#SayaBersamaMeiliana. Renungan Ied tentang berkurban.

Ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

Di kampung Ibu saya di Bogor, tradisi malam takbiran dirayakan dengan memukul bedug dan takbir semalam suntuk. Tempatnya di gang persis sebelah rumah, pakai pengeras suara, kerasnya bukan kepalang. Sakit telinga kami semalaman. Saat dulu alm ayah saya sakit, kami biasa mengungsikan beliau ke rumah saya, demi kenyamanan istirahat beliau.

Ibu saya bukan perempuan lemah, sama sekali bukan. Setahun, dua tahun, tiga tahun masih ditahan-tahan, sampai akhirnya beliau sendirian mengkonfrontir pengurus DKM masjid. Berhenti akhirnya rutinitas tsb. Malam takbiran, baik Ied Fitri maupun Ied Adha, bisa kami lewati dengan takbiran yang sejuk.

Meiliana, melakukan protes yang sama terhadap suara adzan. Di kampungnya di Tanjung Balai. Sama caranya dengan ibu saya. Sama alasannya. Tapi sementara kami anak-anak Ibu mendukung tindakan tsb, suami Meiliana buru-buru minta maaf pada DKM Masjid.

Sayangnya permintaan maaf tidak berguna. Orang kampung Meiliana termakan hasutan, karena yang melakukan protes seorang beragama Budha dan peranakan Cina. Berakhir dengan kerusuhan masal dan penghancuran kelenteng dan vihara di sekitarnya.

Menurut Anda, mana yang berdasarkan Pasal 156a KUHP “Barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia”, melakukan tindakan yang perlu diusut secara hukum: ibu saya, Meiliana, atau perusak kelenteng dan vihara?

Cerita berakhir dengan Meiliana, ibu miskin tersebut, dipenjara 1,5 tahun dengan tuduhan: menista agama Islam. Kenapa ibu saya tidak dicap menista agama? Tentu Anda tahu jawabannya: ibu saya muslim, aktif sebagai penggerak pengajian di kampungnya. Kenapa para perusak kelenteng/vihara itu tidak dicap menista agama? Nah sila jawab sendiri.

Di hari Ied Qurban ini, mari merenung terhadap fakta realitas ummat kita, bukan mendekam dalam angan-angan normatif dan glorifikasi ummat Islam saja, semata karena “itu kelompok saya”. Justru karena ‘itu kelompok saya’, Anda adalah orang pertama yang bertanggung jawab membelejeti realitas gelapnya, untuk kemudian mencari perbaikannya. Apalagi kalau gejalanya sangat masif.

Mengapa hal seperti adzan dan takbiran dianggap sakral dan tidak boleh digugat? Mengapa identitas pemrotes bisa melahirkan respon berbeda? Mengapa MUI setempat malah menempelkan stempel penistaan agama pada yang memprotes dengan cara benar, bukannya pada yang jelas-jelas merusak tempat ibadah agama lain?

Saya bersama Meiliana. Biarlah Meiliana menjadi simbol pengingat kita di hari qurban ini. Seberapa jauh kita sudah mengikuti tuntunan Islam untuk mengkurbankan (mengikis) ego-ego diri kita, atau justru simbol-simbol agama tlah menebalkan ego kita, dan menjadi berhala (ilah) yang kita sembah.

#SayaBersamaMeiliana 
#FreeMeiliana

Sumber : Status Facebook Chitra Retna

Wednesday, August 22, 2018 - 19:30
Kategori Rubrik: