SBY, Bapak Yang Tidak Pernah Bahagia

Oleh : Made Supriatma

Bapak yang paling tidak bahagia sedunia, itulah kesimpulan saya atas presiden RI 2004-2014, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Bapak Mantan Presiden ini kemarin dikutip media mengeluh lagi. Dia tidak berhenti-hentinya mengeluh. Semua saluran dia pakai: mulai dari Twitter, wawancara, hingga panggung kampanye.

Kemarin, di laman seorang teman saya sempat menggelari dia “The Whining President“. Dalam kosa kata Bahasa Inggris, to whine artinya merengek atau merajuk terus-menerus. Sedikit-sedikit mengeluh. Sedikit-sedikit menggugat. Selama beberapa minggu terakhir ini, entah berapa kali saya melihat media menyiarkan rengekan dan rajukan Bapak Mantan Presiden ini. Kadang, sehabis merengek, dia menyisipkan “ancaman” seperti “Apa tidak takut pada Tuhan YME?” atau yang semacam itulah. Senang sekali beliau ini mengajak-ajak Tuhan untuk ikutan merajuk.

Dilihat dari standar apa pun, sulit untuk menandingi kesuksesan hidup Bapak Mantan Presiden. Dia seorang tentara yang mengakhiri karier militernya sebagai Jenderal. Dia dianggap bintang di kalangan militer Indonesia. Dia menikah dengan anak Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, mantan Komandan RPKAD, yang pasukannya pada akhir tahun 1965 hingga awal 1966 menjadi malaikat pencabut nyawa bagi ratusan ribu orang di kota-kota Jawa dan Bali yang mereka lewati.

Aneka jabatan dan pekerjaan pernah dia lalui. Karier militernya mulai dari komandan terendah setingkat kompi hingga menjadi ajudan pribadi Soeharto, mantan Danrem, dan akhirnya sebagai Kassospol ABRI. Dia pernah menjadi Menteri di beberapa Kabinet sebelum akhirnya dua kali menjabat Presiden Republik ini.

Pendidikannya juga tidak kurang hebatnya. Dia lulusan Sekolah Staf dan Komando di Fort Benning, Amerika Serikat. Dia juga meraih gelar master di Webster University, juga di AS. Meraih gelar doktor di IPB dan sekarang menjadi profesor di Universitas Pertahanan.

Oh, semua ini tidak lengkap kalau tidak menyinggung prestasinya di bidang seni. Dia adalah pengarang lagu dan penyanyi. Dia juga cukup andal memainkan alat musik, minimal gitar. Dia merilis tiga album lagu Rinduku Padamu (2007); Evolusi (2009); dan Ku Yakin Sampai di Sana (2010). Itu masih belum cukup. Masih ada satu buku puisi Taman Kehidupan (2004) yang dicetak hingga dua kali. Sangat jarang ada buku puisi yang dicetak ulang.

Tidak diragukan lagi, Bapak Mantan Presiden ini adalah selengkap-lengkapnya manusia. Prestasinya ada di kiri dan di kanan. Di atas dan di bawah. Keluarganya jelas bahagia dan berkecukupan. Dua anaknya sudah besar dan sudah menikah dan memberinya cucu-cucu yang lucu. Salah satu anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono, pernah menjadi tentara dengan karier yang persis seperti jalur bapaknya. Namun di tengah jalan memutuskan untuk jadi politisi penuh. Bersama saudaranya yang lain sekarang dia mengelola Partai Demokrat, di mana sang ayah menjadi ketuanya.

Jika saja Bapak Mantan Presiden ini orang biasa, dia pasti akan pensiun dan beristirahat. Kalau dia bukan SBY, dia pasti akan menghabiskan waktunya menikmati hidup: berkebun, memelihara binatang, pesiar keliling dunia, membaca buku-buku bagus yang terlewatkan tidak terbaca selama hidup, bercengkerama dengan istri, anak dan cucu, yang dulu kerap ditinggalkan untuk mengejar karier dan mengurus negara. Atau, seperti mantan-mantan presiden Amerika (negara yang pernah diakunya sebagai negara keduanya!), dia akan membangun perpustakaan yang mengabadikan segala hal tentang administrasi pemerintahannya selama sepuluh tahun itu.

Sayangnya, dia adalah SBY. Dia tidak bisa berhenti dan tidak tahu kapan harus berhenti. Dia masih ikut campur dalam persoalan politik sehari-hari. Orang masih ingat bagaimana anaknya yang mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta tahun 2016. Saat itu, Bapak Mantan Presiden ini membuat seolah-olah dialah yang berlaga dalam pemilihan.

Sekarang pun demikian. Sebagai politisi, kulitnya teramat tipis. Sedikit saja serangan, akan membuatnya mengeluh dan pergi ke Twitter untuk mencurahkan keluh kesahnya.

Semua ini membuat saya berpikir: Si Bapak Mantan Presiden ini hidupnya pastilah sangat tidak bahagia. SBY selalu merasa kurang. SBY selalu merasa bahwa dia harus berada di pusat kekuasaan dan pusat perhatian. Ada semacam narsisme egosentrik yang sangat kuat.

Ketidakbahagiaan ini juga membuatnya jarang tersenyum di depan publik. Saya baru sadar bahwa saya tidak pernah sekali pun mendengar dia melontarkan lelucon. Kecuali bahwa dia menjadi target banyak orang sebagai lelucon. Hal yang paling berkesan untuk saya adalah ketika dia murka saat berpidato di depan anak-anak pada Hari Anak Nasional. Anak-anak malang ini mengantuk mendengar pidato yang tidak dimengertinya.

Orang yang bahagia dan gembira adalah orang yang mampu mentertawakan dirinya sendiri (self-depreciating). Lelucon dan bermain seraya mengejek diri sendiri rasanya tidak bisa masuk ke dalam diri Bapak Mantan Presiden ini.

Sekaligus juga saya merasa kasihan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHaY), putranya yang sekarang terjun penuh ke politik. Tidak dapat disangkal AHaY adalah politisi dengan modal yang cukup baik. Terdidik. Penampilan fisik baik. Walaupun kadang masih kelihatan canggung, itu bisa dipoles seiring waktu.

Adakah yang bisa membuat Bapak Mantan Presiden ini bahagia?

Sumber : geotimes

Wednesday, June 27, 2018 - 12:30
Kategori Rubrik: