak sekolah tak bisa diselesaikan dengan silaturahmi dan mohon maaf. Guru itu telah kehilangan pekerjaan dan kebebasannya untuk memilih. Dia diintimidasi. Tentu harus ada ganjaran setimpal sebagai efek jera bagi sekolah yang lain.

Keempat, sekolah itu jelas kandang sapi.

Saat kepala sekolah tersebut mendatangi rumahnya bersama dua orang guru lain, sebagian orang membela sekolah tersebut karena anak mereka ada di sana. Mereka menyangkal bahwa sekolah itu di bawah kendali PKS.

Kepala sekolah itu bernama Rince Wiki Utami, dia adalah Kabidpuan DPC Jatiasih. Persis sebagaimana yang terdaftar di Disdakmen Kemdikbud. Pihak sekolah memang menyangkal, pemecatan itu bukan perintah resmi mereka. Padahal Fahrudin, oknum yang galak di WA tersebut adalah suaminya Utami.

Jadi sudah jelas, drama wagu PKS itu pura-pura belaka.

Kelima, Pemerintah melalui kementerian terkait harus turun tangan.

Sampai saat ini belum ada tanggapan resmi, apalagi tindakan cepat. Menteri-menteri letoi itu terbiasa melihat kasus membesar dan tak terkendali. Atau nunggu ditegur presiden. Baru mereka bertindak.

Lukman jangan hanya bisa ngurus soal haji. Muhajir jangan hanya bisa bikin pidato saja. Sekolah keagamaan ini, dan sekolah bau sapi lain harus diproses. Kalau terbukti sebagai tempat pendoktrinan politik, sekolah itu harus ditutup. Kalian punya nyali?

Persoalan ini sebenarnya sudah sangat lama, sejak reformasi bergulir. Mereka tumbuh subur di jaman SBY karena dibiarkan. Ini bukan kejadian pertama. Tolong jangan budek.

Keenam, masyarakat secara umum harus ikut mengecam sekolah pekok semacam ini.

Tanpa sepengetahuan kita, boleh jadi anak-anak itu dicuci otaknya di sana. Kualitas gurunya saja bisa pekok begitu, apalagi doktrin ke muridnya. Dan ini berbahaya bagi negara, berbahaya bagi akal sehat. Berbahaya bagi kemerdekaan individu dalam berpolitik.

Anak-anak yang mengkafirkan temannya, mengatakan orang tuanya sesat, lahir dari sekolah semacam itu. Ada banyak kasus sebenarnya, tapi semua orang adem ayem dan membiarkan sekolah semacam itu menjamur.

Ketika netizen heboh, kemudian kasus itu viral, baru ada kepedulian, seperti yang telah dilakukan Ridwan Kamil terhadap kasus tersebut.

Dulu PKS tidak punya sekolah, mereka nebeng Muhamadiyah. Setelah berkonflik, akhirnya mereka bikin sekolah sendiri. Ironisnya, Muhamadiyah kabarnya juga sudah tersusupi gejala serupa. Di sekitar kita muncul sekolah-sekolah yang tak ramah pada kebhinekaan. Sekolah-sekolah yang jadi pembibit radikalis.

Perguruan tinggi sudah mulai galak dengan dosen dan ajaran radikalisme. Meskipun konon 23% mahasiswa sudah terinfeksi. Namun pemukiman eksklusif atas nama agama, sekolah terpadu dengan embel-embel agama, masjid-masjid radikal, masih tak terkendali. Jelas, di sana jadi sumber doktrin anti kebhinekaan.

Kita mengutuk aksi teror, intimidasi, intoleransi, tapi permisif pada sekolah yang menyediakan bibit radikalis melimpah. Karena ada embel-embel agamanya. Mungkin agak terlambat untuk membasmi mereka. Namun kita tentu tak boleh membiarkan parasit-parasit itu mengubah pelan-pelan generasi penerus kita menjadi monster yang tak kita kenali.

Sekarang, atau Indonesia ini benar-benar tak bisa diselamatkan lagi!

(Dalam foto berikut, coba tebak, guru bau sapi itu yang mana)

 

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Monday, July 2, 2018 - 20:45
Kategori Rubrik: