Saya Percaya Kompas dan Ninuk Mardiana

Oleh: Dimas Supriyanto

 

Beberapa bulan lalu saya dibuat terkejut melihat boks redaksi KOMPAS, karena ada yang berubah di sana. Yakni koran KOMPAS memiliki pemimpin redaksi baru : Ninuk Mardiana Pambudy. Ini sejarah - karena untuk pertamakalinya lembaga redaksi KOMPAS dikemudikan oleh seorang wartawati.

Meski kami tidak saling kenal secara pribadi, bagi saya Ninuk bukan orang jauh, apalagi orang asing. Dia jurnalis profesional dengan jam terbang 36 tahun. Rekam jejaknya mudah ditelusuri bukan hanya pada rentang waktu dedikasinya yang panjang, melainkan juga kualitas karya jurnalisik yang dihasilkanya. Di dunia pers, saya dan Ninuk seumuran dan seangkatan . Ninuk gabung di KOMPAS setelah lulus sarjana IPB tahun 1983.

 

 
 

Bersamanya masuk ke KOMPAS, Tri Sabdono dan Maria Hartiningsih serta Christ Pudjiastuti. Tri Sabdono - yang kemudian dikenal menjadi Bre Redana - adalah sahabat sepeliputan di bidang budaya - bersama Mas Efix Mulyadi dan Mas JB Kristanto sebagai senior yang sesekali ke lapangan.

Nama Ninuk Mardiana pertama disebut dan diperkenalkan kepada saya oleh Mas Tony Widiastono, wartawan senior yang ngepos di Departeman Pendidikan dan Kebudayaan - dimana saya ngepos juga di sana, berbarengan dengan pergantian kabinet dan serah jabatan dari menteri lama Prof. DR. Daoed Joesoef kepada menteri baru Prof Dr. Nugroho Notosusanto.

"Itu Ninuk anaknya Pak Moerdiono, " tunjuk Mas Tony dari jauh memperkenalkan juniornya. "Moerdiono Mensesneg? " tanya saya heran. Mas Tony mengangguk. "Lulusan IPB tapi mau jadi wartawan, " katanya.

Masa itu lulusan IPB dan ITB memang banyak yang terjun ke jurnalistik dan jadi wartawan - sampai ada plesetan IPB sebagai "Institut Penulisan Bogor" dan ITB menjadi "Institut Tulis-menulis Bandung"

Zaim Uchrowi, wartawan TEMPO, rekan sepeliputan di Dep Dikbud juga lulusan IPB. Dia kemudian pindah ke REPUBLIKA dan belakangan jadi Direktur PN Balai Pustaka. Sedangkan Arya Gunawan dan Sujiwo Tejo – sebelum jadi dalang - masuk di KOMPAS dengan latar belakang pendidikan ITB.

Dalam masa orientasi, Ninuk didampingi Mas Tony ketika meliput di DepDikbud di Senayan - sebagainana saya didampingi senior, Mas Bagus Sudharmanto ketika pertama orientasi ke polsek polsek dan polres - sebagai wartawan baru peliput kriminal.

Yang saya kenangkan dari Ninuk Mardiana di awal 1980an adalah dia bertubuh kecil, berambut kriting, berkulit gelap dan terkesan pemalu.

Sebuah episode masuknya Ninuk ke KOMPAS diceritakan ketika dia dibonceng Vespa dan melewati jl. MH Thamrin di dekat Sarinah dan mobil ayahnya melintas di belakangnya. Lalu sopir dan ajudan melapor ke pria safari di mobil itu. "Pak, itu Mbak Ninuk digonceng Vespa!"

Mensesneg di pemerintahan Soeharto itu melihatnya dan kemudian menitikkan air mata. Letjen TNI Moerdiono menangis melihat putri sulungnya berpanas panas di boncengan Vespa.

Sebagai menteri era Orde Baru, tangan kanan Soeharto yang paling berkuasa di negeri ini - dia bisa menyediakan mobil mewah berikut sopirnya kalau putri sulungnya itu mau. Tapi Ninuk bukan type anak pejabat Orba pada umumnya. Dia memilih jadi wartawan dan berpanas panas di boncengan Vespa seperti reporter baru pada umumnya.

SAYA adalah wartawan otodidak yang belajar menulis dan mengenal ragam jenis penulisan berdasarkan karya rekan rekan lain, para senior dari berbagai media, selain secara berkala mengikuti pelatihan, seminar jurnalistik dan ikut ujian kompetensi di organisasi pers profesional. Selain jurnalisme ala TEMPO, yang saya idolakan, koran KOMPAS adalah rujukan kerja saya sehari hari. Di rumah saya melanggani keduanya selain di kantor juga ada. Sebagai bahan kajian dalam rapat redaksi. Saya bahkan melangani keduanya sebelum menjadi wartawan dan gabung di media – saat masih jadi penulis 'freelance'.

Maka tulisan tulisan KOMPAS yang terkait dengan liputan saya di bidang pendidikan, seni budaya (humaniora) saya baca, saya teliti dan amati, saya pelajari untuk meningkatkan diri. Berita berita dan artikel yang ditulis oleh wartawan berkode ‘ton’, ‘dn’, ‘mh’, ‘efix’, ‘XJB’, selalu saya baca awal. Juga ‘nmp’.

Jangan tanya hasilnya, ya. Lantaran otak saya pas pasan - ya hasilnya tetap saja saya segini ini. Awal 2000 saya pernah merasai jadi pemimpin redaksi majalah, tabloid, dan portal dotkom - tapi kemudian merosot lagi menjadi redaktur koran harian.

Tapi di era 1980-an dulu, semasa masih 'freelance', saya sempat juga nerima wesel dan ngambil honor di KOMPAS di Palmerah, karena ikut-ikutan mengirim tulisan lepas di rubrik resensi buku.

Dari KOMPAS, saya tak hanya lamgganan korannya melainkan juga buku bukunya. Dari kumpulan Kompasiana PK Ojong, liputan Thress Nio, Trias Kuncahyono, kumpulan cerpen dan buku tahunannya pun saya beli dan koleksi. Juga riwayat / memoar pak PK Ojong, Pak Jacob Oetama. Keduanya adalah Resi dan Begawan Pers Indonesia.

Sebagai lembaga pers terkemuka KOMPAS bukan lagi semata perusahaan penerbit koran tapi aset nasional, salah satu penjaga demokrasi, perawat ingatan para intelektual di Republik ini.

Ketiadaan KOMPAS dan TEMPO, menurut saya tak semata mata kehilangan penerbit media - tapi juga kehilangan tiang demokrasi negeri ini. Kehilangan lampu penerang bangsa ini. Saya pernah iku limbung, ketika dua media itu dibredel.

Oleh sukses binisnya KOMPAS menimbulkan iri hati. Kompas pernah menjadi sapi perah ormas militan - saat memberitakan transisi kekuasaan di Tunisia yang menimbulkan protes kaum fundamentalis di sini.

Kembali ke Ninuk Mardiana – yang setelah menikah menjadi Ninuk Mardiana Pambudy - jika kita bentangkan perjalanan jurnalistiknya dia sosok yang idealis dan jurnalis yang berbobot. Kredibel dan independen. Dia sedikit wartawati Indonesia yang berpengalaman mewawancarai dua peraih NobeL, tapi juga menulis buku tentang fashion. Selain menjadi anggota kelompok kerja Dewan Ketahanan Pangan Nasional sesuai ilmu yang disandangnya, jurusan Agronomi Fakultas Pertanian - IPB.

Jangan bandingan dengan saya - saya ini gak ada apa apanya.

Karena itu, sebagai sesama jurnalis, saya sangat sedih dan prihatin atas gelombang isu dan suara sumbang terkait dengan laporan survei terbaru KOMPAS pekan ini, dan sosok Ninuk sebagai penjaga gawang di jajaran redaksinya.

Meski survei menyebut elekabilias Jokowi turun dan Prabowo naik KOMPAS tetap menyatakan Jokowi yang akan menjadi pemenangnya dalam Pilpres 2019 ini. Hasil surveinya saya maknai positif untuk peringatan agar kita waspada.

Saya masih meyakini idealisme KOMPAS. Dan juga meyakini integritas Ninuk Mardiana. Seandainya dia gila jabatan tak perlu 36 tahun bekerja keras menjaga idealisme dan independensi, intens menulis, berkarya terus menerus, merintis karir dari bawah, dari reporter, editor, wakil pemimpin redaksi, hingga pemimpin redaksi. Merasai berpanas panas naik boncengan Vespa.

Karena dulu dia bisa mendapatkan semuanya, tanpa perlu bekerja. Dan tak perlu membikin Ayahandanya menangis justru karena menolak fasilitas mewah untuknya. ***.

Saturday, March 23, 2019 - 01:45
Kategori Rubrik: