SBY Tawarkan Anak Ke Parpol Demi Kursi Cawapres

Ilustrasi

Oleh : Ali Winata

Jika anda ingin tahu figur yang cerdas, cerdik, oportunis, dan tahu memanfaatkan momentum, tirulah pak SBY. Dahulu dia berhasil meraih kursi presiden mengalahkan Megawati, berkat pencitraan dirinya sebagai korban sebuah perilaku dzolim dari Megawati atasannya. Sentimen emosi dalam bentuk simpati dan empati dia kantongi dan berhasil dikonversi menjadi suara terbanyak di Pilpres langsung 2009.

Partai Demokrat dibidani oleh SBY, bukti bahwa dirinya sangat visioner dan tahu bagaimana kekuasaannya harus dilegitimasi dan dijaga untuk jangka panjang. Memiliki parpol, menjadi ketumnya, dengan AD ART partai yang disetting sedemikian rupa agar kewenangannya sangat besar dan luas, adalah bukti bahwa manajemen politik ala SBY bisa diaplikasi dengan baik.

2 periode terpilih sebagai Presiden walaupun kader kadernya di Demokrat banyak kesandung kasus korupsi dan jadi tumbal politik, tetaplah prestasi yang patut diapresiasi. Terlepas ada kasus candi Hambalang dan Bank Century, anggap saja itu musibah, eh, cobaan.

Langkah kuda SBY yang nekat mencabut anaknya AHY dari militer untuk disertakan di kontestasi Pilkada DKI adalah tindakan yang brilian. Orang bilang ini tindakan ngawur, bodoh dan nekat. Tapi bagi saya, ini bukti betapa jeniusnya SBY mengambil momentum. Tempo 2 minggu sebelum pendaftaran cagub ditutup, di ranah publik masih beredar nama nama seperti Yusril dll. Eh tahu tahu habis rapat di rumah SBY, poros koalisi Demokrat memunculkan nama AHY. Publik terhenyak, begitupun Panglima TNI yang bengong tahu tahu ada perwira berpangkat Mayor mundur dari kesatuannya. Itulah SBY, visioner dan jenius.

SBY tahu bahwa AHY tak mungkin menang di Pilkada DKI. Tapi legitimasi AHY sebagai pangeran dan ahli waris dinasti SBY di "kerajaan" Demokrat sudah menghujam di benak publik. AHY yang bukan siapa siapa selain anak SBY, tiba tiba melakukan lompatan kuantum luar biasa melewati kader kader terbaik Demokrat yang merintis karir sejak lama. AHY pun laku di media sebagai konten berita.

Mau bukti bahwa pak SBY jenius? Lihat saja di Pilpres 2019 nanti. AHY yang 18 bulan lalu masih berseragam militer, tiba tiba (mungkin, berpeluang) mendapat tiket cawapres mendampingi Prabowo. Kalau bukan tangan dingin seorang SBY, lompatan kuantum seperti ini tak mungkin terjadi.

Lihatlah kerja keras SBY kesana kemari mengasongkan anaknya. (Hmm, koq mirip kacang rebus jika pakai kata 'mengasongkan'). Publik yakin seyakin yakinnya bahwa misinya adalah menyodorkan AHY sebagai cawapres. Barangsiapa berani menerima syarat memilih AHY sebagai cawapresnya, pasti pak SBY tak keberatan membawa Demokrat sebagai mitra koalisi.

Konon Gerindra dan Demokrat sudah deal untuk berkoalisi. Artinya slot cawapres bagi AHY sudah didepan mata. Jika belum diumumkan, ini lebih karena etika menghormati ulama ulama Monas. Mungkin saat ini SBY PS dan HRS lagi membentuk grup WA bertiga untuk permisi dan koordinasi. Tak enak menepikan Salim Segaf dari nominasi cawapres. Harus ngomong baik baik kepada HRS supaya tidak dianggap mengabaikan rekomendasi ulama, apalagi menelikung.

Mantap ya pak SBY. Ortu mana yang sehebat dia, bisa menyiapkan jalan bagi anaknya menjadi cawapres. Menang kalah urusan nanti, karena usia AHY masih muda, masih berpeluang maju di th 2024 nanti, saat yang senior senior (angkatannya Lin Dan serta Lee Chong Wei) sudah pensiun. AHY sudah punya portofolio yang meyakinkan.

Sebagai bapak, sebagai ortu, SBY sangat pantas diteladani. Dia all out melakukan yang terbaik bagi anaknya. SBY lakukan do the best, more than expectation for his son.

Tapi sebagai ketum partai, dia memberikan contoh yang sangat buruk. Kader kader terbaik partainya sendiri diabaikan demi memberi tempat bagi AHY anak kandungnya. Sebagai negarawan dia juga mempraktekkan politik dinasti di alam demokrasi. Sungguh terlalu! Anak bau kencur koq mau coba coba menjadi pemimpin ratusan juta rakyat Indonesia, seperti tak ada yang lainnya.

Sumber : Status Facebook Ali Winata

Wednesday, August 1, 2018 - 20:30
Kategori Rubrik: