Saya, Zakir Naik dan Perbandingan Agama

Oleh: Aldinshah Vijayabwana
 

Orang awam kalau melihat cara saya mengritik Dr. Zakir Naik mungkin mengira bahwa saya ini benci dengan beliau, kepanasan dengan ilmu perbandingan agama, kurang iman, dll. Padahal faktanya kalau soal membandingkan agama, saya juga sering melakukan.

Seringkali saya diskusi dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan saya. Paling sering dengan kaum-kaum yang dijadikan samsak tinju oleh Dr. Zakir Naik, yaitu umat Kristen dan Katholik. Salah satu teman dekat saya di kampus adalah seorang Kristen, dan saya juga aktif bergaul di WA dalam grup yang sebagian besar anggotanya beragama Katholik. Waktu saya masih sering main keluar (sebelum hidup FK menyerang), saya sering bertemu dengan tetangga-tetangga saya yang beragama Kristen, berdiskusi tentang banyak hal termasuk pula mengenai keyakinan kami. Ayat Quran, hadist, ayat Alkitab, dan semacamnya juga sering kami keluarkan dalam diskusi ini.

 

Bedanya saya dengan Dr. Zakir Naik, saya pada porsi saya. Yang saya keluarkan kalau pakai dalil agama, ya ayat Al-Quran dan hadist. Itu juga kalau memerlukan tafsir, saya nggak main tafsir sendiri. Begitu pula kawan diskusi saya, yang Kristen dan Katholik ya keluarkannya ayat Alkitab dan jika perlu tafsirannya. Tidak pernah kami 'melanggar batas' dengan bawa-bawa ayat agama lain dengan tafsir serampangan.

Bedanya lagi, kami diskusi perbandingan agama ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan keyakinan di antara kami sampai detail tanpa saling membandingkan mana yang lebih benar. Jadi mengapa berbeda, bagaimana berbedanya, begitu. Bukan untuk membandingkan mana yang lebih benar, karena yang seperti itu sampai lebaran jangkrik cuma jadi debat kusir. Setelah itu, ya sudah selesai. Tidak saling membenci hanya karena berbeda keyakinan. Pokoknya kami tahu perbedaannya secara detail, dan menyadarinya sebagai keragaman. Kadang kami juga mengidentifikasi kesamaan nilai yang dapat diterapkan secara sinergis antaragama.

Selain itu, kadang-kadang kami berdiskusi untuk saling mengetahui hal-hal yang unggul dalam konteks sosial budaya dari masing-masing agama, yang harapannya dapat dicontoh demi kemajuan bersama. Sebagai contoh saya yang Islam belajar dari orang Katholik bagaimana kuat dan tertatanya tatanan kepemimpinan agama mereka dari tingkat dunia hingga tingkat kecamatan, dan tertatanya sistem pendidikan pemuka agama mereka. Teman nonmuslim belajar bagaimana sistem pengajaran Islam di pesantren dapat menghasilkan ulama yang berpengetahuan luas dan bersikap bijaksana. Kami saling menyadari keunggulan dan kelemahan perkembangan agama kami dan saling mencari solusi untuk itu.

Yah, yang jelas saya tetap tidak akan dipuja-puja dalam hal perbandingan agama sebagaimana Dr. Zakir Naik. Karena, selain saya tidak mengharapkan itu, tujuan saya beda. Saya tidak membandingkan agama untuk merendahkan keyakinan agama lain. Saya membandingkan agama untuk saling mengerti dan memperkuat persatuan dalam keragaman.

 

(Sumber: Facebook Aldinshah)

Thursday, April 13, 2017 - 12:00
Kategori Rubrik: