SBY Tiru Jokowi Ketemu dengan Netizen

Oleh : Suci Handayani

Selama ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membiasakan mengundang masyarakat dari berbagai kalangan untuk datang ke istana negara  dan mendengarkan berbagai masalah dari tamu yang diundangnya. Selain itu juga untuk mendiskusikan berbagai hal. Hal tersebut seperti yang dilakukan Gus Dur, mantan presiden RI ke-4 yang membudayakan mengundang kalangan masyarakat ke istana negara.

Kalangan masyarakat yang diundang salah satunya netizen,  baik yang aktif di Kompasiana, maupun di media sosial lainnya. Bahkan sudah beberapa kali kalangan netizen diundang Jokowi.

Terkait dengan netizen, Jokowi  menganggap para netizen menjadi bagian penting  yang harus di perhatian dan didengarkan. Bukan rahasia lagi, kiprah netizen yang aktif menulis di dunia maya , diakui atau tidak mampu mengalang kekuatan  tersendiri dan mampu mempengaruhi  pandangan public. Khusus menjelang pilihan presiden, netizen yang pro dan kontra Jokowi  mampu membuat warna dan memegang peran yang penting dalam mempengaruhi pilihan public.

Trend ketemuan dengan netizen ini rupanya telah mengilhami  mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk melakukan hal serupa.

Kemarin, Sabtu (20/2/2016),SBY,  Ketua umum  Partai Demokrat  mengumpulkan netizen untuk berdiskusi di  di Raffles Hils,  Cibubur.  Diskusi  tersebut membahas  hal yang masih fress yaitu tentang perlu atau tidaknya revisi UU KPK dengan tema besar Perlukah Revisi UU KPK.

Diskusi dihadiri 25 netizen yang  berprofesi sebagai  Jurnalis, dokter, dan mahasiswa . Mereka kabarnya berasal dari Bandung, Tasikmalaya, Purwokerto, dan Jakarta. Sama seperti konsep Jokowi, netizen diminta untuk mengemukakan pendapatnya soal revisi UU KPK.

Kenapa SBY temu darat dengan para netizen?

Sependek pemahaman saya selama ini, selama menjadi presiden, SBY belum pernah kopi darat dengan netizen. Padahal ia menjabat sebagai presiden selama 2 periode alias 10 tahun. Lha, kenapa  baru sekarang ia mau-maunya ketemuan dengan netizen.

Inilah ‘kehebatan’  SBY, meniru langkah Jokowi yang semakin populis di mata rakyatnya.

Menurut pendapat saya, setidaknya ada beberapa hal yang mendasari SBY kopi darat dengan para netizen

Pertama, sesungguhnya SBY merasa malu sekaligus menyesal karena selama menjadi presiden tidak kepikiran untuk mengundang  rakyat dari berbagai kalangan termasuk netizen untuk kopi darat di istana. Lha, ia merasa kedahuluan  dari Jokowi. Makanya sekarang baru ketemuan sama netizen

Kedua, ia merasa harus membuktikan bahwa ia tidak layak ‘dikambinghitamkan’ karena kegagalan pemerintahan yang dipimpinnya di masa lalu. Sebagaimana ketersinggungannya atas pernyataan Darmin Nasution beberapa hari yang lalu. Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution saat memberikan kata sambutan dalam rapat kerja Kementerian Perindustrian di Jakarta, beberapa hari lalu, sempat mengkritik pemerintahan SBY yang terlambat membangun smelter. Hal itu terungkap dalam cuitannya di twitter, Kamis (18/2/2016), @SBYudhoyono “Hingga saat ini, SBY & Pemerintahan SBY masih sering dikambing-hitamkan & disalahkan oleh pihak yang tengah berkuasa,” curhatnya.

SBY merasakan  banyak pernyataan menyudutkan  dirinya dan pemerintahannya, antara lain  bahwa berbagai permasalahan yang muncul ini merupakan warisan atau akibat kesalahan pemerintahan SBY.

Maka, agar tidak terus disalahkan, SBY mengundang netizen untuk membahas masalah yang sedang hangat dan menjadi polemic publik, yaitu tentang revisi UU KPK. Seolah-olah ingin menunjukkan ini lho, saya masih bisa berkiprah untuk bangsa ini , jadi jangan kambing hitamkan saya lagi.

Ketiga, melalaui para netizen yang diundangnya, ia akan kembali menjadi sorotan dan berharap kembali popular di dunia maya, karena para netizen pastinya akan memperbincangkan ketemuannya dengan SBY. Ibaratnya ia akan moncer kembali tanpa susah payah.

Jadi begitulah, SBY ‘berkiprah’  kembali dan menunjukkan  kalau masih punya  ‘kaki’ dengan mengundang netizen dari berbagai daerah.

Bisa jadi, kedepan ia akan mengundang banyak netizen lagi untuk mendengarkan keluh kesah, pendapat mereka akan sesuatu hal.

Boleh jadi, suatu saat ia juga  blusukan seperti Jokowi.

Silahkan pak Beye, asal tidak seolah-olah masih menjadi presiden saja, ya. Ingat, bapak sudah purna tugas sebagai presiden.

Sumber : Kompasiana

 

 

 

 

 

 

 

 

Sunday, February 21, 2016 - 09:45
Kategori Rubrik: