SBY Netral Pada Pilkada Putaran Kedua?

Oleh : Sutriyadi

Hari H putaran kedua Pilgub DKI semakit mendekat. Paslon yang lolos, Ahok dan Anis tampaknya sudah menyusun strategi dan tancap gas di belakang layar guna menggalang dukungan sebanyak-banyaknya.

Dari berbagai macam cara tak elak bahwa Ahok dan Anis saling kebut dan saling sikut guna meluluhkan hati Cikeas agar bisa diajak kompromi untuk membangun Jakarta. Paslon yang tidak lolos ke putaran kedua Agus-Syilvi itu tentunya menjadi sentral dan memegang kendali laju suara setianya 17 persen itu.

Pilgub DKI kali ini mengingatkan kembali memori Pilpres 2014 silam, antara Jokowi dan Prabowo mereka sama-sama berseberangan, lalu dimanakah posisi SBY saat itu? Ia memilih netral "katanya". Lantas apakah dampak dari kenetralan SBY?

Di mata masyarakat mantan presiden ke-6 itu masih cukup apik. Ia seorang negarawan sejati yang menjadi pusat perhatian dan sebagai sosok yang pernah dielu-elukan.

Mungkin sebagian orang merasa bahwa kenetralan ketua umum Demokrat itu adalah bentuk golput yang murni, kalau memang benar kemankah pengikut setianya? Apakah masih setia atau telah mencari idola yang baru?.

Berbicara soal politk sepertinya tidak jauh berbeda dengan sepak bola keduanya memiliki beberapa kesamaan yang diantaranya adalah fanatisme, gengsi dan rivalitas.

Kita tahu bahwa seorang madridistas tidak akan mengakui kehebatan Lionel Messi di depan umum, begitu juga sebaliknya barcelonistas tak akan mungkin mengakui seorang Cristiano Ronaldo sebagai pemain terbaik dunia.

Pelatih Timnas Thailand, Kiatisuk Senamuang pernah menyebut suporter Indonesia paling fanatik di Asia Tenggara.

Nah, fanatisme, gengsi dan rivalitas tidak hanya ada dalam stadion ketika menyaksikan si kulit bundar di rumput hijau, tapi kecintaan dan kesetiaan suporter akan tetap dibawa pulang dan bahkan sampai mati. Sebab, sebelum mereka menjatuhkan kecintaannya kepada salah satu pemain atau klub, ia sudah memiliki perspektif yang matang.

Secara garis besar timbulnya fanatisme kepada idola diantaranya keperibadian tokoh, prestasi, dan hubungan geografis. Itu artinya masyarakat Indonesia masih menjadi penganut fanatism.

Politik juga demikian, sehingga timbullah Jokower Ahoker dan kelompok-kelompok tertentu yang mengatasnamakan dan kecintaannya kepada salah satu tokoh politik atau organisasi.

Sepak bola dan politik sama-sama tidak bisa ditebak, masih menjadi misteri di penghujung laga. Bisa jadi sekarang kawan besok menjadi lawan, dan lawan menjadi kawan. Bisa jadi leg/putaran pertama kalah telak tapi tidak menutup kemungkinan bahwa di leg/putaran kedua berbalik angka.

Seperti kita ketahui posisi Anis di Pilpres 2014 ia berseberangan dengan Prabowo, sekarang ia menjadi striker kesayangan kepala burung garuda yang di harapkan dapat mendobrak kokohnya benteng pertahan moncong putih. Dulu seorang bos yang menjadi petarung di atas ring kali ini anak buah mereka yang beradu taring.

Di sisi lain seorang Agus yang kita sebut anak bawang dalam dunia politik tidak bisa dipandang sebelah mata, karena ayahnyalah yang mengantarkan pengikutnya jatuh cinta kepada anak pertamanya.

Selain dikenal masih "suci", orang-orang yang jatuh hati kepada kepemimpinan SBY berharap Aguslah yang akan melanjutkan gaya kepemimpinan sang ayah dalam dunia politik, melihat mantan presiden ke-6 tersebut tak akan bisa kembali menjadi seorang pemimpin tanah air.

Menebak hubungan Megawati-SBY-Prabowo, yang sama-sama menjadi pemimpin dan pemegang teguh ideologi partai. Kemanakah mantan presiden kelahiran Pacitan itu akan berlabuh.

SBY-Prabowo, hubungan keduanya tidaklah serumit SBY-Mega. Seluk-beluk rivalitas dan aktualitas keduanya masih belum terangkat ke media sosial. 

Sedangkan hubungan Megawati dengan eks anak buahnya itu mulai retak pada 2003 saat muncul isu SBY akan maju sebagai capres.

Presiden pertama Indonesia melalui jalur pemilu itu mengakui bahwa ia memiliki hubungan yang kurang harmonis sehingga dalam bukunya Selalu Ada Pilihan ia mengaku berulangkali mencari cara untuk memperbaiki hubungannya dengan Mega.

Namun, hingga buku itu diterbitkan, jalan untuk berkomunikasi dengan mega tetap saja tertutup (dalam: Curhat SBY Soal hubungannya dengan Mega).

Berikut kronologi konflik keduanya, disarikan dari buku Prof Tjipta Lesmana Dari Sukarno Sampai SBY Intrik & Lobi Politik Para Penguasa (dalam: Kronologi Konflik SBY-Mega)

9 Maret 200:  SBY mengirim surat pada Megawati, isinya konsultasi tugasnya sebagai menko Polkam. Megawati tak membalasnya.

11 Maret 2004: SBY mengirim surat pada Megawati, mengundurkan diri sebagai Menko Polkam.

16 September 2004: ‘Debat capres’ di televisi. Mega berpesan pada panitia bahwa tidak ada acara jabat tangan antar sesama capres.

20 Oktober 2004: SBY membacakan sumpah presiden. Mega yang diundang menolak datang dengan alasan agar khusyu mendoakan acara SBY itu berjalan lancar. Faktanya, Mega memilih berkebun dan membaca buku di rumahnya di Kebagusan, Jaksel.

Tahun 2005: Indonesia menjadi tuan rumah Peringatan 50 Tahun Konfrensi Asia Afrika. Presiden SBY Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro untuk mengirim undangan pada Mega, sebab Purnomo dinilai dekat dengan Mega. Mega menolah menerima Purnomo. (nrl/iy). (telah diringkas kembali oleh penulis)

 

Kembali ke DKI, Akhirnya Megawati bersama Nasdem, Hanura, Golkar mengusung dan mendeklarasikan Ahok-Djarot untuk bertarung di Pilgub DKI. Prabowo masih berharap penuh kepada Demokrat agar dapat berkoalisi untuk membentuk poros partai-partai Islam guna menghadang laju kekuatan petahana.

Namun tarik menarik yang cukup alot menguras kesabaran Gerindra sehingga dibentuklah Anis-Sandi. Bagi SBY peta politik kekeluargaan sepertinya kurang responsif, meskipun Prabowo penah menggandeng Hatta dalam pilpres 2014, hal itu tak membuatnya patah hati, ia tetap pada pendiriannya untuk besikap netral. Alhasil Prabowo-Hatta kalah oleh Jokowi-JK.

Melihat situasi yang ada, kematangan SBY dalam berpolitik tidak membuatnya buntu. Manuver mantan Menteri Pertambangan dan Energi era Abdurrahman Wahid harus menarik anak pertamanya dari dunia militer untuk ikut serta dalam kontes demokrasi.

SBY sudah tahu bahwa ia takkan bisa mengalahkan petahana, namun ia memperebutkan posisi kedua. Jika Anis kalah maka dengan penuh keyakinan Prabowo akan merapat ke Demokrat dengan alasan Ahok pernah melukainya.

Jika SBY yang kalah atau di posisi tiga maka suara anaknya akan menjadi suara berlian yang akan diperebutkan oleh paslon yang lain. Sama-sama menguntungkan.

Sekarang, setelah Demokrat tersingkir kemanakah Agus akan memihak?

Berbicara Agus tentunya kita tahu siapa penguasa Cikeas. Agus hanyalah media yang diharapkan menjadi mesin kekuatan partai berlambang bintang bersinar tiga arah. Ia akan takzim kepada intruksi sang nahkoda Demokrat.

Maka dari itu jika langkah SBY hanya diam di tempat seperti posisinya saat pemilu 2014 saya kira itu sinyal kepada Mega bahwa SBY tetap ingin memperbaiki hubungan (“merajuk”) seperti yang pernah ia sampaikan dan itu akan menguntukan bagi Ahok.

Tapi apabila SBY merapat ke Anis maka akan mempersuram hubungannya dengan bos moncong putih dan menjadi serangan balik yang mematikan bagi Ahok. Kemenangan akan jatuh kemana SBY-Agus berlabuh, tapi ini politik sama dengan sepak bola yang penuh misteri dan penuh gengsi.

Ah, politik tidak sebercanda ini.**

Sumber : Qureta

Wednesday, March 1, 2017 - 10:30
Kategori Rubrik: