Saya Tidak Mau Menjadi Manusia Biadab

ilustrasi
SAYA TIDAK MAU MENJADI MANUSIA BIADAB
Oleh : Asrof Husin
Kematian petugas medis dan kesehatan di Indonesia disebut menjadi yg tertinggi di Adia dan nomor 3 terbesar diseluruh dunia.
IDI menyatakan tenaga medis yg wafat akibat Covid-19 sepanjang pandemi di Indonesia berlangsung mulai maret 2020 hingga pertengahan Januari 2021 telah mencapai total 647 orang.
Di Sumatera utara sendiri yg meninggal dunia ada 26 dokter, 1 dokter gigi, 3 perawat dan 9 bidan.
Sewaktu kasus Permadi Arya/Abu Janda, ramai ormas2 yg marah dan ada yg nyuruh tangkap, ramai disiarkan ditv. Dan berbeda dgn kasus 4 tenaga medis ini, ormas2 sepi, bungkam, sepi dari pembelaan.
Selama Pandemi covid-19 para petugas medis ini adalah pahlawan, merekalah yg betul2 berjuang utk kemanusiaan dgn mempertaruhkan nyawa mereka, mereka juga punya keluarga, punya istri dan anak, bahkan ada yg jarang pulang, tetapi mereka tetap terus bekerja mempertaruhkan nyawa demi kemanusiaan.
Apakah kita simpati dan empati dgn para petugas medis ini ? Apakah jika ada petugas medis yg meninggal dunia kita sedih ?
Teryata sebagian tdk ambil peduli, bahkan mereka ada yg dikriminalisasi dgn tuduhan penistaan agama dan penjarapun menunggu mereka, sangat menyedihkan bahwa selama ini mereka ikhlas pertaruhkan nyawa tapi balasannya penjara. Cobalah merenung dan menatap cermin bahwa apakah sudah menjadi manusia beradab ataukah manusia biadab ?
Yang jihad sebenarnya dan mati syahid sebenarnya adalah para petugas medis yg meninggal dunia karena melayani/mengobati pasien covid-19 lalu terinfeksi, tempat mereka adalah surga.
Berkali2 pasal karet penistaan agama dijudicial review ke MK tetapi terus ditolak. Jika pasal karet ini tidak bisa dihapus maka harus direvisi total, karena hanya menjadi senjata kaum radikal, mereka kaum radikal ini selalu menggunakan cara2 lama dlm pemaksaan hukum sedangkan aparat baru didemo dikit aja langsung ketakutan dan cepat2lah ditetapkan sbg tersangka penistaan agama.
Jujur, jika seandainya istri atau anak perempuan saya terinfeksi Covid-19 dan meninggal dunia, kemudian petugas pemulasaran jenazahnya belakangan saya mengetahui bahwa lelaki, saya tidak akan ribut, saya tidak akan mempermasalahkan, saya harus bijak karena ini keadaan darurat dan bukan pelecehan, keterpaksaan karena tidak ada nakes wanita, ini sudah sesuai protokol kesehatan dan saya tidak mau menjadi manusia biadab. Saya akan tetap harus menundukan badan saya untuk memberi penghormatan kpd para tenaga medis ini.
Jika saya marah, lalu melaporkan dgn penistaan agama dan para petugas tsb harus dipenjara, apakah tindakan saya ini Tuhan suka ?
Yang saya takutkan, malah Tuhan akan marah lalu bilang " Kau manusia biadab dan tempat kau neraka ".
Siang malam sibuk ibadah, tdk hentinya2nya menyebut nama Tuhan, teryata semua itu hanya rutinitas ritual yg hampa makna, hanya sampai tenggorokan dan tidak pernah sampai kehati, tidak pernah tahu makna agama, bukan berusaha membersihan hati untuk menjadi manusia beradab, tetapi sebaliknya menjadi manusia biadab.
SALAM DAMAI.
ROF SIN.
Sumber : Status Facebook Asrof Husin
Friday, February 26, 2021 - 08:15
Kategori Rubrik: